Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Maraknya bimbingan belajar (bimbel) memunculkan pertanyaan sederhana tetapi penting: apakah sekolah belum cukup efektif sehingga orang tua merasa perlu memberikan pendidikan tambahan?. Pertanyaan tersebut tidak tepat dijawab dengan menyimpulkan bahwa bimbel lebih baik daripada sekolah. Pendidikan formal dan bimbel memiliki fungsi yang berbeda. Sekolah merupakan institusi pendidikan utama, sedangkan bimbel pada dasarnya memberikan penguatan atau pendampingan belajar di luar sekolah. Namun, tingginya minat terhadap bimbel dapat menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana orang tua mempersepsikan efektivitas sekolah dalam memenuhi kebutuhan belajar anak.
Efektivitas Pendidikan dalam Persepsi Orang Tua
Dalam psikologi pendidikan, efektivitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh hasil akademik, tetapi juga pengalaman belajar, motivasi, keterlibatan, dan dukungan lingkungan. Bandura (2021), melalui perspektif social cognitive theory, menekankan pentingnya interaksi antara individu, perilaku, dan lingkungan dalam proses belajar. Artinya, keberhasilan belajar anak tidak hanya bergantung pada guru atau lembaga pendidikan, tetapi juga pada anak dan lingkungan yang mendukungnya. Orang tua kemudian membangun persepsi berdasarkan pengalaman anak yaitu apakah anak memahami materi, mendapatkan perhatian guru, memiliki motivasi belajar, dan memperoleh umpan balik yang memadai.
Ketika persepsi tersebut dianggap kurang memenuhi harapan, bimbel menjadi pilihan alternatif. Sebaliknya, apabila sekolah mampu memenuhi kebutuhan akademik dan psikologis anak, kebutuhan terhadap bimbel mungkin menjadi lebih selektif. Karena itu, persepsi orang tua tidak selalu sama dengan kondisi objektif sekolah. Sekolah yang secara akademik baik belum tentu dipersepsikan demikian oleh semua orang tua. Sebaliknya, bimbel yang memiliki citra kuat belum tentu selalu memberikan hasil yang lebih baik bagi setiap anak.
Sekolah dan Bimbel: Kompetisi atau Kolaborasi?
Persepsi “sekolah versus bimbel” justru dapat menciptakan cara pandang yang kurang produktif. Keduanya seharusnya ditempatkan dalam posisi yang saling melengkapi. Sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih luas: bukan hanya penguasaan materi, tetapi juga pembentukan karakter, kemampuan sosial, kemandirian, dan perkembangan peserta didik. Bimbel memiliki ruang yang lebih spesifik untuk memberikan penguatan pada materi tertentu atau persiapan menghadapi kebutuhan akademik tertentu. Persoalan muncul ketika bimbel dipersepsikan sebagai jaminan keberhasilan, sementara sekolah dianggap hanya sebagai kewajiban formal. Persepsi seperti ini dapat membuat orang tua semakin bergantung pada layanan pendidikan tambahan. Padahal, penelitian mengenai keterlibatan orang tua menunjukkan bahwa dukungan keluarga terhadap proses belajar merupakan faktor penting dalam perkembangan akademik anak. Wang dan Sheikh-Khalil (2021), misalnya, menunjukkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung keterlibatan akademik dan keberhasilan siswa.
Dalam perspektif Islam, pendidikan juga tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” QS. Al-Mujadilah: 11. Ayat tersebut menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang mulia. Karena itu, proses memperoleh ilmu semestinya tidak direduksi hanya menjadi pencapaian nilai atau kemenangan dalam kompetisi pendidikan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim. Pesan tersebut menunjukkan bahwa belajar merupakan proses yang bernilai, bukan sekadar sarana mencapai prestasi.
Akhirnya penting untuk dicermati bahwa maraknya bimbel sebaiknya menjadi bahan evaluasi bersama, bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa sekolah gagal atau bimbel lebih unggul. Sekolah perlu terus mengevaluasi kualitas pembelajaran dan membangun komunikasi yang baik dengan orang tua. Orang tua perlu menilai kebutuhan anak secara objektif, bukan hanya berdasarkan tren atau keberhasilan anak lain. Sementara bimbel perlu menempatkan diri sebagai lembaga pendukung yang membantu proses pendidikan, bukan sebagai pengganti sekolah. Ukuran efektivitas pendidikan bukan terletak pada seberapa banyak lembaga yang diikuti anak, melainkan pada seberapa jauh anak mengalami proses belajar yang bermakna. Sekolah dan bimbel tidak harus menjadi pesaing. Keduanya dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih baik apabila ditempatkan sesuai fungsi masing-masing. Yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap keputusan pendidikan benar-benar menjawab kebutuhan anak, bukan sekadar memenuhi kecemasan orang tua atau tuntutan kompetisi sosial.



