Oleh: H. Ma’ruf Abidin, M.Si ( Ketua Pokjawas dan Dewan Pembina IWO Lamtim)

Setiap kali kalender menyentuh tanggal 22 Oktober, ingatan kolektif kita sebagai bangsa Indonesia kembali ditarik pada sebuah momentum heroisme masa lalu yang sakral: pencetus Resolusi Jihad tahun 1945 oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Fatwa bersejarah itu bukan sekadar seruan keagamaan lokal, melainkan sebuah pemantik kesadaran nasional yang menegaskan bahwa membela tanah air dari cengkeraman penjajah adalah kewajiban suci bagi setiap Muslim (Hubbul Wathan minal Iman). Tanpa adanya pemantik spiritual tersebut, sejarah mungkin tidak akan pernah mencatat meletusnya pertempuran heroik 10 November di Surabaya yang legendaris.

Namun, delapan dekade telah berlalu sejak moncong senapan dan bambu runcing berhenti berdentum. Di era globalisasi, digitalisasi, dan disrupsi yang serba cepat ini, sebuah pertanyaan reflektif yang krusial patut diajukan: Bagaimanakah relevansi “jihad” kaum santri di masa kini?

Hari ini, musuh yang dihadapi oleh bangsa Indonesia bukan lagi tentara kolonial dengan seragam militer dan senjata api. Musuh nyata kita telah bermutasi menjadi bentuk yang lebih sublim, kompleks, dan sistemik. Hari ini, garis depan pertempuran kaum santri adalah pergumulan sengit melawan kemiskinan struktural, kebodohan yang akut, ketertindasan sosial, polarisasi politik, krisis lingkungan hidup, hingga tantangan etis teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Di sinilah makna jihad harus ditransformasikan secara radikal: dari angkat senjata menjadi angkat pena, dari medan perang fisik menjadi medan literasi dan penguasaan sains abad ke-21.

Menghancurkan Tiga Pilar Keterpurukan: Kemiskinan, Kebodohan, dan Ketertindasan

Pergumulan pertama dan paling mendasar bagi santri modern adalah melawan kemiskinan struktural dan kebodohan. Pesantren tradisional selama berabad-abad telah menjadi institusi sosial yang paling dekat dengan rakyat akar rumput. Karena itu, santri tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan ekonomi yang masih menjerat sebagian besar masyarakat.

Jihad ekonomi santri masa kini diwujudkan melalui pembentukan ekosistem creative economy dan sociopreneurship. Melalui jaringan pesantren yang luas, santri mulai membangun koperasi berbasis syariah, digitalisasi UMKM, dan optimalisasi dana publik seperti zakat, infak, dan wakaf produktif. Dengan kemandirian ekonomi ini, santri bergerak maju menghancurkan jerat ketertindasan finansial dan ketergantungan modal asing yang sering kali meminggirkan masyarakat kecil.

Di sisi lain, melawan kebodohan berarti melakukan reformasi literasi. Di tengah gempuran informasi yang serba instan, santri dituntut untuk tidak sekadar pandai membaca kitab kuning (turats), tetapi juga cakap dalam membaca realitas sosial (kitabun maftuh). Santri harus menjadi garda terdepan dalam memerangi maraknya hoaks, disinformasi, dan kedangkalan berpikir di ruang publik. Kebodohan adalah akar dari manipulasi; dan dengan ilmu pengetahuan, santri sedang membebaskan bangsa ini dari belenggu pembodohan massal.

Jangkar Etika dalam Pembangunan Politik Bangsa

Di ranah pembangunan politik, peran santri menjadi kian vital sebagai jangkar moral di tengah dinamika kekuasaan yang sering kali menghalalkan segala cara. Sejarah mencatat bahwa santri dan kiai selalu terlibat aktif dalam merumuskan dasar negara, namun politik yang diemban kaum santri bukanlah politik praktis-pragmatis demi perebutan kursi semata. Politik santri adalah politik tingkat tinggi (politik kebangsaan) yang berorientasi pada kemaslahatan umum (tasharruf al-imam manuthun bil mashlahah).

