RADAR24.co.id — Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH secara resmi membuka kegiatan Lokakarya Penyampaian Hasil Penelitian dan Temuan Lapangan Tim Ekspedisi Patriot yang berlangsung di Gedung Wanita Betelalenok Atambua, Kamis (27/1/2025).

Kegiatan ini merupakan puncak dari rangkaian penelitian lapangan selama lebih dari tiga bulan oleh Tim Ekspedisi Patriot dari IPB Bogor yang bertugas di 23 desa dalam kawasan Trans Tasifeto Mandeu.

Lokakarya ini turut dihadiri Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.Si, beserta anggota tim lainnya yakni Dr. Feryanto, S.P., M.Si, dan Dr. Suprehatin, S.P., M.AB, serta para pimpinan OPD, camat, kepala desa, lembaga adat, perwakilan petani, dan masyarakat dari desa-desa lokasi riset.

Dalam sambutannya, Bupati Belu mengajak seluruh peserta untuk bersyukur karena kegiatan lokakarya dapat terlaksana dengan baik. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim peneliti yang telah bekerja sejak kedatangan mereka ke Atambua pada 28 Agustus 2025 hingga laporan penelitian hari ini.

Bupati Belu menegaskan bahwa sebagai daerah perbatasan, Kabupaten Belu sangat membutuhkan riset ilmiah untuk mengetahui kondisi nyata, tantangan, serta peluang pengembangan wilayah.

“Hadirnya Tim Ekspedisi Patriot bukan sekadar menyampaikan laporan, tetapi membuka ruang dialog dan memperkuat visi bersama dalam membangun kawasan Transmigrasi Tasifeto-Mandeu yang telah masuk dalam 45 kawasan prioritas pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029,” tegas Bupati Willy Lay.

Bupati Willy Lay juga menyoroti secara khusus masalah utama yang selama ini menghambat pengembangan ekonomi masyarakat, yaitu keterbatasan sumber air serta infrastruktur jalan dan jembatan.

“Pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pertanian tanpa didukung sumber air memadai adalah hal yang mustahil. Solusinya adalah pembangunan Bendungan Welikis. DED-nya sudah ada, tinggal dieksekusi,” jelas Bupati Willy Lay.

Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan akses jalan dari lahan pertanian ke pasar. Menurutnya, peluang ekonomi sangat besar terbuka melalui program MBG yang membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah besar seperti sayur, buah, telur, ayam, dan lainnya.

Selain itu, Bupati Belu mendorong penguatan kelembagaan ekonomi seperti Koperasi Merah Putih di desa/kelurahan agar petani dapat menjual hasil panen dengan harga yang lebih baik dan tidak lagi bergantung pada tengkulak.

Bupati Belu juga menyampaikan bahwa laporan yang disampaikan tim bukan sekadar dokumentasi ilmiah, tetapi dasar penting dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan lintas sektor di masa mendatang.

“Data ini adalah fondasi untuk merumuskan kebijakan dan memperkuat perencanaan pembangunan daerah. Ini bukan akhir, tetapi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara IPB dan Pemerintah Kabupaten Belu,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan akan terwujud melalui sinergi antara dunia akademik yang membawa riset objektif, pemerintah yang memegang kendali kebijakan dan sumber daya, serta masyarakat sebagai pemilik ruang sosial dan budaya yang menjadi fondasi keberlanjutan pembangunan.

“Terima kasih kepada Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur AHY, Menteri Transmigrasi RI, serta seluruh pihak yang telah mendukung dan memfasilitasi jalannya riset Tim Ekspedisi Patriot.
Anda semua adalah bagian dari Belu. Belu adalah sahabat dan saudara. Anda adalah saudara orang Belu,” ungkap Bupati Belu, sembari menyampaikan apresiasi kepada Prof. Edi dan tim, serta permohonan maaf, bila selama berada di Belu terdapat kekurangan dalam pelayanan dari masyarakat maupun pemerintah daerah.

Menutup sambutannya, Bupati Belu berharap kerja sama antara IPB Bogor dan Kabupaten Belu dapat terus berlanjut.

“Mari bersama membangun Indonesia. Bangun NTT dari Belu Perbatasan RI–Timor Leste,” pungkasnya. (Prokopimbelu).