NTT – Penanganan pascagempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur terus bergerak dari fase tanggap darurat menuju pemulihan. Salah satu fokus utama pemerintah saat ini adalah pembangunan hunian sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 28 September 2026, sebanyak 39 unit hunian sementara telah selesai dibangun, sementara 1.148 unit lainnya masih dalam proses pembangunan. Data tersebut mencakup sejumlah kabupaten terdampak gempa di NTT.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pembangunan hunian sementara dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada hasil verifikasi penerima manfaat yang ditetapkan pemerintah daerah.
Dalam proses pembangunan hunian sementara, BNPB akan menyelesaikan secara bertahap berdasarkan jumlah penerima manfaat yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah, kata Berton.
Pada masa transisi darurat menuju pemulihan, pemerintah memberikan dua pilihan bagi warga dengan rumah rusak berat, yakni memperoleh Dana Tunggu Hunian untuk menyewa rumah atau memilih pembangunan hunian sementara. BNPB menyebut sebagian besar warga terdampak memilih opsi hunian sementara.
Progres Pembangunan di Sejumlah Kabupaten
Di Kabupaten Manggarai, empat unit hunian sementara telah selesai dibangun. Sebanyak 50 unit lainnya tercatat memiliki progres pembangunan di atas 50 persen, sedangkan 60 unit masih berada pada progres di bawah 50 persen. Data tersebut berasal dari hasil verifikasi terhadap 1.494 rumah yang mengalami kerusakan berat.
Di Manggarai Timur, pembangunan hunian sementara tahap pertama mencakup target 1.305 unit dengan konsep insitu dan eksitu. Dari jumlah tersebut, enam unit telah rampung dan 561 unit masih dalam pengerjaan. Sementara di Ngada, 11 unit telah selesai dan 272 unit lainnya masih dalam proses.
Kabupaten Nagekeo mencatat sembilan unit hunian sementara insitu telah selesai dan 173 unit masih dalam pengerjaan. Di Sikka, dua unit telah berdiri, masing-masing tipe keluarga dan komunal, dengan 25 unit lainnya dikerjakan secara paralel. Adapun di Ende, tujuh unit telah selesai dan tujuh unit masih dalam proses pembangunan.
Untuk Manggarai Barat, pemerintah daerah masih menyelesaikan Surat Keputusan penerima bantuan berdasarkan nama dan alamat. Langkah tersebut berkaitan dengan adanya warga yang sebelumnya memilih Dana Tunggu Hunian kemudian beralih memilih hunian sementara.
BNPB juga menyatakan penentuan titik pembangunan hunian sementara dilakukan melalui sosialisasi dan musyawarah dengan masyarakat terdampak. Lokasi pembangunan disesuaikan dengan kondisi di lapangan, sementara pemerintah daerah menyiapkan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Tiga Kabupaten Masuk Fase Pemulihan
Perkembangan pembangunan hunian tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan tahapan penanganan bencana di sejumlah wilayah. Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Nagekeo mengakhiri masa tanggap darurat pada akhir September 2026 dan memasuki tahapan transisi menuju pemulihan.
Peralihan status tersebut tidak berarti seluruh dampak gempa telah selesai ditangani. Sebaliknya, kebutuhan hunian, layanan dasar, rehabilitasi, dan rekonstruksi masih menjadi bagian dari pekerjaan pada fase berikutnya. Pemerintah daerah terdampak juga masih menyiapkan berbagai dokumen perencanaan pemulihan.
Ada Pilihan Dana Tunggu Hunian bagi Penyintas
Selain pembangunan hunian sementara, pemerintah menyediakan Dana Tunggu Hunian untuk membantu keluarga yang kehilangan tempat tinggal memenuhi kebutuhan sewa hunian sementara. BNPB juga telah menetapkan bantuan stimulan perbaikan rumah berdasarkan tingkat kerusakan.
Untuk rumah rusak ringan, bantuan ditetapkan sebesar Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta, dan rusak berat Rp70 juta. BNPB menyatakan data penerima diverifikasi secara by name by address dengan pendampingan Badan Pusat Statistik.
Skema tersebut menunjukkan bahwa pemulihan hunian tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik hunian sementara. Masyarakat terdampak juga diberikan pilihan dukungan sesuai kondisi tempat tinggal dan hasil verifikasi masing-masing.
Baznas Ikut Perkuat Dukungan
Dukungan terhadap penyintas juga datang dari Baznas RI. Lembaga tersebut membangun 10 unit hunian sementara yang tersebar di Kabupaten Manggarai Timur dan Ngada, masing-masing sembilan unit di Manggarai Timur dan satu unit di Ngada.
Pimpinan Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan Baznas RI Idy Muzayyad mengatakan hunian sementara tersebut disiapkan sebagai tempat tinggal sementara bagi penyintas selama menunggu pemulihan hunian permanen.
Huntara ini kami bangun agar para penyintas punya tempat tinggal yang layak dan aman selama menunggu pemulihan hunian permanen, kata Idy.
Selain pembangunan hunian sementara, Baznas RI melaporkan telah menyalurkan 145.100 liter air bersih, 84.250 porsi makanan dapur umum, serta memberikan layanan kesehatan kepada 821 pasien. Baznas juga mendirikan empat masjid darurat dan tiga sekolah darurat bagi penyintas gempa.
Dengan berakhirnya masa tanggap darurat di sejumlah wilayah dan berlanjutnya pembangunan hunian sementara, penanganan gempa NTT kini memasuki tahapan yang lebih panjang. Pembangunan hunian, bantuan sewa sementara, perbaikan rumah, layanan kebutuhan dasar, serta persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi bagian dari proses pemulihan yang masih berjalan.*



