RADAR24.co.id – Tragedi kembali menimpa warga di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Kepala Desa (Kades) Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Darusman (50), tewas setelah diinjak kawanan gajah liar pada Rabu (31/12/2025) sekitar pukul 10.30 WIB.
Peristiwa nahas itu terjadi di perbatasan kawasan TNWK dengan lahan pertanian dan permukiman warga Desa Braja Asri. Saat itu, Darusman bersama warga dan petugas sedang berusaha menghalau kawanan gajah yang keluar hutan dan mendekati area perkebunan. Kawanan gajah tiba-tiba mengamuk, mengejar warga, dan Darusman tidak berhasil menghindar hingga akhirnya diinjak hingga tewas.
Menurut saksi mata, upaya penghalauan telah dilakukan sejak malam sebelumnya karena kawanan gajah—diduga belasan ekor—mulai memasuki lahan warga. Korban sempat mendapat perawatan intensif di rumah sakit setempat, namun nyawanya tidak tertolong.
Konflik antara manusia dan gajah liar di wilayah penyangga TNWK bukanlah hal baru. Desa Braja Asri berbatasan langsung dengan kawasan konservasi tersebut, sehingga sering menjadi koridor keluarnya gajah mencari pakan. Faktor pendorong (push factor) seperti minimnya pakan di dalam hutan akibat degradasi tutupan vegetasi, serta daya tarik (pull factor) berupa tanaman pertanian seperti padi dan jagung di luar kawasan, menjadi penyebab utama.
Pembina Ikatan Wartawan Online (IWO) Lampung Timur, Makruf Abidin, menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Darusman. “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga almarhum husnul khotimah,” ujarnya.
Makruf menjelaskan dari perspektif ekologi bahwa gajah memiliki home range luas hingga ratusan kilometer per kelompok dan daya ingat yang sangat kuat. “Manusia telah masuk jauh ke wilayah jelajah gajah, dan ada kasus di mana gajah membalas dendam bertahun-tahun kemudian terhadap mereka yang pernah mengusirnya dengan cara kasar,” katanya, merujuk pengalaman penelitiannya sendiri pada 2008 di Purbolinggo.
Ia juga menyoroti kapasitas daya dukung TNWK yang sudah rusak. Berdasarkan perhitungan kebutuhan pakan gajah dan ketersediaan vegetasi, kawasan tersebut idealnya hanya mampu menampung 8-15 ekor gajah saja. “Pagar listrik atau tanggul tidak cukup menghentikan naluri bertahan hidup gajah,” tambahnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Makruf menyarankan rehabilitasi hutan dengan penanaman kembali vegetasi asli, pengurangan populasi gajah secara manusiawi hingga batas ideal, serta penghindaran penanaman tanaman favorit gajah seperti jagung dan padi di zona penyangga.
Pihak Balai TNWK hingga kini masih melakukan pendalaman kronologi dan evaluasi mitigasi konflik. Konflik serupa di Lampung sepanjang 2021-2025 telah mencatat ribuan kasus, dengan korban jiwa dan luka yang terus bertambah.
Masyarakat dan pemerintah diharapkan berkolaborasi lebih intensif untuk mencari solusi berkelanjutan, demi keselamatan manusia sekaligus pelestarian gajah Sumatra yang terancam punah.



