Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Ribuan warga memadati jalan-jalan Desa Pegiringan, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, saat mengantarkan jenazah Kepala Desa Drs. Sukandar menuju tempat peristirahatan terakhir. Pemandangan tersebut menjadi viral di media sosial dan mengundang kekaguman banyak orang. Masyarakat yang hadir tidak hanya berasal dari Desa Pegiringan, tetapi juga dari desa-desa sekitar yang mengenal sosok almarhum. Aparat desa menyebut jumlah pelayat mencapai lebih dari dua ribu orang. Mereka datang karena mengenal pribadi almarhum sebagai pemimpin yang sederhana, dekat dengan masyarakat, tidak membeda-bedakan latar belakang, dan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena tersebut bukan sekadar peristiwa sosial atau tradisi mengantar jenazah. Perspektif psikologi terapan memandangnya sebagai manifestasi dari identitas sosial, solidaritas komunal, dan ikatan emosional kolektif yang terbentuk melalui hubungan panjang antara pemimpin dan masyarakat. Duka yang dirasakan bersama menjadi bukti bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya menghasilkan kebijakan, tetapi juga melahirkan rasa memiliki yang kuat di dalam komunitas.

Identitas Sosial: Pemimpin Menjadi Bagian dari Warganya

Henri Tajfel dan John Turner (1979) melalui “Social Identity Theory” menjelaskan bahwa manusia mendefinisikan dirinya bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai anggota kelompok. Keluarga, organisasi, desa, maupun bangsa menjadi bagian dari identitas seseorang. Ketika identitas kelompok terbentuk dengan kuat, keberhasilan maupun kehilangan yang dialami kelompok akan dirasakan sebagai pengalaman pribadi oleh setiap anggotanya. Dalam masyarakat desa, kepala desa bukan sekadar pejabat administratif. Ia hadir dalam musyawarah, kegiatan keagamaan, gotong royong, panen, hajatan, hingga saat warga mengalami musibah. Intensitas interaksi tersebut menjadikan pemimpin sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat.

Ketika sosok seperti itu meninggal dunia, masyarakat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin, tetapi juga kehilangan bagian dari identitas bersama. Kehadiran ribuan pelayat merupakan ekspresi psikologis bahwa “ia adalah bagian dari kita.” Michael Hogg (2006) menjelaskan bahwa pemimpin yang dipersepsikan sebagai representasi nilai-nilai kelompok (prototypical leader) akan memperoleh kepercayaan dan loyalitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan pemimpin yang hanya memiliki legitimasi formal. Kepemimpinan semacam ini tidak dibangun melalui kekuasaan, melainkan melalui kesamaan nilai, kedekatan, dan keteladanan.

Solidaritas Komunal sebagai Buah Kepercayaan

Émile Durkheim (1912) menyebut bahwa masyarakat akan memperlihatkan solidaritas ketika mereka memiliki nilai, pengalaman, dan tujuan bersama. Solidaritas bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui interaksi yang konsisten dan saling menguatkan. Robert Putnam (2000) menjelaskan bahwa kepercayaan (trust) merupakan inti dari modal sosial (social capital). Ketika masyarakat percaya kepada pemimpinnya, mereka lebih mudah bekerja sama, saling membantu, dan menjaga harmoni sosial. Kepercayaan tersebut lahir dari pengalaman nyata, seperti keadilan dalam mengambil keputusan, kesediaan mendengarkan aspirasi warga, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Solidaritas yang tampak pada pemakaman Drs. Sukandar menunjukkan bahwa hubungan antara pemimpin dan masyarakat telah melampaui relasi birokratis. Hubungan tersebut berkembang menjadi ikatan emosional yang membuat masyarakat merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan penghormatan terakhir. Perspektif psikologi terapan mengajarkan bahwa kepercayaan adalah investasi jangka panjang. Setiap tindakan adil, setiap sapaan yang tulus, dan setiap kehadiran dalam kesulitan warga menjadi “tabungan psikologis” yang suatu saat akan kembali dalam bentuk penghormatan dan loyalitas.

