RADAR24.co.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih mampu bertahan di kisaran Rp16.800 meskipun pasar global sedang bergejolak berkat koordinasi yang solid antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dapat dikendalikan selama ekonomi nasional tetap sehat dan kuat.
“Enggak ah masih Rp16.800-an selama fondasi ekonomi kita bagus mengendalikan rupiah lebih gampang dibanding kalau ekonomi lagi berantakan,” katanya kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa 10 Maret 2026.
Purbaya menjelaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi domestik yang sehat serta koordinasi yang kuat antara pemerintah dan otoritas moneter.
Menurutnya kerja sama yang harmonis ini menjadi kunci utama dalam menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah dinamika pasar global yang tidak menentu.
“Kalau kita memastikan perkembangan ekonomi bagus uang di sistem cukup dan BI monitor keadaan nilai tukar seperti apa jadi kerja sama yang enak antara pemerintah dengan BI perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” jelasnya.
Lebih lanjut Purbaya menilai bahwa koordinasi yang solid antara pemerintah dan BI memudahkan upaya meredam gejolak pasar dunia yang berdampak pada pergerakan rupiah.
“Kalau kompak seperti ini enggak terlalu sulit mengendalikan gejolak pasar dunia,” pungkasnya di hadapan awak media.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta Selasa 10 Maret 2026 menunjukkan penguatan sebesar 86 poin atau 0,51 persen menjadi Rp16.863 per dolar AS.
Penguatan tersebut terjadi dari penutupan sebelumnya yang tercatat di level Rp16.949 per dolar Amerika Serikat.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange Muhammad Amru Syifa mengungkapkan bahwa penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump.
Trump menyatakan bahwa konflik dengan Iran sudah mendekati penyelesaian sehingga meredakan ketegangan pasar global.



