RADAR24.co.id — Sebuah perguruan tinggi tidak hanya dibangun dari gedung, laboratorium, buku, dan angka-angka dalam peringkat akademik. Lebih dari itu, kampus dibangun dari marwah, integritas, dan keteladanan orang-orang yang mengelolanya.

Universitas Lampung (Unila) kini berada pada sebuah persimpangan penting. Pemilihan Rektor (Pilrek) 2026 untuk masa jabatan 2027–2031 menjadi momentum untuk menata kembali langkah, memperkuat tata kelola, sekaligus mengembalikan kepercayaan terhadap kampus tertua di Provinsi Lampung itu.

Citra Unila pernah terluka oleh kasus korupsi yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru. Karena itu, kebangkitan Unila tidak cukup hanya dengan membangun gedung baru atau mengejar prestasi akademik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kembali kepercayaan.

Di tengah momentum itu, nama Prof. Dr. Hamzah, SH, MH muncul sebagai salah satu figur yang membawa gagasan tentang integritas, transparansi, kebersamaan, dan keterhubungan antara ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Guru Besar Ilmu Hukum Perdata Fakultas Hukum Unila yang dipercaya sebagai Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI) Unila itu melihat bahwa kampus harus kembali menempatkan integritas sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan dan tata kelola.

Bagi Hamzah, good university governance bukan sekadar istilah yang terpampang dalam dokumen perencanaan. Ia harus hadir dalam keseharian kampus.

Setidaknya ada tiga hal yang menurutnya perlu diperkuat: transparansi keuangan, transparansi pembangunan, serta transparansi arah pengelolaan universitas, terutama dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Sebab, kampus yang besar bukan hanya kampus yang memiliki banyak profesor dan gedung megah. Kampus yang besar adalah kampus yang mampu menjaga kepercayaan.

Dalam konteks itulah Hamzah mengingat kembali sosok Prof. Dr. Ir. Sitanala Arsyad, rektor pertama Unila periode 1973–1981.

Sitanala Arsyad, putra Lampung Tengah, meninggalkan sebuah cerita sederhana tentang integritas. Ia disebut menolak tawaran rumah dan mobil dinas untuk kepentingan pribadinya.

Cerita itu mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah sebuah teladan bisa tumbuh.

Bagi Hamzah, Sitanala Arsyad meninggalkan legacy bahwa jabatan bukanlah ruang untuk mencari keuntungan pribadi. Jabatan adalah amanah, dan amanah itu harus dijaga bahkan dari hal-hal yang tampak kecil.

Ada pula cerita lain yang menurut Hamzah layak dikenang.

Setiap selesai salat Subuh, Sitanala Arsyad disebut berkeliling kampus. Ketika melihat pohon tumbang atau fasilitas yang rusak, ia segera berkoordinasi dengan staf agar persoalan tersebut segera ditangani.

Tidak ada persoalan yang dianggap terlalu kecil bagi seorang pemimpin.

“Sekelumit kisah sederhana itu dapat menjadi pedoman untuk berbuat lebih baik dan lebih besar lagi sebagai civitas kampus,” kata Hamzah.

Dari sana, kepemimpinan seperti menemukan maknanya yang paling sederhana: hadir, melihat, peduli, lalu bertindak.

Hamzah melihat Unila sebenarnya memiliki modal yang sangat besar untuk bangkit.

Kampus ini tidak berjalan sendirian. Di Lampung telah tumbuh sejumlah perguruan tinggi lain seperti UIN Raden Intan Lampung dan Institut Teknologi Sumatera (Itera), yang sama-sama bergerak membangun ekosistem pendidikan tinggi.

Di dalam tubuh Unila sendiri terdapat sumber daya manusia yang besar. Sekitar 1.309 dosen aktif, dengan sekitar 171 di antaranya merupakan guru besar atau profesor, tersebar di delapan fakultas, yakni Fakultas Pertanian, FKIP, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, FMIPA, FISIP, serta Fakultas Kedokteran.

Bagi Hamzah, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik.

Di baliknya terdapat profesor, peneliti, dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa yang menjadi energi besar bagi masa depan Unila. Karena itu, kolaborasi antarfakultas menjadi sangat penting.

