Oleh: Agdela Inka Vanisa
(Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung)
Ada satu pengalaman yang mungkin familiar bagi banyak mahasiswa: tugas yang sama, dikerjakan di tempat dan waktu yang berbeda, bisa terasa sangat berbeda bebannya. Selesai kerja kelompok, lalu lanjut mengerjakan tugas individu berdua bersama teman dekat, tiba-tiba muncul semangat untuk cepat menyelesaikannya. Namun begitu sampai di kos atau rumah sendirian, tugas yang sama itu terasa berat, ditunda, bahkan kadang baru dikerjakan menjelang deadline. Padahal materinya sama, dosennya sama, dan tenggat waktunya juga sama. Yang berbeda hanya satu: ada tidaknya orang lain di sekitar saat mengerjakannya. Tentu ini adalah pengamatan berdasarkan pengalaman pribadi, dan tidak menutup kemungkinan setiap orang memiliki responsnya sendiri terhadap kehadiran teman saat belajar.
Kehadiran Orang Lain yang Diam-Diam Mendorong Produktivitas
Fenomena ini pernah dijelaskan oleh Robert Zajonc lewat teori fasilitasi sosial (social facilitation), yang menyatakan bahwa kehadiran orang lain, meski tidak ikut membantu secara langsung, dapat meningkatkan dorongan seseorang untuk menyelesaikan suatu tugas. Duduk berdua dengan teman dekat sambil sama-sama membuka laptop menciptakan semacam tekanan positif: ada rasa tidak enak untuk terus-menerus membuka media sosial atau menunda pekerjaan ketika orang di sebelah terlihat serius mengerjakan tugasnya. Dorongan ini bukan datang dari paksaan, melainkan dari kehadiran sosial itu sendiri.
Belajar Bersama sebagai Bentuk Dukungan yang Tidak Selalu Berupa Bantuan Langsung
Vygotsky, lewat konsepnya tentang pembelajaran sosial, menekankan bahwa proses belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan orang lain di sekitarnya, termasuk teman sebaya. Menariknya, dukungan dari teman dekat saat mengerjakan tugas tidak selalu berbentuk penjelasan materi atau bantuan menjawab soal. Terkadang, cukup dengan kehadirannya saja, seseorang sudah merasa punya “teman seperjuangan” yang membuat proses mengerjakan tugas terasa lebih ringan secara emosional, meski keduanya mengerjakan bagian masing-masing dalam diam.
Rasa Tidak Enak sebagai Bentuk Akuntabilitas Sosial
Ada pula unsur akuntabilitas sosial yang bekerja di sini. Ketika mengerjakan tugas sendirian di rumah, tidak ada yang tahu kalau tugas itu ditunda satu atau dua jam. Namun ketika bersama teman dekat, ada semacam komitmen tidak tertulis untuk sama-sama produktif. Rasa ingin terlihat konsisten di depan orang yang dipercaya, atau sekadar tidak ingin terlihat lebih malas dibanding teman sendiri, ternyata cukup efektif menjadi pendorong untuk segera menyelesaikan pekerjaan, dibandingkan ketika hanya diri sendiri yang menjadi pengawas.
Mengapa Rumah Justru Sering Menjadi Tempat yang Kurang Produktif
Di sisi lain, rumah atau kos justru sering menjadi lingkungan yang penuh distraksi tanpa disadari. Tidak ada orang lain yang “mengawasi” secara sosial, ditambah kenyamanan tempat tidur dan gawai yang mudah dijangkau, membuat rasa malas lebih mudah muncul dan bertahan lebih lama. Ini bukan soal kurangnya niat, melainkan soal bagaimana lingkungan fisik dan sosial ikut membentuk kesiapan seseorang untuk mulai bekerja.
Pada akhirnya, hubungan pertemanan ternyata memberi pengaruh yang lebih besar terhadap semangat belajar dibandingkan yang sering disadari. Bukan karena teman tersebut mengajarkan materi secara langsung, melainkan karena kehadirannya menciptakan suasana yang membuat seseorang merasa lebih bertanggung jawab, lebih fokus, dan lebih ringan dalam menghadapi tugas yang sama yang terasa berat bila dikerjakan sendirian. Psikologi pendidikan mengingatkan bahwa belajar bukan semata proses individual, melainkan juga proses sosial yang dibentuk oleh siapa yang ada di sekitar kita saat proses itu berlangsung. Meski demikian, pengaruh ini tentu tidak berlaku sama untuk semua orang. Ada yang justru lebih produktif ketika sendirian tanpa gangguan sosial sama sekali. Sudut pandang ini lebih merupakan refleksi pribadi yang mungkin dirasakan pula oleh sebagian mahasiswa lain.


