RADAR24.co.id — Aktivitas safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) belum terlihat berdampak signifikan terhadap elektabilitas partai tersebut. Dalam survei Indonesia Political Opinion (IPO), elektabilitas PSI masih berada di angka 1,9 persen.

Pegiat politik, ekonomi, dan sosial Arif Wicaksono menyoroti kondisi tersebut. Menurut dia, aktivitas politik Jokowi selama sekitar dua bulan belum otomatis meningkatkan tingkat keterpilihan PSI.

“Jokowi dua bulan full safari. Elektabilitas PSI turun ke 1,9 persen,” ujar Arif.

Arif mempertanyakan alasan elektabilitas PSI belum menunjukkan peningkatan meski Jokowi aktif melakukan roadshow ke sejumlah daerah. Dia menilai popularitas seorang tokoh tidak serta-merta dapat dikonversi menjadi dukungan terhadap partai politik.

“Kenapa belum naik-naik? Mungkin rakyatnya masih ingat mana yang beneran kerja, mana yang cuma numpang eks Presiden,” katanya.

Arif kemudian melontarkan analogi untuk menggambarkan kondisi PSI. Menurut dia, aktivitas safari politik yang intens belum menghasilkan perubahan elektabilitas yang berarti.

“Ternyata efeknya sama kayak charger rusak, makin sering dicolokin, makin drop,” ujarnya.

Survei IPO: PSI Masih 1,9 Persen

Hasil survei IPO menunjukkan elektabilitas PSI masih berada di angka 1,9 persen. Survei dilakukan pada 27 Juli-3 Agustus 2026 melalui simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan posisi PSI tidak mengalami perubahan berarti dalam sekitar satu setengah tahun terakhir.

“Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo (Jokowi) melakukan roadshow ke sejumlah daerah,” kata Dedi.

Menurut Dedi, persoalan PSI bukan semata-mata mengenai tingkat pengenalan masyarakat terhadap partai tersebut.

Survei IPO mencatat 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI. Namun, angka pengenalan tersebut belum berbanding lurus dengan dukungan elektoral.

“Namun, tingkat pengenalan tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan. Dalam simulasi yang sama, PSI hanya meraih 1,9 persen suara,” ujar Dedi.

IPO Sebut Efek Roadshow Jokowi Belum Bisa Diukur

Meski elektabilitas PSI masih rendah, Dedi tidak menutup kemungkinan adanya perubahan setelah rangkaian roadshow Jokowi berakhir.

Menurut dia, survei dilakukan ketika aktivitas roadshow Jokowi masih berlangsung. Karena itu, dampak politik dari kegiatan tersebut belum dapat diukur secara keseluruhan.

Dengan demikian, angka 1,9 persen dalam survei tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan akhir mengenai efektivitas safari politik Jokowi terhadap PSI.

Gerindra Teratas, PSI Masih di Bawah 2 Persen

Dalam survei yang sama, Partai Gerindra menjadi partai dengan elektabilitas tertinggi, yakni 17,5 persen.

PDI Perjuangan berada di posisi kedua dengan 12,8 persen. Berikutnya Partai Golkar memperoleh 10,4 persen dan Partai Demokrat 8,1 persen.

PKB berada di angka 7 persen, disusul PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen.

Sementara PSI masih memperoleh 1,9 persen.

Penelitian menggunakan metode multistage random sampling. Penentuan Primary Sampling Unit (PSU) dilakukan di sejumlah kelurahan atau desa, kemudian pemilihan RT dilakukan secara acak menggunakan random kish grid paper.

Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar 2,9 persen.

Hasil survei tersebut menunjukkan elektabilitas PSI masih berada di bawah 2 persen. Namun, dampak safari politik Jokowi terhadap dukungan kepada PSI masih memerlukan pengamatan lebih lanjut, terutama setelah seluruh rangkaian roadshow selesai dan terdapat jeda waktu bagi pemilih untuk meresponsnya.

Selengkapnya baca disini