RADAR24.co.id –– Penyebab utama krisis air bersih yang melanda warga Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, akhirnya terungkap. Kelangkaan air yang sudah berlangsung selama hampir seminggu ini ternyata disebabkan oleh kerusakan pipa akibat kegiatan penggalian proyek pembangunan drainase di Jalan Lintas Timur.

Warga membenarkan bahwa pekerjaan pembangunan saluran air tersebut menggunakan alat berat ekskavator hingga merusak jaringan pipa utama milik Perusahaan Air Minum (PAM) yang menyuplai kebutuhan warga.

“Benar, penyebabnya karena ada penggalian proyek drainase pakai ekskavator. Pipa air kami ketabrak dan rusak, sehingga aliran air terhenti total,” ujar salah satu warga, Minggu (3/5/2026).

Diketahui, proyek pembangunan saluran drainase tersebut sudah berlangsung selama 7 hari terakhir. Akibat insiden ini, aliran air yang seharusnya mengalir lancar ke rumah-rumah warga, khususnya di wilayah Kampung Nelayan, terputus total.

Hingga saat ini, tercatat lebih 200 kepala keluarga (KK) harus menanggung dampak kerugian. Mereka kesulitan mendapatkan air untuk mandi, mencuci, dan memasak karena pasokan dari PAM belum kunjung pulih.

Warga pun mendesak pihak kontraktor pelaksana proyek maupun pengelola PAM untuk segera memperbaiki kerusakan tersebut.

“Air adalah kebutuhan pokok kami sehari-hari. Tolong segera diperbaiki, kami sudah hampir seminggu kesulitan air,” tegas warga.

Berkah Penjual Air

Di tengah kesulitan yang dialami warga, situasi ini justru menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang air tangki.

Agus Zen, salah satu warga, mengaku terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air. “Kami mau tidak mau harus beli air tangki karena PAM rusak. Beban pengeluaran jadi bertambah,” ujarnya.

Sementara itu, Antoni, seorang pedagang air, mengakui omzetnya melonjak drastis hingga 10 kali lipat. Jika biasanya hanya melayani 3-4 mobil tangki per hari, kini ia bisa mengantar hingga 30-40 mobil dalam sehari semalam.

“Dari pagi sampai malam orderan terus. Alhamdulillah rezeki,” ujar Antoni.

Dengan harga jual Rp60.000 per tangki (wadah 500 liter), satu mobil bisa membawa 2 tangki meraup Rp120.000. Jika dikalikan 40 mobil, maka omzet yang didapat bisa mencapai Rp4,8 juta per hari.

Meski demikian, warga tetap berharap masalah ini cepat selesai agar pasokan air bersih kembali normal dan biaya hidup masyarakat bisa kembali ringan.