RADAR24.co.id – Udara yang seharusnya segar dan bersih, berubah menjadi mencemaskan serta berbau sangat menyengat setiap kali hujan turun atau malam tiba di Dusun 1, Desa Bauh Gunung Sari, Kecamatan Lampung Timur. Di tengah lingkungan yang seharusnya nyaman untuk beraktivitas warga dan tempat menuntut ilmu, keberadaan sebuah peternakan babi milik warga setempat bernama Nyoman Mertayasa, kini menjadi sumber masalah besar yang memicu gelombang protes keras, baik dari pihak sekolah maupun masyarakat sekitar.

Keluhan ini paling keras disuarakan oleh pihak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yanikma, yang lokasinya berada tidak jauh dari peternakan tersebut. Bukan sekadar gangguan bau, masalah yang dihadapi sekolah dan warga sudah masuk ke tahap pencemaran lingkungan yang mengganggu aktivitas belajar mengajar maupun kenyamanan hidup sehari-hari.

Pihak sekolah dan warga sekitar mengaku merasa dirugikan karena pembangunan kandang dan operasional peternakan babi tersebut berjalan tanpa adanya musyawarah atau permintaan persetujuan terlebih dahulu kepada lingkungan sekitar. Keberadaan kandang yang beroperasi kini dianggap telah melanggar batas kewajaran, di mana dampak limbah dan baunya sudah merambah hingga ke area sekolah dan pemukiman warga.

Fhaturahim, salah satu guru yang mengajar di SMK Yanikma, menceritakan kondisi memprihatinkan yang harus dialami oleh para siswa, guru, dan staf sekolah setiap harinya. Menurutnya, gangguan bau dan rembesan limbah kotoran babi menjadi sangat parah ketika curah hujan tinggi turun ke bumi, atau saat udara dingin menyelimuti malam hari. Aroma tak sedap itu bahkan dikabarkan dapat tercium jelas hingga radius 500 meter dari lokasi peternakan.

“Baunya sangat menyengat, apalagi kalau sudah hujan atau malam hari. Uap dan bau dari kotoran babi itu menyebar ke mana-mana, sangat mengganggu konsentrasi belajar dan kenyamanan kami di sekolah,” ungkap Fhaturahim dengan nada kesal.

Kondisi lingkungan yang memburuk itu diperparah dengan masalah saluran pembuangan limbah peternakan yang dinilai tidak memadai dan tidak dikelola dengan baik. Fhaturahim menjelaskan, air limbah yang bercampur dengan kotoran hewan ternak itu diketahui merembes dan menembus tembok pembatas, hingga akhirnya meluber dan menggenangi fasilitas sekolah.

Lokasi yang paling terdampak parah adalah area tempat parkir kendaraan siswa. Meski pihak sekolah telah berupaya menambal bagian yang bocor dan membendung rembesan tersebut berkali-kali, namun usaha itu sia-sia saja. Tekanan dan volume limbah yang terus keluar membuat penambalan tersebut jebol kembali, sehingga genangan air limbah yang berwarna keruh dan berbau busuk selalu ada di tempat parkir.

“Sudah beberapa kali bagian tembok dan saluran itu kami tambal dan perbaiki, tapi tetap saja rembesan limbah itu bocor dan terus melebar hingga masuk ke tempat parkir sepeda motor milik siswa. Ini sangat tidak sehat, kotor, dan membuat kami tidak nyaman beraktivitas di sini,” paparnya.

Pihak sekolah bersama masyarakat sekitar pun kini bersatu suara menyampaikan aspirasi dan tuntutan tegas. Mereka tidak lagi sanggup bertoleransi dengan kondisi lingkungan yang kian tercemar. Harapan besar kini tertuju pada pihak berwenang agar segera turun tangan menengahi dan menyelesaikan masalah ini sampai tuntas.

Satu-satunya solusi yang diminta oleh warga dan pihak sekolah adalah penutupan total peternakan tersebut, atau pemindahan lokasi kandang ke tempat yang jauh dari pemukiman penduduk dan kawasan pendidikan, agar tidak lagi merugikan lingkungan sekitar.

“Kami memohon agar kandang babi ini segera ditutup atau dipindahkan ke lokasi yang jauh dari pemukiman dan sekolah. Kami menginginkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman kembali untuk anak-anak belajar serta kami beristirahat,” tegas Fhaturahim mewakili aspirasi warga dan sekolah.