Duka Kolektif sebagai Cermin Ikatan Emosional

Psikologi sosial mengenal konsep “collective grief”, yaitu pengalaman kehilangan yang dirasakan bersama oleh suatu komunitas. Berbeda dengan kesedihan individu, duka kolektif memperkuat hubungan sosial karena setiap anggota komunitas saling berbagi emosi dan dukungan. Jonathan Haidt (2003) menjelaskan bahwa menyaksikan kehidupan seseorang yang penuh keteladanan dapat memunculkan “moral elevation”, yaitu perasaan haru, kagum, dan terdorong untuk melakukan kebaikan yang sama. Duka dalam konteks ini tidak hanya berisi kesedihan, tetapi juga rasa syukur karena pernah mengenal sosok yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Albert Bandura (1986) melalui “Social Cognitive Theory” menegaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Keteladanan seorang pemimpin yang konsisten akan menjadi model perilaku bagi masyarakat. Oleh karena itu, kehilangan seorang pemimpin yang dihormati juga berarti kehilangan figur teladan yang selama ini menjadi acuan moral komunitas. Fenomena ini menjelaskan mengapa ribuan warga rela meluangkan waktu untuk mengantar jenazah. Mereka tidak sekadar menghadiri prosesi pemakaman, tetapi juga sedang mengekspresikan rasa hormat, terima kasih, dan penghargaan terhadap nilai-nilai yang diwariskan almarhum.

Persaudaraan, Ukhuwah, dan Amal yang Dikenang

Islam mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia dibangun di atas persaudaraan, kasih sayang, dan saling menolong. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10). Persaudaraan tersebut bukan sekadar hubungan biologis, melainkan ikatan hati yang lahir karena keimanan dan kebaikan. Allah Swt. juga berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa komunitas yang sehat dibangun melalui budaya saling membantu dan saling menguatkan. Pemimpin yang menumbuhkan budaya tersebut akan memperoleh tempat istimewa di hati masyarakat. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini menggambarkan mekanisme psikologis solidaritas komunal. Kesedihan seseorang dapat dirasakan oleh seluruh komunitas karena adanya ikatan emosional yang kuat. Kehadiran ribuan pelayat pada pemakaman kepala desa merupakan bentuk nyata dari ukhuwah sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Implikasi Psikologi Terapan bagi Kepemimpinan Desa

Peristiwa di Pemalang memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan kepemimpinan tidak cukup diukur melalui indikator pembangunan fisik atau capaian administratif. Kepemimpinan juga perlu dinilai melalui indikator psikologis, seperti tingkat kepercayaan masyarakat, rasa memiliki terhadap komunitas, kualitas hubungan sosial, serta kemampuan pemimpin membangun solidaritas. Pelatihan bagi kepala desa dan aparatur pemerintahan semestinya tidak hanya berisi aspek regulasi, administrasi, dan tata kelola pemerintahan. Materi mengenai komunikasi empatik, active listening, resolusi konflik, kecerdasan emosional, psikologi komunitas, dan penguatan modal sosial perlu menjadi bagian penting dalam pengembangan kapasitas kepemimpinan. Pemimpin yang memahami psikologi masyarakat akan lebih mampu menciptakan lingkungan yang aman secara emosional, meningkatkan partisipasi warga, serta memperkuat kohesi sosial. Dampaknya tidak hanya dirasakan selama masa jabatan, tetapi juga menjadi warisan sosial yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa viralnya pemakaman Kepala Desa Pegiringan memperlihatkan bahwa penghormatan terbesar kepada seorang pemimpin lahir dari hubungan kemanusiaan yang dibangun sepanjang hidupnya. Ribuan warga yang hadir bukan sekadar mengikuti tradisi, melainkan mengekspresikan identitas sosial, solidaritas komunal, dan rasa kehilangan yang dirasakan bersama. Psikologi terapan menjelaskan bahwa identitas sosial yang kuat, kepercayaan yang tinggi, dan ikatan emosional yang sehat akan melahirkan komunitas yang tangguh dan saling mendukung. Perspektif Islam menguatkan bahwa persaudaraan, amanah, dan kebermanfaatan merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang harmonis. Pada akhirnya, pemimpin yang paling dikenang bukanlah mereka yang paling lama menjabat atau paling banyak berbicara, melainkan mereka yang berhasil menghadirkan rasa kebersamaan sehingga ketika kepergiannya tiba, masyarakat merasa kehilangan bukan hanya seorang pejabat, tetapi seorang anggota keluarga besar yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.