Saat ini, ketika polarisasi ideologi, politik identitas, dan pragmatisme akut mengancam persatuan nasional, santri modern memegang peran sebagai mediator yang mendamaikan. Dengan bekal metodologi hukum Islam (ushul fiqh) yang fleksibel dan moderat (wasathiyah), santri mampu menawarkan solusi politik yang inklusif, menghargai keberagaman suku dan agama, serta memperjuangkan hak-hak kaum yang lemah (mustad’afin). Santri memastikan bahwa demokrasi di Indonesia tidak berjalan secara hampa, melainkan diisi oleh nilai-nilai keadilan sosial, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Fikih Lingkungan (Fiqh al-Bi’ah) dan Keadilan Ekologis

Pergumulan modern yang tidak kalah mendesak adalah krisis iklim global. Kerusakan alam, polusi, pemanasan global, dan eksploitasi sumber daya alam secara serakah adalah wujud nyata dari ketertindasan ekologis yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat kecil. Di sinilah kaum santri mengambil peran progresif dengan menggaungkan kembali konsep Fikih Lingkungan (Fiqh al-Bi’ah).

Bumi dalam pandangan santri bukanlah objek yang boleh dikeruk tanpa batas demi keuntungan korporasi, melainkan amanah ketuhanan yang harus dirawat demi keberlangsungan generasi masa depan. Gerakan “Pesantren Hijau” (Eco-Pesantren) kini marak diinisiasi, mulai dari pengelolaan sampah mandiri, penanaman pohon masif, pemanfaatan energi terbarukan, hingga edukasi gaya hidup ramah lingkungan bagi para santri. Menjaga kelestarian alam adalah bagian utuh dari ibadah, dan merusaknya adalah bentuk kemungkaran sosial yang harus diperangi dengan jihad ekologis.

Menaklukkan Kecerdasan Buatan (AI) dengan Moralitas Pesantren

Tantangan paling mutakhir di abad ini adalah lompatan teknologi digital berupa Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). AI telah mengubah lansekap pekerjaan, pendidikan, dan interaksi manusia secara drastis. Jika kaum santri gagap teknologi, maka ruang digital Indonesia akan dikuasai oleh algoritma asing yang belum tentu selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keindonesiaan.

Oleh karena itu, santri masa kini tidak boleh alergi terhadap teknologi. Jihad digital menuntut santri menguasai coding, data science, dan pemrogaman AI. Namun yang membedakan santri dengan ahli teknologi lainnya adalah kompas moral. AI adalah alat yang netral, ia bisa digunakan untuk menciptakan efisiensi yang menyejahterakan umat, atau sebaliknya, digunakan untuk menciptakan hoaks yang lebih canggih, pengawasan massal yang menindas, serta marginalisasi tenaga kerja manusia.

Di sinilah santri memimpin dengan memastikan perkembangan AI dipandu oleh nilai akhlakul karimah (akhlak mulia). Santri merumuskan etika pemanfaatan teknologi yang humanis, memanfaatkan teknologi komputasi untuk mendigitalisasi ilmu-ilmu klasik agar mudah diakses dunia, serta mengembangkan inovasi berbasis AI untuk memecahkan masalah kemiskinan dan layanan kesehatan di daerah terpencil.

Hari Santri dan Peradaban

Peringatan Hari Santri Nasional tidak boleh terjebak dalam seremoni tahunan yang sifatnya artifisial, seperti parade busana muslim, perlombaan seremonial, atau sekadar slogan mati tanpa aksi. Hari Santri adalah sebuah alarm pengingat peradaban. Sebuah panggilan suci bagi seluruh elemen bangsa untuk berefleksi: sudah sejauh mana kita berkontribusi bagi kemajuan negeri?

Esensi Resolusi Jihad modern adalah keteguhan iman yang termanifestasi dalam penguasaan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan kemanusiaan. Ketika kekayaan intelektual dipadukan dengan kesalehan spiritual pesantren, maka bangsa Indonesia tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh badai globalisasi. Selamat Hari Santri Nasional. Mari kita buktikan bahwa dari balik bilik-bilik pesantren yang bersahaja, lahir para arsitek masa depan, para penggerak ekonomi, pemelihara alam, pemimpin politik yang bersih, serta penakluk teknologi yang senantiasa menundukkan kepala di hadapan Sang Maha Pencipta demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.