RADAR24.co.id — Di tengah keramaian aktivitas pembangunan yang kerap dinanti-nantikan kucuran dana pemerintah, Desa Sriminosari, Kecamatan Labuhan Maringgai, menunjukkan sisi lain semangat gotong royong yang mulai jarang ditemui. Kepala Dusun 2, Parsidi, seolah “menampar” pola pikir warga yang kerap hanya mengeluh dan menunggu uluran tangan negara, dengan membuktikan bahwa kemajuan desa juga bisa diwujudkan lewat kekuatan sendiri.
Pada Senin pagi, 4 Mei 2026, suasana di aliran sungai yang membelah wilayah dusun itu tampak begitu hidup. Puluhan warga tampak bahu-membahu, bergantian mengaduk adukan semen, menyusun batu-batu besar, hingga meratakan beton. Di antara mereka, terlihat sosok Parsidi yang tidak hanya memberi arahan, tapi ikut terlibat langsung mengotori tangan dan bajunya, bekerja setara dengan warga lainnya.
“Jangan cuma mengandalkan anggaran pemerintah terus. Kita sebagai warga juga punya tanggung jawab untuk membangun desa, itu bukti kalau kita benar-benar peduli dengan lingkungan tempat kita tinggal. Jangan cuma bisa mengeluh ke sana ke mari, tapi tak pernah mau bergerak melakukan sesuatu,” ujar Parsidi di sela-sela kesibukannya, nada bicaranya tegas namun penuh makna.
Gerakan ini berangkat dari keprihatinan bersama. Selama ini, akses penghubung yang ada hanyalah jembatan darurat yang dibuat dari tumpukan batang pohon kelapa. Kondisinya sudah sangat rapuh, lapuk dimakan usia, dan rawan roboh. Bukan hanya menghambat aktivitas, jembatan itu juga menjadi sumber kekhawatiran karena membahayakan keselamatan anak-anak yang setiap hari melintasnya untuk berangkat sekolah, serta para petani yang mengangkut hasil bumi mereka.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, warga akhirnya sepakat mengumpulkan dana secara swadaya. Uang yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli bahan bangunan, sementara tenaga kerja sepenuhnya disumbangkan secara sukarela oleh warga.
Kegiatan mulia ini turut mendapat dukungan dari perangkat desa. Pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) juga ikut turun tangan membantu mengangkat material bangunan. Tak hanya itu, mereka juga bertugas mengawasi penggunaan uang kas swadaya agar pengelolaannya berjalan transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh warga.
Parsidi menjelaskan, pembangunan jembatan ini bukan sekadar memperbaiki infrastruktur, melainkan menyelamatkan urat nadi perekonomian warga. Menurutnya, jika akses ini terputus atau rusak, maka hasil pertanian warga akan sulit dibawa keluar ke pasar, dan anak-anak akan terancam keselamatannya saat menempuh pendidikan.
“Daripada kita menunggu kepastian yang belum jelas kapan datangnya, lebih baik kita bergerak sekarang juga. Inilah bentuk cinta dan rasa memiliki kita terhadap desa sendiri,” tegasnya dengan semangat.
Hingga menjelang sore hari, semangat warga tak kunjung padam. Pekerjaan pengecoran pondasi terus dikebut dengan penuh semangat. Bergantian mereka bekerja, berbagi lelah dan tawa, seolah ingin membuktikan bahwa dengan kebersamaan dan kemauan, segala hambatan bisa diatasi, dan kemajuan tak harus selalu datang dari luar.



