RADAR24.co.id — Aroma janggal menyelimuti pelaksanaan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Ajang yang semestinya menjadi panggung adu bakat dan kreativitas pelajar itu kini justru terseret isu dugaan kecurangan administratif yang mengundang kecurigaan publik.

Sorotan tajam muncul setelah beredarnya Surat Keputusan (SK) penetapan pemenang lomba yang diduga telah diterbitkan sebelum kegiatan berlangsung.

Situasi ini dinilai tidak hanya tidak lazim, tetapi juga berpotensi mencederai prinsip dasar kompetisi yang menjunjung tinggi objektivitas dan keadilan.

Bendahara Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Susoh (IPPELMAS), Zayed Taufikurrahmad, menilai kejanggalan tersebut sebagai persoalan serius yang tidak bisa dianggap sepele.

Ia mempertanyakan integritas proses penyelenggaraan lomba yang seharusnya menjadi ruang adil bagi pelajar untuk berkompetisi.

“Kalau benar SK pemenang sudah terbit sebelum lomba dilaksanakan, ini bukan lagi sekadar kelalaian administratif. Ini menyangkut integritas dan kepercayaan publik. Bagaimana mungkin hasil sudah ditentukan sebelum proses penilaian berlangsung?” ujar Zayed kepada media ini, Rabu (6/5/2026).

Kecurigaan semakin menguat ketika, sehari setelah SK itu beredar, kegiatan lomba justru digelar secara mendadak. Pola ini memunculkan asumsi liar di tengah masyarakat bahwa pelaksanaan lomba hanya menjadi formalitas sekadar pelengkap untuk mengesahkan hasil yang diduga telah ‘dikunci’ sebelumnya.

Menurut Zayed, jika dugaan ini terbukti benar, maka dampaknya tidak hanya merugikan peserta yang telah mempersiapkan diri secara maksimal, tetapi juga mencoreng wajah dunia pendidikan, khususnya dalam upaya pembinaan bakat generasi muda.

“FLS3N itu bukan sekadar lomba, tapi ruang pembinaan. Kalau ruang ini dirusak dengan praktik yang tidak transparan, maka yang hilang bukan hanya keadilan, tapi juga kepercayaan generasi muda terhadap sistem,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa kepercayaan publik adalah modal utama dalam setiap penyelenggaraan kegiatan pendidikan.

Ketika transparansi diabaikan, maka legitimasi hasil lomba pun akan selalu dipertanyakan.

IPPELMAS, lanjut Zayed, mendesak pihak penyelenggara dan instansi terkait untuk segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik.

Penjelasan yang transparan dinilai penting untuk menghindari spekulasi yang semakin liar sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat.

“Harus ada penjelasan yang jujur dan terbuka. Kalau memang ada kekeliruan, akui dan perbaiki. Jangan sampai ini menjadi preseden buruk bagi kegiatan serupa ke depan,” katanya.

Di tengah polemik ini, publik menunggu jawaban yang tegas, apakah FLS3N Abdya masih menjadi panggung adil bagi pelajar, atau justru berubah menjadi sekadar seremoni yang hasilnya telah ditentukan sejak awal.*