RADAR24.co.id – Isak tangis dan kemarahan menyelimuti para orang tua siswa di Kabupaten Dairi menyusul tragedi keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar baru-baru ini. Tak sekadar musibah, insiden yang terjadi dua hari berturut-turut di SMK Swasta HKBP dan SMK Swasta Arina Sidikalang ini dinilai sebagai bentuk pengabaian serius terhadap keselamatan nyawa manusia.

Sibueya, salah satu orang tua dari Mey siswi kelas XII SMK Swasta HKBP Sidikalang yang menjadi korban tak mampu membendung kegeramannya. Saat ditemui awak media pada Sabtu (14/2/2026), ia secara tegas meminta aparat kepolisian segera turun tangan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) atau pengusaha dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Jujur saja, kami sebagai orang tua tidak bisa menerima ini. Ini bukan lagi soal kelalaian teknis, tapi soal nyawa anak-anak kami. Bagaimana mungkin kejadian serupa bisa terulang di hari kedua secara berturut-turut? Ini sangat aneh dan tidak masuk akal,” ujar Sibueya dengan nada tinggi penuh kekecewaan.

Baginya, ada ketimpangan tajam antara keuntungan yang dikejar pengusaha dengan risiko maut yang dihadapi siswa. Ia menuding pihak pengelola dapur hanya memikirkan aspek bisnis tanpa menerapkan standar keamanan pangan yang ketat.

“Mereka (SPPG/pengusaha) yang meraup untung, tapi kami para orang tua yang harus menanggung ‘buntung’. Anak kami sakit, nyawa terancam. Coba bayangkan jika mereka berada di posisi kami, apakah mereka terima jika anak mereka sendiri yang jadi korban?” cecarnya.

Desakan pemeriksaan polisi ini dianggap krusial mengingat program MBG menyasar ribuan siswa di Dairi. Jika tidak ada tindakan tegas, para orang tua khawatir kejadian serupa akan kembali terulang dan menelan korban yang lebih besar.

Berdasarkan data yang dihimpun, petaka ini bermula pada Senin (9/2/26) dan berlanjut hingga Selasa (10/2/26). Total korban yang tercatat mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan, yakni 266 siswa dari dua sekolah berbeda. Gejala yang dialami para siswa pun serupa, mulai dari mual, pusing, hingga muntah-muntah hebat setelah mengonsumsi paket makanan yang disediakan.

Kini, bola panas berada di tangan pihak kepolisian. Masyarakat Dairi, khususnya para orang tua korban, menanti keberanian aparat untuk mengusut tuntas siapa pihak yang paling bertanggung jawab di balik dapur MBG tersebut. Penegakan hukum menjadi harga mati agar nyawa siswa tidak lagi menjadi pertaruhan dalam pelaksanaan program pangan sekolah.