Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Peristiwa hilangnya lima jurnalis ketika meliput erupsi gunung Anak Krakatau, telah menimbulkan kesedihan tidak hanya dirasakan oleh keluarga tetapi teman seprofesi jurnalis dan Masyarakat semuanya. Bagi teman-teman seprofesi, peristiwa tersebut dapat menghadirkan kecemasan yang lebih luas. Muncul kesadaran bahwa risiko yang dialami seorang kawan hari ini mungkin saja menjadi risiko yang mereka hadapi ketika menjalankan tugas esok hari. Situasi tersebut dapat dipahami melalui konsep collective grief dan collective anxiety. Kesedihan dan kecemasan tidak lagi hanya menjadi pengalaman personal, tetapi dapat berkembang menjadi pengalaman bersama karena adanya kesamaan identitas dan profesi.
Relihan, Jones, Holman, dan Silver (2023) menunjukkan bahwa ketika sebuah peristiwa traumatis menjadi pengalaman yang diketahui secara luas melalui media, kesamaan identitas dengan korban dapat meningkatkan perasaan rentan pada diri seseorang. Dengan kata lain, semakin seseorang merasa “korban adalah bagian dari kelompok saya”, semakin besar kemungkinan peristiwa tersebut dirasakan secara personal. Dalam konteks jurnalis, identitas sebagai sesama pekerja pers menjadi salah satu penghubung psikologis tersebut.
Identitas Profesi dan Kecemasan Kolektif
Identitas profesional bukan sekadar label pekerjaan. Bagi banyak jurnalis, profesi merupakan bagian dari cara mereka memahami diri dan kelompok sosialnya. Ketika seorang jurnalis mengalami musibah, anggota komunitas pers dapat mengalami apa yang disebut shared social identity, yaitu rasa memiliki terhadap kelompok yang sama. Identitas bersama tersebut dapat memperkuat empati, tetapi juga membuat ancaman terhadap satu anggota kelompok terasa lebih dekat. Penelitian Relihan et al. (2023) mengenai shared social identity and media transmission of trauma menemukan bahwa identitas sosial bersama dapat memperkuat perasaan kerentanan ketika seseorang atau kelompok yang dianggap bagian dari “kelompok kita” menjadi sasaran atau mengalami trauma.
Karena itu, pertanyaan seperti “Bagaimana jika besok saya yang mengalami?” bukanlah reaksi yang berlebihan. Dalam perspektif psikologi sosial, pertanyaan tersebut dapat muncul karena individu melihat pengalaman rekannya sebagai sesuatu yang relevan dengan dirinya. Pada titik tertentu, kecemasan tersebut justru dapat menjadi pengingat penting mengenai keselamatan kerja. Jurnalis menjadi lebih sadar terhadap risiko, lebih berhati-hati, dan lebih terdorong untuk saling menjaga.
Solidaritas sebagai Sumber Ketahanan Psikologis
Di tengah kecemasan, komunitas memiliki kekuatan yang sangat penting yaitu dukungan sosial. Ntontis et al. (2021) melalui penelitian tentang collective resilience menemukan bahwa identitas sosial yang muncul dalam komunitas dapat berkaitan dengan rasa memiliki terhadap nasib bersama, collective efficacy, kesejahteraan, dan pemberian dukungan sosial. Temuan tersebut relevan dengan komunitas jurnalis. Ketika terjadi musibah terhadap seorang rekan, solidaritas dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk: saling memberikan informasi, mendampingi keluarga korban, membantu pencarian, melakukan advokasi, hingga sekadar memastikan rekan-rekan lain dalam kondisi aman.
Dukungan tersebut memiliki fungsi psikologis. Seseorang yang menghadapi kecemasan akan lebih kuat ketika mengetahui bahwa dirinya tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri. Vignoles et al. (2021) juga menunjukkan bahwa identitas sosial bersama dapat menjadi dasar untuk memobilisasi tindakan yang mendukung kesejahteraan dan respons yang lebih tangguh dalam menghadapi situasi krisis. Dengan demikian, solidaritas profesi bukan hanya persoalan moral, tetapi juga dapat menjadi sumber daya psikologis.
Vicarious Trauma dan Collective Resilience
Jurnalis memiliki karakter pekerjaan yang membuat mereka rentan terhadap paparan pengalaman traumatis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Xiong dan Liao (2024) dalam penelitian terhadap jurnalis menemukan hubungan antara vicarious exposure to trauma, secondary traumatic stress, empati, dan vicarious post-traumatic growth. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan terhadap trauma dapat memberikan dampak psikologis negatif, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat diikuti perubahan psikologis yang positif. Artinya, pengalaman traumatis tidak selalu berakhir pada keterpurukan. Dengan dukungan yang tepat, pengalaman tersebut dapat mendorong refleksi, kepedulian, solidaritas, dan kesadaran yang lebih kuat mengenai pentingnya keselamatan.
Konsep inilah yang dapat dikaitkan dengan collective resilience, yaitu kemampuan kelompok untuk menghadapi peristiwa sulit, mempertahankan hubungan sosial, saling mendukung, serta kembali menjalankan fungsi bersama. Penelitian tentang resiliensi kelompok menunjukkan bahwa ketika sebuah kelompok menghadapi tekanan, kohesi dan dukungan sosial menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Karena itu, komunitas jurnalis perlu memiliki ruang untuk membicarakan pengalaman emosional. Kesedihan, ketakutan, dan kecemasan tidak seharusnya selalu disembunyikan atas nama profesionalisme.
Dalam perspektif Islam, solidaritas tersebut memiliki landasan yang kuat. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2). Rasulullah SAW juga bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim). Pesan tersebut selaras dengan prinsip psikologi sosial bahwa manusia memiliki kekuatan ketika merasa menjadi bagian dari kelompok yang saling mendukung.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa hilangnya seorang jurnalis dapat menjadi pengalaman psikologis bagi seluruh komunitas pers. Kesamaan profesi membuat peristiwa tersebut tidak hanya dipandang sebagai kehilangan seorang individu, tetapi juga sebagai ancaman yang mungkin dialami anggota kelompok lainnya. Karena itu, collective grief, collective anxiety, empati, dan vicarious trauma dapat muncul bersamaan dengan solidaritas dan collective resilience. Tantangannya adalah bagaimana kecemasan tidak berubah menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Sebaliknya, kecemasan dapat menjadi energi untuk memperkuat keselamatan kerja, komunikasi, dukungan sosial, dan kepedulian antarsesama jurnalis. Pada akhirnya, komunitas profesi yang sehat bukanlah komunitas yang tidak pernah mengalami kehilangan. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang mampu berduka bersama, saling menguatkan, belajar dari peristiwa, dan kembali menjalankan tugas dengan kesadaran bahwa setiap anggotanya berharga. Ketika seorang kawan seprofesi hilang, pertanyaannya memang bukan hanya, “Di mana dia?” Tetapi juga: “Bagaimana kita menjaga satu sama lain agar tidak ada lagi yang menghadapi risiko sendirian?”.


