Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Di era digital, komunikasi menjadi semakin mudah. Namun, banyak orang justru mengeluhkan telepon yang tidak diangkat dan pesan yang tidak dibalas. Fenomena ini terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari urusan keluarga, pekerjaan, hutang-piutang, hingga dunia pendidikan. Tentu tidak semua orang yang sulit dihubungi dapat dianggap tidak peduli. Ada yang memang sedang sibuk, mengajar, rapat, atau jarang membuka telepon genggam. Namun, berbeda halnya jika seseorang sengaja menghindari komunikasi padahal ada pihak lain yang sedang menunggu kepastian.
Psikologi Perilaku Menghindar
Dalam psikologi dikenal istilah avoidance behavior atau perilaku menghindar. Menurut B.F. Skinner (1953) dan Aaron Beck (1976), perilaku ini muncul ketika seseorang berusaha menghindari situasi yang dianggap tidak nyaman atau berpotensi menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan. Contohnya menghindari telepon dari penagih hutang, mengabaikan pesan yang meminta klarifikasi, atau tidak merespons pihak yang sedang menunggu keputusan. Perilaku ini mungkin memberikan ketenangan sementara, tetapi sering kali memperburuk masalah di kemudian hari. Mengapa Orang Tidak Merespons?. Beberapa faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab antara lain, kecemasan terhadap konsekuensi yang akan dihadapi (Freud, 1926), rasa bersalah sehingga memilih diam daripada memberi penjelasan, kepribadian menghindar, yaitu kesulitan menghadapi konflik secara langsung, kelelahan mental akibat tekanan pekerjaan atau masalah hidup, dan rendahnya empati terhadap perasaan orang lain. Menurut Daniel Goleman (1995), empati merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional yang membantu seseorang memahami dampak perilakunya terhadap orang lain.
Membedakan Sibuk dengan Sengaja Mengabaikan
Tidak semua keterlambatan respons merupakan bentuk pengabaian. Orang yang benar-benar sibuk biasanya tetap menunjukkan itikad baik dengan menghubungi kembali atau memberikan penjelasan ketika memiliki kesempatan. Sebaliknya, orang yang sengaja mengabaikan cenderung membaca pesan tanpa membalas, sulit dihubungi pada saat memiliki tanggung jawab tertentu, atau menghilang tanpa penjelasan. Perbedaannya terletak pada adanya tanggung jawab dan kepedulian terhadap pihak lain.
Ketidakpastian yang Menyiksa
Sering kali yang menyakitkan bukanlah jawaban negatif, melainkan ketidakpastian. Misalnya seseorang berjanji membayar hutang pada waktu tertentu, tetapi ketika ditagih telepon tidak diangkat dan pesan tidak dibalas. Menurut Charles Berger (1975) melalui Uncertainty Reduction Theory, manusia secara alami membutuhkan kepastian. Ketika kepastian tidak diperoleh, kecemasan dan kekecewaan akan meningkat. Seringkali kejadian fatal, ketika ada seseorang merasa kesabarang sudah habis dan telah khilaf serta gelap mata, bisa melakukan penyiksaan bahkan pembunuhan akibat adanya ingkar janji, termasuk dalam hal pelunasan hutang piutang.
Ketika Mahasiswa Menunggu Tanpa Kepastian
Fenomena ini juga sering ditemukan di dunia kampus. Mahasiswa datang untuk bimbingan atau mengurus administrasi akademik, tetapi dosen yang dijanjikan tidak hadir dan sulit dihubungi. Akibatnya, mahasiswa harus datang berulang kali, mengeluarkan biaya tambahan, dan mengalami tekanan psikologis. Tidak sedikit orang tua yang ikut kecewa karena melihat anaknya kesulitan menyelesaikan studi akibat minimnya kepastian komunikasi. Adakalanya terdapat mahasiswa yang merasa jenuh ada yang sekedar mendoakan kejelekan atas dosennya, dan bahkan ada memutuskan untuk pindah kampus atau putus kuliah. Tentu hal ini tidak berlaku bagi semua dosen. Banyak dosen yang profesional dan mudah dihubungi dan menjaga empati dan simpati kepada mahasiswa, dan siap secara telaten mengantarkan mahasisnya sampai lulus studinya. Namun kasus-kasus seperti ini tetap menjadi pelajaran penting tentang arti tanggung jawab akademik oleh semua pihak.
