RADAR24.co.id – Langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang berencana melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah dalam waktu dekat, dinilai bukan sekadar agenda silaturahmi biasa. Gerakan ini dipandang sebagai bagian dari strategi politik terstruktur untuk merawat, memperkuat, sekaligus mengonsolidasikan jaringan pendukung yang selama ini menjadi basis kekuatan politiknya.
Pengamat politik, Yusak Farchan, menilai aktivitas Jokowi yang mulai aktif berkeliling ke berbagai daerah perlu dibaca sebagai sinyal kuat adanya upaya pemantapan dukungan dari kelompok-kelompok relawan yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Menurutnya, mantan presiden dua periode ini tengah berupaya keras menjaga soliditas jejaring politik yang telah dibangunnya selama kurang lebih satu dekade masa kepemimpinan.
“Agenda keliling daerah ini tidak bisa dilepaskan dari upaya Jokowi mempertahankan dan mengonsolidasikan kekuatan politik yang selama ini bertumpu pada jaringan relawan. Pada saat yang sama, terlihat ada kecenderungan untuk menghubungkan kekuatan tersebut dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI),” ungkap Yusak saat dihubungi, Sabtu (30/5/2026).
Lebih jauh, Yusak menilai muncul indikasi jelas bahwa Jokowi sedang merancang format baru kekuatan politiknya pasca melepaskan jabatan presiden. Kolaborasi strategis antara massa relawan dan PSI diprediksi akan menjadi fondasi kekuatan politik baru yang bertujuan menjaga keberlanjutan pengaruh Jokowi dalam peta dinamika politik nasional.
“Terlihat ada upaya meramu kekuatan relawan dan PSI agar menjadi basis politik yang kokoh. Tujuannya tak lain adalah untuk menjaga keberlanjutan pengaruh Jokowi, termasuk sebagai kendaraan politik yang strategis bagi langkah politik Gibran Rakabuming Raka di masa mendatang,” jelasnya.
Salah satu aspek yang paling menarik dan menjadi sorotan dari agenda pergerakan Jokowi ini adalah momentum pelaksanaannya. Safari politik ini dilakukan tepat di tengah meningkatnya spekulasi dan pemanasan dinamika politik nasional yang berkembang pesat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dianggap bukan kebetulan belaka, melainkan pemilihan momen yang sangat diperhitungkan.
“Yang menarik justru waktunya. Jokowi memilih turun langsung ke daerah ketika berbagai isu politik nasional sedang mengemuka dan menjadi perbincangan publik. Situasi ini tentu menjadi variabel penting yang perlu dicermati oleh banyak pihak, termasuk pemerintahan yang sedang berjalan saat ini,” tuturnya.
Yusak meyakini bahwa keputusan Jokowi untuk kembali aktif melakukan konsolidasi politik ke tingkat akar rumput tidak dilakukan tanpa perhitungan matang. Berbekal pengalaman panjangnya mengarungi panggung politik nasional, Jokowi dinilai sedang membaca dan memetakan berbagai kemungkinan yang akan terjadi dalam perjalanan pemerintahan maupun persaingan politik ke depan.
“Kalau tidak ada agenda yang lebih besar, saya kira Jokowi tidak akan turun gunung. Ada kalkulasi politik yang sedang disiapkan secara matang untuk menghadapi berbagai kemungkinan dinamika yang bisa muncul dalam beberapa tahun ke depan, terutama menjelang kontestasi politik besar,” tegas Yusak.
Kondisi tersebut, menurut Yusak, semakin menegaskan bahwa peta politik nasional saat ini masih sangat dinamis dan terus bergerak. Sejumlah tokoh kunci dan kekuatan politik utama mulai menata langkah serta memposisikan diri untuk menghadapi babak baru persaingan menuju Pemilihan Umum 2029.
“Dalam konteks itulah, aktivitas Jokowi berkeliling ke berbagai daerah menjadi sinyal tegas bahwa ia belum selesai memainkan peran politiknya. Pengaruh, pengalaman, dan jejaring luas yang dimilikinya masih berpotensi menjadi faktor penentu yang sangat penting dalam pembentukan konfigurasi politik nasional ke depan,” pungkas Yusak.



