RADAR24.co.id — Nasib pilu menimpa jemaah umrah asal Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sitti Maemunah (79) yang diduga ditelantarkan hingga meninggal dunia di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi. Wanita lansia itu wafat saat penerbangan pesawat yang membawanya kembali ke tanah air tertunda alias delay selama 2 hari.
Seorang jemaah umrah berinisial CL (31) memaparkan kesaksiannya saat Maemunah meninggal ketika disangka cuma tertidur. Dia mengaku berbeda rombongan travel dengan Maemunah meski tergabung dalam satu pesawat.
“Tanggal 8 (Februari) siang itu meninggal nenek, memang ceritanya ada sakit bawaan asma, sudah tua dan sakit,” ungkap CL saat dihubungi detikSulsel, Rabu (11/2/2026).
Dia menjelaskan, rombongan jemaah umrah awalnya baru keluar hotel lalu menuju ke bandara pada Sabtu (7/2). Setibanya di bandara, rombongan jemaah umrah dibuat kecewa karena penerbangan pesawat maskapai Flyadeal tertunda.
“Setelah kita check-in, lama menunggu itu, lewat jam 11 harusnya kita sudah boarding. Setelah boarding naik ke pesawat, tiba-tiba 10 menit kemudian kita disuruh langsung turun pesawat semua penumpang bersama barang bawaan koper di kabin,” jelasnya.
Rombongan jemaah pun diminta turun dari pesawat menuju terminal dan diminta menunggu tanpa kejelasan dari maskapai. Para penumpang bahkan tidak diberi kompensasi berupa makanan dan minuman saat menunggu.
“Sampai jam 4 sore semua penumpang kelaparan karena tidak dikasih snack, tidak dikasih minum, tidak ada sama sekali informasi. Semua penumpang kelaparan dan di situ situasinya dalam terminal,” ucapnya.
Dia mengaku beberapa jemaah umrah hanya memilih makan mie instan yang dijual di terminal karena tidak ada makanan lain. Beberapa penumpang yang kesal di tengah kondisi kelaparan sempat mengajukan protes ke pihak maskapai hingga terjadi perdebatan
“Mereka sempat berdebat, kita minta kompensasi apa, tapi orangnya tidak bisa jelaskan apa-apa. Dia tidak bisa kasih solusi apapun. Kita sebagai penumpang tidak mau keluar dari bandara karena kalau keluar otomatis tiket hangus tanpa ada penggantian tiket baru,” paparnya.
CL menuturkan, rombongan jemaah terpaksa menunggu di bandara. Pihak travel sempat menawarkan untuk kembali dan tinggal ke hotel namun mesti mengurus administrasi lain agar tiket tidak hangus.
“Setelah itu mungkin sekitar 2 jam kemudian, tiba-tiba ada jemaah laki-laki sekarat, gara-gara kedinginan juga, kelaparan, itu delay hari pertama,” ucapnya.
Jemaah umrah laki-laki itu disebut sempat jatuh di depan loket. Rombongan yang riuh diminta tenang hingga belakangan pihak maskapai memberikan kompensasi tiket pengganti untuk keberangkatan keesokan harinya.
“Kita dikasih surat yang diminta pernyataan tiket pengganti, sama dia (maskapai) siapkan kita bus ke hotel. Terus itu bapak (jemaah laki-laki yang sakit) dipanggilkan dokter sama itu orang bandara ditangani di klinik,” tuturnya.
CL melanjutkan, pihak travel membawa rombongan menuju hotel untuk menginap lalu kembali lagi ke bandara pada Minggu (8/2) pagi. Dia mengaku maskapai mengatur ulang jadwal keberangkatan pesawat sekitar pukul 11.00 waktu setempat.
Setibanya di bandara, rombongan kembali diminta menunggu karena sistem check-in bermasalah. Penumpang menunggu berjam-jam hingga jadwal penerbangan pesawat maskapai Flyadeal kembali tertunda.
“Akhirnya semua orang terlantar lagi dengan kelaparan, dengan kondisi penumpang tidak tahu mau makan apa, sedangkan kita saja dari travelku, cuma dikasih makan mi instan. Karena di situ tidak ada penjual nasi,” tuturnya.
Pihak maskapai baru memberi kompensasi berupa makanan ringan pada siang hari. Beberapa jam kemudian, rombongan jemaah dibuat riuh karena jemaah umrah lansia bernama Maemunah meninggal dunia di terminal bandara saat menunggu.