Perspektif Islam: Jangan Menzalimi Sesama
Islam mengajarkan pentingnya menjaga amanah dan tidak menyakiti orang lain. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58). Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi.”(HR. Muslim). Ketika seseorang memiliki amanah yang menyangkut kepentingan orang lain, maka memberikan kepastian merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Seringkali diingatkan kepada kita “apa tidak takut dosa?”?, “ apa memang sudah tidak membutuhkan bantuan orang lain?”, dan pertayaan lain yang mengingat kita untuk berhati-hati dalam bersikap dan bertindak kepada sesame, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan, dan sebaliknya saling membantu dalam segala kondisi.
Tepo Seliro dan Piil Pesenggiri
Budaya Nusantara juga mengajarkan nilai yang sejalan dengan empati. Masyarakat Jawa mengenal konsep “Tepo Seliro”, yaitu kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain. Tidak menyakiti oranglain sebagaimana dirinya tidak mau disakiti. Sementara dalam budaya Lampung terdapat nilai “Nemui Nyimah” dan “Nengah Nyappur” yang menekankan penghormatan, keramahan, dan hubungan sosial yang baik. Nilai-nilai tersebut mengingatkan bahwa apa yang tidak kita sukai untuk diri sendiri, jangan sampai kita lakukan kepada orang lain. Sebagai contoh mudah dihubungi dan tidak mengabaikan ketika teman memerlukan kita, dan bertanggung jawab jika ada klarifikasi seseorang kepada kita atas sesuatu hal terkait kita dengan orang tersebut, baik secara bertemu langsung atau via telopon dan pesan WA dan cara lainnya.
Apakah Perilaku Ini Bisa Diperbaiki?
Perilaku menghindar bukan selalu gangguan mental. Dalam banyak kasus, ia merupakan kebiasaan yang dapat diperbaiki melalui meningkatkan empati, membiasakan memberi respons singkat, belajar komunikasi asertif, berani menghadapi konflik secara sehat, dan mencari bantuan konselor atau psikolog bila diperlukan. Sering kali satu kalimat sederhana seperti “Maaf, saya belum bisa menjawab sekarang, nanti saya hubungi kembali” jauh lebih menenangkan daripada diam tanpa kabar. Dengan demikian relasi dan interaksi komunikasi dengan oranglain bisa tetap terjaga dengan baik dan meminimalisir kesalahfahaman, yang terkadang jika salah dalam menanggapi dengan emosi tinggi bisa menjadi pertengkaran, permusuhan serta hal fatal lainnya.
Akhirnya, mari kita pahami bahwa telepon yang tidak diangkat dan pesan yang tidak dibalas bukan sekadar persoalan komunikasi, tetapi juga persoalan empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama. Dalam psikologi, budaya, maupun ajaran Islam, memberikan kepastian merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap hak orang lain. Sebab sering kali yang dibutuhkan seseorang bukanlah jawaban yang menyenangkan, melainkan jawaban yang jelas dan penuh kepastian. Karena itu, sebelum mengabaikan telepon atau pesan seseorang, ada baiknya kita bertanya “Jika saya berada di posisi orang yang sedang menunggu jawaban, bagaimana perasaan saya?”. Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi awal tumbuhnya empati, tanggung jawab, dan hubungan sosial yang lebih sehat, dan tetap menjaga interaksi dan komunikasi yang harmonis tanpa ada prasangka yang salah, menyenangkan dan membahagiakan sesama anggota keluarga, kerabat, tetangga, teman dan mitra kerja kita.



