Peter F. Drucker suatu kali menulis, If you want something new, you have to stop doing something old. Kalimat ini sederhana, tapi maknanya tajam: tidak mungkin sebuah perubahan nyata lahir bila kita terus mengandalkan resep lama.

Hari ini, kutipan itu terasa relevan ketika Presiden Prabowo Subianto kembali merombak kabinetnya. Reshuffle biasanya dimaknai sebagai momentum pembaruan, tanda bahwa seorang pemimpin hendak menegaskan arah baru.

Dalam reshuffle 8 September 2025, Prabowo menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani. Ia juga mengangkat Ferry Juliantono sebagai Menteri Koperasi menggantikan Budi Arie, Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah, serta Mukhtarudin sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran. Sebelumnya, pada Februari 2025, Prabowo juga mengganti Satryo Soemantri Brodjonegoro dengan Brian Yuliarto di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ralph Waldo Emerson pernah menegaskan, All life is an experiment. The more experiments you make the better. Hidup, kata Emerson, adalah laboratorium besar. Politik pun demikian. Reshuffle bisa dilihat sebagai eksperimen: menempatkan orang berbeda dalam konfigurasi baru dengan harapan hasilnya lebih baik. Namun, bukankah eksperimen yang berulang dengan bahan yang sama sering kali hanya menghasilkan pola lama?

Franklin D. Roosevelt memberi pesan yang lebih lugas: Take a method and try it. If it fails, admit it frankly and try another. But above all, try something. Metode yang gagal seharusnya tidak dipertahankan. Lebih baik mengakuinya, lalu mencoba sesuatu yang lain.

Karena itu, jika reshuffle kali ini dianggap masih setengah hati, rekomendasinya jelas: Prabowo harus berani menyentuh jabatan strategis lain yang masih diisi figur era Jokowi. Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Agus Subiyanto, misalnya, bisa diganti dengan sosok lebih segar untuk menghadapi tantangan keamanan dan pertahanan ke depan.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin juga sebaiknya digantikan demi memastikan reformasi hukum berjalan tanpa beban masa lalu. Begitu pula tokoh lain seperti Tito Karnavian (Menteri Dalam Negeri), Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian), Bahlil Lahadalia (Menteri ESDM), Agus Gumiwang Kartasasmita (Menteri Perindustrian), Sakti Wahyu Trenggono (Menteri Kelautan dan Perikanan), Pratikno (Menko PMK), Zulkifli Hasan (Menko Pangan), Raja Juli Antoni (Menteri Kehutanan), hingga Erick Thohir (Menteri BUMN).

Semua nama itu bisa dipertimbangkan untuk diganti, bukan sekadar dipertahankan dan mengulang pola lama.

Drucker, Emerson, dan Roosevelt sejatinya sepakat dalam satu hal: keberanian untuk berhenti, bereksperimen, dan mencoba metode baru adalah inti dari pertumbuhan. Pertanyaannya, apakah kabinet Prabowo benar-benar bergerak ke arah itu—atau hanya sekadar mengulang lingkaran lama yang pernah berjalan di era Jokowi?

Penulis: Dodi Sanjaya