RADAR24.co.id|Lam-sel — Kegiatan Training Raya Intermediate Training (LK II) dan Latihan Khusus Kohati (LKK) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kalianda, Lampung Selatan, resmi ditutup di Aula Krakatau, Kantor Bupati Lampung Selatan, pada Sabtu (8/11/2026) malam.
Acara penutupan atau closing ceremony tersebut dihadiri oleh Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung yang juga Anggota DPRD Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi; Bahari Septin Martina dari unsur Forhati; Fahrul Rozi dari kalangan akademisi; serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Ketua Pelaksana Training Raya HMI Cabang Kalianda, Evan Sofiyan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian proses panjang yang telah berlangsung selama 10 hari. Selama periode tersebut, para peserta mengikuti berbagai tahapan pembelajaran dan pengaderan.
Ia menjelaskan, dari 80 peserta yang mengikuti seleksi administrasi dan pemberkasan, sebanyak 60 peserta dinyatakan lolos proses penyaringan (screening). Mereka terdiri atas 42 peserta LK II dan 18 peserta LKK.
“Pada kesempatan ini, saya mengucapkan selamat kepada 60 peserta yang telah bertahan hingga titik ini. Terima kasih karena tetap mengikuti seluruh proses. Kalian luar biasa,” ujar Evan.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Kalianda, Lampung Selatan, Sandi Aprizal, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan rangkaian Training Raya.
Ia mengatakan bahwa seluruh panitia telah berupaya semaksimal mungkin dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Namun, apabila selama pelaksanaan terdapat hal-hal yang kurang berkenan, ia menyampaikan permohonan maaf atas nama keluarga besar HMI Cabang Kalianda.
“Seluruh ilmu yang baik, silakan diambil dan diimplementasikan di cabang asal masing-masing. Training Raya ini memang telah selesai, tetapi jalinan silaturahmi di antara kita, teman-teman dari seluruh cabang se-Indonesia, harus tetap terjaga hingga akhir hayat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Sandi menegaskan bahwa setiap kader HMI harus berpegang teguh pada dua prinsip, yakni independensi etis dan independensi organisatoris. Menurutnya, kader HMI harus senantiasa berada dalam koridor perjuangan, meskipun proses menjadi kader tidak selalu mudah.
“Memang menjadi kader HMI itu tidak mudah. Kalau tidak mau susah, tidak perlu menjadi kader HMI. Ketika kader HMI berdiskusi dengan seniornya, yang dibicarakan haruslah tentang cita-cita besar dan masa depan. Terus membangun harapan, meskipun esok hari mungkin masih bingung harus makan apa,” tegas Sandi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Forhati Lampung Selatan turut menekankan pentingnya proses perkaderan dalam organisasi HMI. Ia menyampaikan bahwa perkaderan merupakan salah satu proses terpenting karena melalui proses tersebut kader HMI belajar banyak hal.
“Perkaderan merupakan proses terpenting dalam organisasi HMI. Dari perkaderan HMI, kita belajar banyak hal,” tuturnya.
Pada puncak acara, Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, yang hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker) dalam closing ceremony, memberikan motivasi dan membakar semangat perjuangan seluruh peserta Training Raya.
Dalam penyampaiannya, Wahrul menegaskan bahwa kader HMI harus senantiasa berpihak pada kepentingan rakyat. Ia mengingatkan agar kader tidak terjebak dalam sikap elitis maupun kehilangan idealisme dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kader HMI harus pro terhadap kepentingan rakyat. Jangan menjadi kader yang elitis dan jangan sampai masuk angin. Kader HMI harus tetap bersemangat memperjuangkan hak-hak rakyat,” ujarnya.
Ia juga berharap ke depan semakin banyak kader HMI yang berani menyuarakan aspirasi rakyat dan berdiri di garis perjuangan bersama masyarakat.
“Ke depan, saya ingin bukan hanya almamater kuning yang berteriak di Bundaran HI, bukan hanya buruh yang menyuarakan aspirasi di jalanan, tetapi juga kader dengan muts dan gordon hijau hitam yang lantang menolak rezim yang tidak berpihak kepada rakyat,” pungkasnya.



