RADAR24.co.id — Sugino, seorang petani cabai di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Tanaman cabainya di lahan seluas seperempat hektar mulai mengering dan layu akibat kekurangan air di tengah teriknya musim kemarau yang melanda wilayah tersebut. Dikhawatirkan ia akan mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Saat ditemui di kebunnya pada Sabtu sore (22/8/2026), terlihat jelas tanaman cabai kehijauannya memudar dan tanah tampak kering retak. Beban biaya produksi terasa semakin berat setiap bulan Sugino harus mengeluarkan biaya tagihan air mencapai Rp600.000 hanya untuk kebutuhan penyiraman.
Situasi semakin sulit karena hasil panen anjlok drastis. Jika pada kondisi normal ia bisa memanen hingga 100 kg cabai setiap kali petik, kini hasil panennya turun drastis hanya sekitar 10 kg untuk sekali petik, dan frekuensi panen yang biasanya dua kali seminggu juga tidak bisa dipenuhi. Sementara harga cabai di tingkat petani saat ini hanya berada di angka Rp40.000 per kg, belum cukup untuk menutupi biaya operasional yang terus membengkak.
“Kami hanya bisa berharap bisa dapat bantuan sumur bor dari dinas ataupun pihak terkait untuk meringankan pengeluaran buat biaya siram saat seperti ini,” ungkap Sugino penuh harap.
Kekeringan yang melanda Lampung Timur tahun ini menjadi ujian berat bagi para petani cabai yang merupakan komoditas andalan masyarakat setempat. Tanpa pasokan air yang memadai, bukan hanya hasil panen menurun, melainkan seluruh investasi modal dan tenaga kerja terancam hilang begitu saja. Sugino berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan bantuan sarana irigasi, khususnya sumur bor, agar mereka dapat terus menyelamatkan tanaman dan mempertahankan mata pencaharian. (Suwandi)



