JAKARTA — Di tengah penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan banyak mata uang dunia, Bank Indonesia memilih bergerak cepat dengan memperkuat bauran kebijakan. Tujuannya satu: menjaga rupiah tetap stabil dan tidak bergejolak berlebihan.

Otoritas moneter saat ini aktif di pasar untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan valuta asing. Langkah ini dilakukan karena tekanan terhadap rupiah bukan hanya terjadi di Indonesia. Gelombang yang sama juga dirasakan baht Thailand, won Korea Selatan, rupee India, peso Chile, hingga rubel Rusia.

Selain faktor global, BI juga mencatat ada faktor musiman domestik. Setiap kuartal kedua, permintaan valas di dalam negeri memang cenderung naik. Penyebabnya datang dari kebutuhan korporasi membayar dividen ke luar negeri dan jatuh tempo utang luar negeri.

Kebijakan Suku Bunga The Fed dan Dampaknya pada Arus Modal

Indeks dolar AS menguat karena data ekonomi Amerika Serikat masih solid, terutama di sektor tenaga kerja dan inflasi. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya di level tinggi lebih lama.

Kebijakan ketat dari The Fed membuat likuiditas global menyusut. Investor asing kemudian melakukan penyesuaian portofolio. Akibatnya terjadi aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memberi tekanan pada pasar Surat Berharga Negara.

Menanggapi hal ini, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Edi Susianto, menyampaikan komitmen bank sentral. “Bank Indonesia secara konsisten terus berada di pasar untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah sejalan dengan kinerja fundamental ekonominya,” ujarnya pada 8 Juli.

Analisis Komparatif Faktor Global dan Realitas Domestik

Di media sosial, banyak opini yang mengaitkan pelemahan rupiah hanya dengan isu politik dan korupsi dalam negeri.

Namun menurut BI, pergerakan kurs adalah hasil dari mekanisme pasar keuangan internasional yang saling terkait.

Data yang dirilis BI menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Inflasi berada di kisaran target, pertumbuhan ekonomi versi BPS masih di level 5 persen, dan cadangan devisa berada jauh di atas standar kecukupan internasional.

Dengan kondisi tersebut, BI menilai tekanan pada rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global dan siklus permintaan valas musiman, bukan faktor domestik.

Mekanisme Operasi Stabilisasi Nilai Tukar oleh Bank Indonesia

Untuk meredam volatilitas, BI menjalankan strategi yang disebut triple intervention. Strategi ini dilakukan bersamaan di tiga lini.

Pertama, intervensi di pasar spot untuk memenuhi kebutuhan valas secara langsung.
Kedua, intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF sebagai sarana lindung nilai bagi pelaku usaha agar tidak terpapar risiko kurs secara tiba-tiba.
Ketiga, pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

” Kami masuk ke pasar melalui pasar spot, DNDF, maupun pembelian SBN di pasar sekunder jika terjadi tekanan yang berlebihan untuk memastikan volatilitas tetap terjaga,” jelas Edi Susianto.

Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter dalam Menjaga Pasar

Selain intervensi, BI juga mengoptimalkan instrumen yang ramah pasar seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Sekuritas Valas Bank Indonesia. Tujuannya untuk menarik kembali aliran modal asing dan memperkuat likuiditas valas di dalam negeri.

Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan memperkuat sinergi dengan BI. Salah satunya melalui optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor agar dana dari sektor komoditas bisa lebih lama berada di sistem perbankan nasional.

Dengan kombinasi intervensi yang terukur dari BI dan pengelolaan fiskal yang hati-hati dari Pemerintah, kedua institusi optimis stabilitas ekonomi nasional dapat tetap terjaga meski ketidakpastian global masih berlangsung.*