Ia menyebut sejumlah tokoh yang selama ini dikenal memiliki dedikasi dan kiprah, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus, antara lain Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Adriani, DEA, IPM, ASEAN Eng; Prof. Dr. Ayi Ahadiat, SE; Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D; Dr. Budiyono, SH, MH; Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.KKLP; Prof. Rudy, SH, LLM, LLD; Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, S.Sos., M.Si., serta banyak akademisi lainnya.

Bagi Hamzah, mereka adalah bagian dari modal intelektual yang harus disatukan dalam satu energi besar. Bukan berjalan sendiri-sendiri, melainkan berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Salah satu contoh yang menurut Hamzah perlu diperkuat adalah Fakultas Pertanian.

Fakultas ini sejak lama memiliki reputasi sebagai salah satu kekuatan utama Unila. Di tengah agenda pemerintah mengenai swasembada pangan dan hilirisasi sektor pertanian serta perkebunan, peran tersebut menjadi semakin strategis.

Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas dan laboratorium. Ia harus turun ke sawah, masuk ke perkebunan, menyentuh kehidupan petani, dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Hamzah mengingat kembali gagasan Prof. Dr. Muhajir Utomo melalui konsep Tanpa Olah Tanah (TOT). Menurutnya, berbagai inovasi seperti itu perlu terus dikembangkan dan dihubungkan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Di sinilah konsep link and match menjadi penting. Hasil penelitian Fakultas Pertanian tidak seharusnya berhenti pada produksi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis dapat mengambil peran dalam mengembangkan aspek bisnis, pemasaran, pembiayaan, hingga hilirisasi produk.

Fakultas Hukum memberikan kepastian regulasi sekaligus menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam memastikan aturan main berjalan secara adil.

“Ubi societas ibi ius,” kata Hamzah, mengutip adagium hukum yang berarti di mana ada masyarakat, di situ ada hukum.

Ia mencontohkan persoalan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan larangan gabah keluar daerah.

Situasi semacam itu menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan hanya perkara produksi.

Di dalamnya ada petani, pedagang, penggilingan, tengkulak, pemerintah dan kepentingan masyarakat.

Di sinilah perguruan tinggi dapat memberikan gagasan berbasis kajian agar kebijakan tidak justru menimbulkan gesekan antarpihak.

Fakultas Teknik pun memiliki ruang yang luas. Di tengah era digital, teknologi dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Drone untuk pemupukan, mesin pengering skala pedesaan, teknologi pengolahan hasil pertanian dan berbagai inovasi lainnya merupakan contoh bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

Begitu pula fakultas dan program studi lainnya. Semua memiliki potensi untuk dihubungkan dengan kebutuhan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat.

Bagi Hamzah, link and match bukan sekadar jargon pendidikan. Perguruan tinggi harus mampu membaca denyut zaman. Dunia industri membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan. Pemerintah membutuhkan hasil riset yang dapat membantu menyelesaikan persoalan pembangunan.

Masyarakat membutuhkan ilmu yang dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kurikulum, penelitian dan inovasi harus terus diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Semangat tersebut, menurut Hamzah, juga harus diletakkan dalam kerangka Asta Cita dan wawasan kebangsaan menuju Indonesia Emas 2045.

Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak boleh berjalan di ruang yang terpisah dari cita-cita bangsa. Pendidikan harus mencerdaskan. Penelitian harus menemukan jalan keluar. Pengabdian harus menghadirkan manfaat.Dan semuanya membutuhkan satu kata yang sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan: kebersamaan.

Sebab Unila bukan hanya milik rektor, bukan pula milik profesor, dosen, mahasiswa atau tenaga kependidikan. Unila adalah rumah besar ilmu pengetahuan di Lampung. Rumah yang pernah terluka itu kini membutuhkan tangan-tangan yang mau merawatnya.

Prof. Dr. Hamzah, SH, MH menyatakan siap mewakafkan pemikiran, tenaga dan pengabdiannya untuk ikut mengembalikan marwah Unila, memperkuat tata kelola, serta membawa kampus tersebut semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat Lampung dan cita-cita Indonesia.

Pada akhirnya, sebuah kampus tidak dikenang hanya karena siapa yang pernah duduk di kursi rektor. Ia dikenang karena jejak apa yang ditinggalkan setelah sang pemimpin meninggalkan kursinya. Dan barangkali, di sanalah makna kepemimpinan menemukan ukurannya: bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa jauh ia mampu membuat orang lain tumbuh.