Oleh: Agdela Inka Vanisa (Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung)
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti kembali menegaskan bahwa sistem pendidikan Indonesia harus segera beranjak dari pola pembelajaran yang hanya menekankan hafalan. Peserta didik, katanya, perlu dibekali kemampuan memecahkan masalah (problem solving) agar siap menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan sudah dituangkan dalam kebijakan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang tengah dipiloting Kemendikdasmen sejak tahun ajaran 2025/2026, dengan tiga prinsip utama: mindful, meaningful, dan joyful learning. Bagi siapa pun yang pernah merasa capek menghafal rumus atau definisi semalam sebelum ujian lalu lupa keesokan harinya, kebijakan ini sebenarnya sedang menjawab keluhan yang sudah lama dirasakan.
Mengapa Menghafal Terasa Melelahkan sekaligus Mudah Hilang
Dalam psikologi pendidikan, David Ausubel membedakan dua jenis belajar: rote learning (belajar hafalan) dan meaningful learning (belajar bermakna). Pada rote learning, informasi baru disimpan tanpa dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya, sehingga mudah diingat dalam jangka pendek tetapi cepat menguap begitu tidak lagi dibutuhkan untuk ujian. Sebaliknya, pada meaningful learning, informasi baru dikaitkan secara aktif dengan konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif seseorang, sehingga lebih tahan lama dan lebih mudah diterapkan dalam situasi baru. Kebijakan Pembelajaran Mendalam pada dasarnya adalah upaya menggeser kelas dari kebiasaan rote learning menuju meaningful learning secara sistemik.
Pemahaman yang Dibangun, Bukan Diterima Begitu Saja
Prinsip ini sejalan dengan konstruktivisme yang dikembangkan Jean Piaget, yang menekankan bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang dipindahkan begitu saja dari guru ke murid, melainkan dibangun secara aktif oleh murid melalui pengalaman dan proses berpikirnya sendiri. Murid yang terbiasa menerima materi dalam bentuk hafalan siap pakai cenderung menjadi pasif, karena tugasnya hanya menyimpan, bukan mengolah. Sebaliknya, murid yang diajak memecahkan masalah nyata, sebagaimana ditekankan dalam kebijakan ini, dipaksa untuk aktif berpikir, mengaitkan, dan menyusun pemahamannya sendiri, proses yang menurut Piaget jauh lebih menetap dalam struktur kognitif jangka panjang.
Dampak Psikologis dari Sistem yang Terlalu Lama Bertumpu pada Hafalan
Sistem yang terlalu lama menekankan hafalan turut membentuk cara pandang murid terhadap dirinya sendiri sebagai pembelajar. Murid yang terbiasa dinilai dari seberapa persis ia mengingat, bukan seberapa dalam ia memahami, cenderung mengembangkan kecemasan performa: takut salah mengingat, bukan takut salah memahami. Ironisnya, murid yang sebenarnya paham konsep tetapi lupa detail kalimat persis di buku, sering kali dinilai lebih rendah dibanding murid yang hafal kata demi kata tanpa benar-benar mengerti maknanya. Pola penilaian semacam ini, jika dibiarkan, justru mendidik murid untuk mengutamakan ingatan jangka pendek dibanding pemahaman yang bertahan lama.
Perubahan Kebijakan Butuh Perubahan Kebiasaan di Kelas
Betapapun bagusnya kebijakan di tingkat kementerian, keberhasilannya tetap bergantung pada kebiasaan kecil yang terjadi setiap hari di ruang kelas. Guru dan dosen yang masih terbiasa bertanya “apa definisinya” perlu secara bertahap bergeser ke pertanyaan “bagaimana kamu menjelaskan ini dengan kata-katamu sendiri” atau “bagaimana konsep ini bisa dipakai untuk situasi lain”. Pertanyaan semacam ini, sekecil apa pun, adalah bentuk paling sederhana dari meaningful learning yang bisa langsung dipraktikkan tanpa menunggu perubahan kurikulum secara menyeluruh.
Pada akhirnya, pergeseran dari hafalan menuju pemahaman bukan sekadar perubahan istilah kebijakan, melainkan perubahan cara berpikir tentang apa artinya benar-benar belajar. Psikologi pendidikan telah lama mengingatkan bahwa pengetahuan yang sekadar dihafal akan mudah hilang begitu tekanan ujian berlalu, sementara pengetahuan yang dipahami dan dibangun sendiri oleh murid akan terus dibawa jauh melampaui ruang kelas tempat ia pertama kali dipelajari.


