RADAR24.co.id — Semangat gotong royong warga di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur saat ini tengah menyala. Selama beberapa bulan terakhir, warga secara swadaya telah membangun jalan desa sepanjang sekitar 5 KM. Aksi ini dilakukan sebagai langkah nyata mempercepat akses di wilayah yang memiliki hamparan jalan desa hampir 90 KM.

Desa Bandar Agung sendiri terdiri dari 26 dusun, 85 RT. Dibandingkan dengan desa lainya di Lampung Timur, memiliki panjang jalan yang cukup besar. Oleh Karena itu warga menyadari jika pembangunan infrastruktur di desanya tidak bisa hanya menunggu satu sumber.

“Total yang sudah kami bangun sekitar 5 KM. Dan sampai saat ini kegiatan kami masih terus berlanjut,” ujar Kyai Abdul Manan, tokoh masyarakat Dusun 16, Desa Bandar Agung, Senin (27/7/2026).

Menurut warga, kunci utama gerakan ini adalah kesadaran kolektif. Jika hanya menunggu, prosesnya akan sangat panjang.

“Masyarakat menyadari bahwa pembangunan jalan di desa kami tidak akan secepatnya terwujud tanpa adanya aksi nyata. Makanya kami bergerak bersama, bergotong royong seperti yang kami lakukan sekarang,” kata Heru, tokoh Forum Pemuda Dusun 14.

Gerakan ini murni inisiatif warga. Tidak ada paksaan dalam pengumpulan dana. Setiap rumah diajak berpartisipasi sesuai kemampuan melalui sistem patungan.

Di lokasi, jalan yang dibangun warga merupakan cor beton dengan lebar kurang lebih 3 meter. Ketebalan cor disesuaikan kondisi tanah, antara 5 hingga 10 centimeter.

Mereka juga terbuka soal anggaran. Berdasarkan hitungan bersama, setiap proses pembangunan sepanjang 200 meter menghabiskan biaya sekitar Rp40 juta.

Dana tersebut khusus untuk pembelian material seperti pasir, batu, semen dan lainnya. Sementara untuk tenaga kerja sepenuhnya ditanggung secara bersama-sama oleh warga setempat tanpa upah.

“Biayanya dari warga ya hasilnya kembali untuk warga itu sendiri,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan material, warga menggunakan dua cara utama.

Pertama, patungan door to door ke setiap rumah.

Kedua, melalui kegiatan “jimpitan” rutin yang dilakukan di beberapa dusun. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli material.

“Alhamdulillah warga sangat antusias. Yang punya rezeki lebih ikut lebih, yang tidak bisa tenaga. Semua bahu-membahu,” ungkap Rahmat Suwondo dari Pemuda Garda Nogosari Dusun 15.

Perhatian Pemda Lampung Timur

Upaya swadaya warga ini juga mendapat respon positif dari Pemda Lampung Timur hingga Pemerintah Kecamatan setempat.

Bentuk dukungannya berupa peminjaman 2 unit Molen untuk mengaduk material, serta bantuan semen di beberapa titik lokasi pembangunan.

“Pemda suport dengan meminjamkan 2 Molen pengaduk material juga bantuan semen di beberapa titik lokasi,” kata mereka.

Dukungan ini menjadi penyemangat tambahan bagi warga untuk terus melanjutkan pembangunan secara bertahap.

Warga mengakui bahwa setiap tahun Pemerintah Daerah Lampung Timur juga merealisasikan program infrastruktur di Desa Bandar Agung. Tahun lalu, realisasi pembangunan jalan di desa ini sepanjang 2 KM melalui anggaran pemerintah.

“Pemerintah tetap hadir. Tahun kemarin ada 2 KM lebih jalan aspal lataston yang telah dibangun ditambah onderlagh. Nah, sisanya kami kejar dengan swadaya agar lebih cepat bisa dinikmati bersama,” jelas Kyai Abdul Manan.

Dengan model sinergi seperti ini, pembangunan bisa berjalan beriringan. Program pemerintah berjalan, swadaya warga juga jalan.

Jalan sepanjang 5 KM yang sudah jadi kini sangat dirasakan manfaatnya. Akses ke kebun, ke sekolah, dan ke pusat desa menjadi lebih mudah dan cepat.

Mobilitas hasil pertanian juga lebih lancar. Yang dulunya becek saat hujan, kini sudah bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

“Warga jadi semangat. Kalau jalan bagus, ekonomi ikut bergerak,” tambah Heru.

Gerakan di Desa Bandar Agung menjadi contoh bahwa partisipasi masyarakat adalah bagian penting dalam pembangunan. Pemerintah menyediakan program, warga mengambil peran untuk mempercepat di titik-titik yang sangat dibutuhkan.

“Kami tidak menunggu. Kami bergerak. Tapi kami juga bersyukur pemerintah tidak meninggalkan kami. Ini bukti kalau bersinergi, hasilnya akan lebih cepat dirasakan,” pungkas Marwanto.

Hingga kini, warga di 26 dusun di Bandar Agung masih terus berkoordinasi untuk menentukan titik pembangunan selanjutnya. Targetnya, setiap tahun ada tambahan ruas jalan baru, baik dari program pemerintah maupun dari swadaya masyarakat. (And)