RADAR24.co.id — Aksi premanisme kembali mencoreng momen bahagia wisuda. Sebuah mobil milik keluarga wisudawan dirusak saat terparkir di samping Gedung Pinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM), kamis (16/4).
Peristiwa ini diduga dipicu penolakan korban membayar uang parkir sebesar Rp 20 ribu kepada oknum yang mengaku sebagai juru parkir.
Korban baru menyadari kerusakan pada kendaraannya setelah acara wisuda selesai. Saat itu, bagian bamper depan mobil ditemukan dalam kondisi rusak, dengan baut yang sengaja dilepas.
Dalam narasi video yang viral di media sosial, korban mengaku awalnya memarkir kendaraan secara mandiri tanpa bantuan juru parkir.
“Kami cari parkir sendiri, tidak ada yang arahkan. Posisi mobil juga sudah rapi,” ungkapnya.
Namun tak lama setelah parkir, seorang pria datang dan meminta uang sebesar Rp 20 ribu. Korban menolak karena pria tersebut tidak dapat menunjukkan identitas resmi sebagai petugas parkir.
Penolakan itulah yang diduga menjadi pemicu aksi perusakan mobil.
Humas PD Parkir Makassar Raya, Asrul, memastikan bahwa pelaku bukan petugas resmi, melainkan juru parkir liar.
Ia menyebut pihaknya telah menurunkan tim Satgas untuk menelusuri identitas pelaku dan membuka peluang proses hukum jika korban melapor.
“Yang bersangkutan sedang kami telusuri. Jika korban keberatan, kami arahkan untuk melapor agar bisa diproses secara hukum,” jelas Asrul.
Asrul juga menyinggung minimnya koordinasi antara pihak kampus dan PD Parkir saat pelaksanaan wisuda. Hal itu dinilai membuat pihaknya tidak dapat melakukan antisipasi di lapangan.
Menurutnya, lonjakan kendaraan saat acara besar kerap dimanfaatkan oleh oknum jukir liar untuk melakukan pungutan ilegal.
“Kami tidak mendapat informasi adanya kegiatan besar, sehingga sulit melakukan pengamanan sejak awal,” ujarnya.
PD Parkir pun berharap ke depan pihak kampus lebih aktif berkoordinasi, terutama saat agenda wisuda akbar.
Sementara itu, Kepala UPT Keamanan UNM, Dahlan, menegaskan bahwa insiden tersebut terjadi di luar area kampus, tepatnya di Jalan Pendidikan Raya.
Ia mengungkapkan kawasan tersebut memang kerap menjadi titik rawan konflik, bahkan melibatkan dua kelompok preman yang memperebutkan lahan parkir.
“Di sana memang sering bermasalah. Pernah hampir terjadi baku tikam saat wisuda sebelumnya,” ungkap Dahlan.
Meski demikian, ia menyebut kedua kelompok tersebut belakangan telah dibina dan diatur pembagian wilayahnya oleh PD Parkir.
Kasus ini kembali menyoroti praktik jukir liar yang memanfaatkan keramaian acara besar untuk melakukan pungutan tidak resmi.
Dalam kasus ini, korban menegaskan tidak pernah menerima bantuan parkir, namun tetap diminta membayar.
Penolakan tersebut justru berujung pada aksi perusakan yang merugikan.



