Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Gerakan literasi merupakan langkah penting dalam meningkatkan kemampuan membaca anak Indonesia. Namun, program literasi tidak cukup hanya dilaksanakan secara berkala. Tantangan utamanya adalah bagaimana kegiatan membaca berubah menjadi perilaku yang dilakukan secara berulang hingga menjadi kebiasaan. Dalam perspektif psikologi terapan, perubahan tersebut membutuhkan pembiasaan, motivasi, pengalaman positif, dan dukungan lingkungan yang konsisten. Hasil PISA dapat menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan kemampuan membaca, tetapi capaian angka perlu diikuti perubahan perilaku. Anak perlu dibiasakan membaca bukan hanya ketika mendapatkan tugas sekolah, tetapi juga ketika ingin mengetahui sesuatu, mencari informasi, atau menikmati bacaan.
Dari Program Menjadi Kebiasaan
Dalam psikologi perilaku, B.F. Skinner melalui konsep operant conditioning menjelaskan bahwa perilaku yang memperoleh penguatan positif cenderung lebih mungkin diulang. Prinsip ini dapat diterapkan dalam literasi melalui apresiasi terhadap usaha membaca, kesempatan memilih buku, atau kegiatan menyenangkan setelah membaca. Penguatan tidak harus berupa hadiah, tetapi dapat berupa perhatian dan penghargaan terhadap proses anak. Buttigieg dan Greer (2026) menunjukkan pentingnya penguatan dalam membangun perilaku yang berkaitan dengan interaksi anak dengan buku. Oleh karena itu, kegiatan literasi sebaiknya dilakukan secara sederhana tetapi konsisten, misalnya membaca 15–20 menit setiap hari, membaca bersama orang tua, atau menceritakan kembali isi bacaan. Pengulangan yang konsisten akan membantu membaca berkembang dari sebuah kegiatan menjadi kebiasaan.
Motivasi sebagai Penggerak Literasi
Kebiasaan membaca akan lebih kuat apabila didukung oleh motivasi dari dalam diri. Ryan dan Deci (2020) melalui Self-Determination Theory menjelaskan bahwa motivasi berkembang ketika individu memperoleh kesempatan untuk menentukan pilihan, merasa mampu, dan memiliki hubungan positif dengan lingkungan sosialnya. Dalam konteks literasi, anak dapat diberi kesempatan memilih buku sesuai minat, membaca sesuai tingkat kemampuannya, dan berbagi cerita mengenai bacaan dengan guru, orang tua, atau teman. Engler dan Westphal (2024) menunjukkan bahwa dukungan otonomi dari guru berkaitan dengan motivasi intrinsik dalam membaca. Artinya, anak perlu didorong untuk membaca, tetapi tidak semata-mata melalui paksaan.
Sinergi Sekolah, Keluarga, Masyarakat, dan Pemerintah
Budaya literasi tidak dapat dibangun oleh sekolah seorang diri. Sekolah berperan menyediakan pembelajaran dan pengalaman membaca yang menarik. Keluarga memperkuatnya melalui keteladanan dan kebiasaan membaca di rumah. Masyarakat menyediakan perpustakaan, taman bacaan, komunitas, dan ruang sosial untuk berinteraksi dengan buku. Sementara itu, pemerintah memastikan tersedianya kebijakan, fasilitas, akses buku, serta program yang berkelanjutan. Sinergi tersebut penting karena anak berada dalam berbagai lingkungan secara bersamaan. Ketika sekolah mengajak membaca, orang tua membiasakannya di rumah, masyarakat menyediakan ruang literasi, dan pemerintah mendukung infrastrukturnya, anak memperoleh pesan yang konsisten bahwa membaca merupakan bagian penting dari kehidupan.
Strategi Psikologi Terapan
Strategi literasi perlu diarahkan pada pembentukan perilaku yang realistis dan berkelanjutan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah menetapkan waktu membaca harian, memberikan pilihan bacaan, memberikan apresiasi terhadap konsistensi, menciptakan kegiatan membaca bersama, serta menghubungkan isi bacaan dengan pengalaman anak. Pendekatan tersebut menempatkan anak sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima program. Tujuannya bukan membuat anak membaca karena takut mendapatkan hukuman atau nilai rendah, tetapi membangun pengalaman positif sehingga anak secara bertahap memiliki kemauan dan kebiasaan membaca.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa gerakan literasi akan menjadi budaya apabila membaca dilakukan secara berulang, bermakna, menyenangkan, dan didukung oleh lingkungan. Psikologi terapan memberikan landasan bahwa pembentukan kebiasaan membutuhkan motivasi, penguatan positif, keteladanan, dan konsistensi. Karena itu, sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah perlu bergerak dalam satu arah. Keberhasilan literasi bukan hanya ditunjukkan oleh peningkatan skor membaca, tetapi ketika anak terbiasa membaca, memiliki motivasi untuk mencari pengetahuan, mampu memahami informasi, dan menggunakan hasil bacaannya dalam kehidupan. Dengan demikian, perjalanan literasi dapat bergerak dari gerakan menjadi kebiasaan, dan dari kebiasaan menjadi budaya.



