RADAR24.co.id — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terpuruk tajam dan menembus angka psikologis baru pada perdagangan Rabu pagi (27/5/2026). Berdasarkan data pasar keuangan internasional dan pengamatan Bloomberg, mata uang Garuda melemah hingga menyentuh level Rp17.858,90 per satu dolar AS, posisi terendah yang pernah dicatat sepanjang sejarah perekonomian Indonesia .
Angka ini naik sekitar 115 poin atau sekitar 0,65 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di angka Rp17.743,00, sekaligus memecahkan rekor pelemahan yang terjadi sehari sebelumnya. Tekanan jual terhadap rupiah terasa kuat sejak awal sesi perdagangan, seiring menguatnya indeks dolar AS di pasar global yang mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Analis pasar uang menyebutkan, pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Secara global, ketegangan geopolitik yang belum mereda serta kekhawatiran kebijakan suku bunga The Fed yang masih bertahan tinggi membuat investor lebih memilih aset aman berdenominasi dolar AS. Sementara di dalam negeri, kekhawatiran akan inflasi pasca-libur panjang Idul Adha serta permintaan valas yang tinggi dari sektor impor turut menekan pergerakan mata uang lokal.
“Sentimen negatif menumpuk. Investor menunggu kebijakan terbaru Bank Indonesia dan arah kebijakan fiskal pemerintah. Selama ketidakpastian masih ada, rupiah berpotensi terus diuji di level-level baru,” ujar salah satu analis ekonomi.
Kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia juga ikut terkoreksi ke angka Rp17.812,50, naik signifikan dibanding hari sebelumnya. Di tingkat perbankan, harga jual dolar AS bahkan sudah menyentuh kisaran Rp17.900 hingga Rp17.930 di beberapa bank besar, sementara harga beli berada di angka Rp17.780 – Rp17.800.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah intervensi khusus yang diumumkan Bank Indonesia, meski otoritas moneter berulang kali menegaskan kesiapannya untuk menstabilkan nilai tukar agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Pelemahan ini berpotensi menaikkan biaya impor bahan baku dan energi, yang nantinya bisa berdampak pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok di masyarakat. Pemerintah dan Bank Indonesia diminta segera merumuskan langkah konkret untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan menahan laju pelemahan rupiah agar tidak berimbas luas ke stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi nasional.



