RADAR24.co.id — Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, di hamparan perairan biru yang membentang luas, terletak Pulau Sabira, salah satu pulau terluar di wilayah Kelurahan Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Di sini, laut adalah sumber kehidupan. Ikan selar, kembung, hingga tongkol melimpah di perairan jernihnya. Namun selama bertahun-tahun, kekayaan itu belum sepenuhnya menjadi berkah yang mengangkat taraf hidup keluarga nelayan.
Hasil laut lebih banyak dijual segar dengan harga yang mudah tertekan di pasar. Sementara itu, pengolahan ikan asin satu-satunya cara menambah nilai jual masih dilakukan secara tradisional. Ikan dijemur di atas hamparan anyaman bambu, bergantung sepenuhnya pada panas matahari. Jika hujan turun atau langit mendung, produksi terhenti. Standar kebersihan pun sulit dijaga, sehingga produk olahan ikan asin dari pulau ini sulit melangkah lebih jauh dan diterima pasar yang lebih luas.
Kini, cerita itu perlahan berubah. Dua belas istri nelayan yang tergabung dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Laut (Poklahsar) Ikan Asin Selar tampil lebih tegap dan percaya diri. Di bawah naungan Program Pendekar Sabira, mereka kini mengelola rumah pengering ikan bertenaga surya, berinovasi menciptakan produk olahan bernilai tambah, dan mulai mencicipi manfaat kemandirian usaha yang terus tumbuh dari kekayaan laut yang mereka miliki.
Program Pendekar Sabira (kepanjangan dari Pengembangan Usaha Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Laut Sabira) adalah wujud nyata program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) dari PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatra (PHE OSES) yang mulai digulirkan pada akhir tahun 2023. Program ini hadir bukan sekadar memberi bantuan, melainkan membangun kemandirian memberdayakan perempuan pesisir agar mampu mengolah kekayaan laut setempat menjadi produk bernilai jual tinggi.
Langkah pertama yang mengubah segalanya adalah hadirnya rumah pengering ikan bertenaga panel surya. Bangunan sederhana namun berteknologi tepat guna itu mengubah cara kerja yang dulu sepenuhnya bergantung pada cuaca menjadi lebih cepat, terjamin kebersihannya, dan dapat berjalan konsisten sepanjang musim. Energi matahari yang melimpah di atas pulau ini kini dimanfaatkan secara maksimal untuk menjaga suhu pengeringan tetap ideal, sehingga kualitas ikan asin menjadi lebih bersih, kering sempurna, dan tahan lama tanpa bahan pengawet buatan.
Namun teknologi saja belum cukup. PHE OSES pun membekali kedua belas anggota kelompok dengan rangkaian pelatihan menyeluruh: mulai dari teknik pengolahan ikan yang higienis, cara menciptakan produk olahan baru yang diminati pasar, penguatan organisasi kelompok, hingga strategi pemasaran agar hasil karya mereka dapat menjangkau pembeli di luar pulau.
Dari situlah muncul perubahan nyata. Para perempuan kini tak hanya memproduksi ikan asin berkualitas unggul, tetapi juga mampu berinovasi menciptakan kerupuk ikan dan berbagai produk olahan turunan lainnya. Ragam produk bertambah, kualitas meningkat, dan kepercayaan diri pun tumbuh. Mereka belajar bekerja sama, membagi tugas, mencatat keuangan, dan merencanakan masa depan usaha bersama.
Indra Darmawan, Head of Communication, Relation and Corporate Social Responsibility (CID) PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatra (PHE OSES), menyampaikan bahwa Program Pendekar Sabira dirancang khusus untuk menjawab tantangan sekaligus memanfaatkan peluang besar yang ada di Pulau Sabira.
“Selama ini, potensi perikanan Pulau Sabira belum tergarap maksimal. Hasil laut yang melimpah masih dijual dalam keadaan segar dengan harga rendah, sementara pengolahannya masih bersifat tradisional, sangat bergantung pada cuaca, dan standar higienitasnya belum memadai. Melalui Program Pendekar Sabira, kami menghadirkan solusi teknologi yang digabungkan dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia terutama perempuan, yang merupakan tulang punggung ekonomi keluarga di wilayah pesisir. Kami ingin memastikan kekayaan laut yang ada dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, berdaya saing, dan berkelanjutan. Peran perempuan di sini sangat strategis; merekalah yang akan menjaga keberlangsungan usaha ini terus tumbuh dan bermanfaat bagi generasi mendatang.”
Indra menambahkan, keberhasilan pelaksanaan program ini juga berkat dukungan dan sinergi yang terjalin baik dengan pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan setempat. Kolaborasi itulah yang diyakini menjadi kunci agar program tidak hanya berjalan sesaat, tetapi dapat terus tumbuh, beradaptasi, dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Pulau Sabira.
Perubahan yang terjadi tak hanya berupa bangunan baru atau keterampilan yang bertambah, tetapi juga tercermin dari angka nyata yang dihasilkan. Sepanjang tahun 2025 saja, kelompok Ikan Asin Selar yang didampingi Program Pendekar Sabira berhasil mencatatkan omzet penjualan sebesar Rp21.610.000. Angka tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, ia adalah bukti nyata bahwa pemberdayaan yang tepat sasaran, didukung teknologi yang tepat guna, pelatihan yang berkelanjutan, dan pendampingan yang tulus mampu mengubah nasib.
Laut yang sama, ikan yang sama namun kini diolah dengan cara yang lebih baik, dikeringkan dengan bantuan matahari yang tak pernah habis, dibungkus dengan standar kebersihan yang terjamin, dan dipasarkan dengan percaya diri yang baru. Nilai tambah itu lahir dari tangan-tangan perempuan yang kini berdaya, yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi berkah yang nyata bagi keluarga dan masyarakat.
Kini, rumah pengering ikan bertenaga surya berdiri tegak di Pulau Sabira. Di dalamnya, tangan-tangan terampil perempuan pesisir mengolah ikan dengan senyum dan harapan yang lebih luas. Mereka membuktikan: ketika perempuan diberdayakan, teknologi hadir untuk membantu, dan kemitraan dibangun atas dasar kebersamaan maka potensi yang tersimpan di tanah air kita akan terus tumbuh menjadi harapan yang nyata. Cahaya matahari yang menyinari Pulau Sabira kini tak hanya mengeringkan ikan, tetapi juga menerangi jalan masa depan yang lebih sejahtera.
Edi Arsadad



