Oleh: Aguswan Khotibul Umam (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Masyarakat Indonesia dikejutkan oleh kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa seorang perempuan berinisial YTR (29) di Kabupaten Bandung. Korban diduga mengalami penyiksaan dan penyekapan selama kurang lebih tiga tahun oleh kekasihnya sendiri hingga mengalami luka berat dan kebutaan permanen. Peristiwa tragis ini bukan hanya kasus kriminal, tetapi juga menjadi cermin tentang bagaimana hubungan yang awalnya dibangun atas nama cinta dapat berubah menjadi ruang kekerasan yang menghancurkan fisik, mental, dan masa depan seseorang. Kasus ini mengundang pertanyaan mendalam dari perspektif psikologi: mengapa seseorang dapat bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan? Mengapa korban tidak segera melapor atau meminta pertolongan? Dan mengapa pelaku mampu mengendalikan korban dalam waktu yang begitu lama?
Cinta yang Sehat dan Cinta yang Merusak
Dalam kehidupan normal, cinta seharusnya memberikan rasa aman, penghargaan, perlindungan, dan dukungan emosional. Namun dalam hubungan yang tidak sehat, cinta sering berubah menjadi alat kontrol dan dominasi. Psikolog Amerika Robert Sternberg (1986) melalui “Triangular Theory of Love” menjelaskan bahwa cinta yang sehat dibangun atas tiga komponen yaitu: Intimacy (kedekatan emosional), Passion (ketertarikan dan kasih sayang) dan Commitment (komitmen dan tanggung jawab). Ketika salah satu pihak menggunakan ancaman, intimidasi, atau kekerasan untuk mempertahankan hubungan, maka yang terjadi bukan lagi cinta, melainkan bentuk penguasaan terhadap pasangan. Dalam kasus kekerasan dalam pacaran, pelaku sering mengatasnamakan cinta untuk membenarkan perilaku posesif dan kontrol berlebihan. Kalimat seperti “Aku melakukan ini karena sayang.”, “Aku cemburu karena cinta.” Dan “Aku tidak ingin kehilangan kamu.” sering menjadi pembenaran atas tindakan yang sesungguhnya merupakan kekerasan psikologis.
Trauma Bonding: Ketika Korban Sulit Meninggalkan Pelaku
Salah satu teori yang dapat menjelaskan kasus seperti ini adalah “Trauma Bonding Theory” yang diperkenalkan oleh Patrick Carnes (1997). Trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku akibat siklus kekerasan yang terus berulang. Pola yang sering terjadi pelaku melakukan kekerasan. korban terluka dan ketakutan, pelaku meminta maaf, pelaku menunjukkan kasih saying, korban memaafkan dan kekerasan terulang kembali. Lama-kelamaan korban menjadi terikat secara emosional dan merasa sulit melepaskan diri meskipun terus disakiti. Fenomena ini menjelaskan mengapa sebagian korban kekerasan tetap bertahan dalam hubungan yang berbahaya.
Learned Helplessness: Merasa Tidak Berdaya
Psikolog Martin Seligman (1975) memperkenalkan teori “Learned Helplessness” atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Menurut teori ini, seseorang yang terus-menerus mengalami penderitaan dan gagal keluar dari situasi tersebut akan mulai percaya bahwa dirinya memang tidak mampu mengubah keadaan. Korban kemudian pasrah terhadap perlakuan pelaku, kehilangan harapan, takut mengambil Keputusan, tidak percaya diri untuk melapor dan merasa tidak ada yang dapat menolongnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat korban bertahan dalam hubungan yang sangat berbahaya.
Manipulasi dan Kontrol dalam Hubungan Beracun
Psikolog Evan Stark (2007) memperkenalkan konsep “Coercive Control”. Pelaku kekerasan sering tidak langsung melakukan penyiksaan fisik. Mereka terlebih dahulu membangun kontrol terhadap korban melalui membatasi pergaulan, menjauhkan korban dari keluarga, mengontrol telepon dan media sosial, mengatur aktivitas harian korban, dan menanamkan rasa takut. Ketika korban sudah terisolasi, pelaku lebih mudah melakukan kekerasan tanpa diketahui orang lain. Karena itu, salah satu tanda bahaya terbesar dalam hubungan adalah ketika pasangan mulai melarang seseorang berhubungan dengan keluarga dan sahabatnya.
