RADAR24.co.id – Insiden tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam, berdampak langsung pada pola perjalanan masyarakat. Banyak warga yang memilih beralih moda transportasi, membuat jumlah penumpang Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta meningkat drastis dan membludak di sejumlah stasiun, Rabu (29/4/2026) pagi.
Pantauan di lokasi menunjukkan peron dan gerbong MRT terlihat jauh lebih padat dari biasanya. Antrean panjang terlihat di gerbang tiket dan area tunggu, didominasi oleh para pekerja dan pelajar yang biasanya menggunakan KRL.
Salah satu penumpang, Rina (32), mengaku sengaja beralih ke MRT karena masih merasa trauma dan waswas setelah melihat berita kecelakaan yang menewaskan belasan orang tersebut.
“Jujur, takut juga kalau naik kereta lagi ingat kejadian kemarin. Apalagi saya sering naik gerbong khusus wanita yang kemarin terdampak parah. Jadi lebih aman rasanya pilih MRT sekarang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Budi (40), yang mengaku perjalanannya menjadi lebih lama namun ia rela menukarnya dengan rasa aman.
“Memang agak jauh dan harus transit, tapi daripada naik KRL terus kepikiran terus, mending pakai MRT. Semoga lebih aman dan terjamin keselamatannya,” tambahnya.
Kepanikan dan trauma pasca kecelakaan juga terlihat dari banyaknya warga yang mulai menghindari moda transportasi rel, tidak hanya KRL tetapi juga memilih beralih ke LRT dan Transjakarta. Fenomena ini menunjukkan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama masyarakat saat ini.
Sampai saat ini, operasional KRL Commuter Line sudah berjalan kembali namun dengan jadwal dan pengaturan khusus. Meski demikian, rasa khawatir masyarakat masih terasa kuat, yang tercermin dari lonjakan penumpang di moda transportasi alternatif seperti MRT.



