RADAR24.co.id | Aceh — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 harus menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dalam membangun peradaban digital yang berilmu, beretika, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) PERMAHI Bidang Komunikasi Digital, Rifqi Maulana, menilai santri memiliki potensi besar untuk mengambil peran strategis di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, tantangan santri saat ini bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk melahirkan gagasan, inovasi, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
“Santri tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Santri harus berani menjadi pencipta gagasan, pengembang inovasi, dan penyebar pengetahuan yang membawa manfaat. Kemajuan digital harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, integritas, dan tanggung jawab,” ujar Rifqi.
Menjaga Nilai Pesantren di Tengah Perubahan Zaman
Rifqi mengatakan, pesantren memiliki modal penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter dan moral. Tradisi keilmuan, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap guru merupakan nilai yang perlu dipertahankan sekaligus dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, kehadiran AI dan berbagai platform digital seharusnya menjadi peluang untuk memperluas akses belajar, meningkatkan kreativitas, serta memperkenalkan karya santri kepada masyarakat yang lebih luas.
Namun, pemanfaatan teknologi harus disertai kemampuan berpikir kritis. Santri perlu memahami bahwa informasi yang beredar di internet tidak seluruhnya benar, sementara hasil AI tetap membutuhkan pemeriksaan, penalaran, dan pertanggungjawaban manusia.
“Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak boleh menggantikan kejujuran dalam belajar dan tanggung jawab dalam berpikir. Santri harus mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk memperdalam ilmu, bukan sebagai jalan pintas yang menghilangkan proses belajar,” katanya.
Tiga Gagasan untuk Memperkuat Santri di Era Digital
Sebagai bagian dari upaya mendorong kemajuan komunikasi digital, Rifqi menawarkan tiga gagasan konstruktif yang dapat dikembangkan bersama oleh pesantren, pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas pemuda.
Pertama, penguatan literasi digital dan kecerdasan buatan. Pesantren perlu mendapatkan ruang pembelajaran yang mengenalkan cara kerja AI, pemeriksaan fakta, keamanan data pribadi, etika bermedia sosial, serta pencegahan penyebaran hoaks. Pembelajaran tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing pesantren.
Kedua, membangun ekosistem karya digital santri. Santri perlu didorong menghasilkan konten edukatif, tulisan ilmiah populer, dokumentasi sejarah pesantren, video pembelajaran, hingga inovasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, ruang digital tidak hanya dipenuhi konsumsi hiburan, tetapi juga pengetahuan, kreativitas, dan pesan-pesan kebaikan.
Ketiga, memperluas kolaborasi dan pemerataan akses teknologi. Pemerintah, dunia pendidikan, organisasi kepemudaan, dan sektor swasta dapat membangun program pelatihan, pendampingan, serta penyediaan fasilitas digital bagi pesantren, khususnya yang menghadapi keterbatasan jaringan internet, perangkat, dan tenaga pendamping.
Rifqi menilai, ketiga langkah tersebut perlu dijalankan dengan pendekatan yang realistis. Digitalisasi pesantren tidak harus dimulai dari fasilitas yang mahal, melainkan dari peningkatan kemampuan sumber daya manusia, pemanfaatan sarana yang tersedia, dan kerja sama yang berkelanjutan.
Komunikasi Digital Harus Membangun Kepercayaan
Dalam perspektif komunikasi digital, Rifqi menekankan pentingnya menjadikan santri sebagai bagian dari ekosistem informasi yang sehat. Santri dapat berkontribusi menyampaikan informasi yang benar, mengedukasi masyarakat, merawat persaudaraan, serta mengembangkan ruang publik yang santun dan produktif.
Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan berkomunikasi di era digital tidak cukup diukur dari banyaknya pengikut, jumlah tayangan, atau viralnya sebuah konten. Kualitas informasi, kejujuran sumber, dampak sosial, dan manfaat bagi masyarakat harus menjadi ukuran yang lebih penting.
“Konten yang baik bukan hanya konten yang ramai dibicarakan, tetapi konten yang memberikan pemahaman, menguatkan persaudaraan, dan mendorong masyarakat melakukan hal positif. Santri memiliki kesempatan besar untuk menghadirkan komunikasi digital yang menyejukkan sekaligus mencerdaskan,” ujarnya.
Menurut Rifqi, penguatan komunikasi digital juga perlu membuka ruang bagi santri untuk menyampaikan gagasan tentang pendidikan, ekonomi umat, lingkungan, kebudayaan, dan persoalan sosial di daerah masing-masing. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, pesantren dapat menjadi pusat lahirnya pemikiran dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Santri dan Masa Depan Indonesia
Rifqi menegaskan, semangat Hari Santri Nasional tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Peringatan ini perlu menjadi pengingat bahwa perjuangan santri harus terus berkembang melalui pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, pengabdian sosial, serta kemampuan menjawab perubahan zaman.
Ia berharap, santri semakin memperoleh kesempatan untuk berkembang sebagai generasi yang menguasai ilmu agama dan pengetahuan umum, memahami teknologi, serta mampu menghasilkan karya yang memberikan nilai tambah bagi bangsa.
“Santri masa depan adalah generasi yang teguh dalam nilai, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, cakap memanfaatkan teknologi, dan peka terhadap kebutuhan masyarakat. Kita ingin santri bukan hanya mampu beradaptasi dengan perubahan, tetapi juga ikut menentukan arah perubahan itu agar membawa manfaat bagi Indonesia,” tutup Rifqi.
Melalui semangat Hari Santri Nasional 2026, Rifqi mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi untuk membangun pendidikan pesantren yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kemanfaatan. Dengan perpaduan akhlak, ilmu, kreativitas, dan kecakapan digital, santri diharapkan semakin berperan dalam mewujudkan Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berkeadaban.