Pentingnya Percaya kepada Keluarga Inti
Salah satu pelajaran penting dari berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan adalah pentingnya menjaga komunikasi dengan keluarga inti. Secara psikologis, keluarga berfungsi sebagai: Support System. Menurut Cobb (1976), dukungan sosial dari keluarga dapat menjadi faktor perlindungan utama terhadap stres dan kekerasan. Keluarga yang sehat mampu menjadi tempat bercerita, memberikan perspektif objektif, menjadi tempat berlindung saat terjadi masalah dan membantu mengambil keputusan penting. Banyak korban kekerasan terjebak karena terlalu mengandalkan pasangan dan perlahan menjauh dari keluarga yang sebenarnya dapat membantu mereka.
Jangan Cinta Buta
Dalam psikologi hubungan, cinta yang matang berbeda dengan cinta yang buta.
Psikolog perkembangan Erik Erikson (1968) menjelaskan bahwa kedewasaan emosional ditandai oleh kemampuan membangun hubungan intim tanpa kehilangan identitas diri. Sebaliknya, cinta buta ditandai oleh mengabaikan tanda-tanda bahaya, membenarkan perilaku buruk pasangan, menolak nasihat keluarga, mengorbankan harga diri, dan menganggap pasangan selalu benar. Ketika seseorang kehilangan kemampuan berpikir kritis karena cinta, maka ia menjadi lebih rentan terhadap manipulasi dan kekerasan.
Pentingnya Kedewasaan Berpikir dan Bertindak
Kedewasaan bukan hanya soal usia, tetapi kemampuan menggunakan akal sehat dalam mengambil keputusan. Menurut Jean Piaget (1972), individu yang telah mencapai tahap “Formal Operational Thinking” mampu berpikir logis, mempertimbangkan risiko, dan memprediksi konsekuensi jangka panjang. Dalam hubungan, kedewasaan terlihat dari kemampuan untuk mengenali red flag, menetapkan batasan yang sehat, mengatakan “tidak” terhadap perlakuan buruk, dan berani meninggalkan hubungan yang merusak. Cinta yang sehat tidak pernah menuntut seseorang mengorbankan keselamatan dirinya.
Red Flag yang Tidak Boleh Diabaikan
Beberapa tanda hubungan berbahaya yang perlu diwaspadai pasangan terlalu posesif, yaitu melarang bertemu keluarga, mengontrol telepon dan media sosial, mudah marah dan mengancam, menggunakan kekerasan verbal, menghina atau merendahkan, mengisolasi dari lingkungan sosial, dan menggunakan kekerasan fisik sekecil apa pun.
Dalam psikologi kekerasan, satu tamparan sering kali bukan akhir, tetapi awal dari siklus kekerasan yang lebih besar.
Perspektif Islam: Cinta Tidak Boleh Menzalimi
Islam menempatkan hubungan laki-laki dan perempuan di atas fondasi kasih sayang dan penghormatan. Allah SWT berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21). Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan hubungan adalah ketenteraman (sakinah), bukan ketakutan. Allah SWT juga berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terus berada dalam situasi yang membahayakan. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kebaikan seseorang justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang terdekatnya. Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah). Kekerasan fisik maupun psikologis jelas bertentangan dengan prinsip Islam.
Pelajaran untuk Para Perempuan
Kasus di Bandung memberikan pelajaran penting bagi seluruh Perempuan yaitu jangan mudah menyerahkan seluruh hidup kepada pacar, pertahankan komunikasi dengan keluarga, jangan merahasiakan kekerasan yang dialami, dengarkan nasihat orang tua dan saudara, waspadai pasangan yang terlalu mengontrol, jangan menganggap kekerasan sebagai bukti cinta, dan segera cari pertolongan ketika muncul tanda bahaya. Cinta yang sehat membuat seseorang berkembang, sedangkan cinta yang beracun membuat seseorang kehilangan kebebasan, harga diri, bahkan keselamatan hidupnya.
Akhirnya penting dipahami bahwa kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa YTR merupakan tragedi kemanusiaan yang menyisakan luka mendalam. Dari perspektif psikologi, peristiwa ini menunjukkan bagaimana manipulasi, trauma bonding, ketidakberdayaan, dan isolasi sosial dapat membuat seseorang terjebak dalam hubungan yang sangat berbahaya. Islam dan psikologi sama-sama mengajarkan bahwa cinta sejati tidak pernah dibangun di atas kekerasan, ketakutan, atau penyiksaan. Cinta yang benar melahirkan ketenangan, penghormatan, dan perlindungan. Karena itu, setiap perempuan perlu memiliki keberanian untuk berpikir dewasa, menjaga hubungan dengan keluarga, mengenali tanda-tanda bahaya, dan menyadari bahwa tidak ada cinta yang layak dipertahankan jika harus dibayar dengan keselamatan, martabat, dan masa depan diri sendiri.



