Oleh: Edi Arsadad S.H,. (Redaksi)

RADAR24.co.id — Setiap kali kabut asap menyelimuti langit Lampung, hati kita pun ikut berkabut. Berkali-kali kita mendengar berita yang sama: Taman Nasional Way Kambas terbakar lagi. Seolah ada “lebaran api” yang datang berulang tahun ke tahun, menghanguskan hutan belantara, rumah ribuan satwa langka, dan harapan kita akan ekosistem yang lestari. Way Kambas, harta warisan bangsa, kini kerap berubah menjadi lahan hangus dan kepulan asap yang menyayat hati.

Apa Sebenarnya Penyebabnya?

Pertanyaan yang terus berulang namun jawabannya seringkali berhenti di permukaan. Apa yang sebenarnya terjadi di balik kebakaran yang tak kunjung usai ini?

Penyebabnya bukan tunggal, melainkan rangkaian masalah yang saling mengait. Pertama, faktor manusia. Sebagian besar kebakaran berawal dari aktivitas pembakaran lahan untuk pembukaan areal pertanian, perkebunan, maupun pemukiman yang terus merambah masuk ke kawasan taman nasional. Praktik bakar-dibuang ini dianggap cara termurah dan tercepat, tanpa peduli api bisa lepas kendali dan merambat ke hutan primer.

Kedua, kondisi lingkungan yang rentan. Musim kemarau yang semakin panjang dan suhu udara yang kering membuat vegetasi hutan menjadi sangat mudah terbakar. Sekali ada percikan api, hutan kering itu ibarat tumpukan jerami yang siap melalap dalam hitungan jam.

Ketiga, pengawasan yang masih lemah. Luas kawasan Way Kambas mencapai lebih dari 1.300 kilometer persegi, namun jumlah petugas dan sarana prasarana pengawasan belum sebanding dengan luas wilayah tersebut. Celah inilah yang dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Bagaimana Seharusnya Pemadaman Dilakukan?

Kebakaran hutan tidak bisa diselesaikan hanya dengan memadamkan api saat sudah membesar. Itu sudah terlambat.

Pemadaman yang efektif harus dimulai dari pencegahan dini. Patroli rutin dan pengawasan ketat di titik-titik rawan harus dilakukan setiap saat, bukan hanya saat api sudah berkobar. Saat kebakaran terjadi, penanganan harus cepat, terkoordinasi, dan melibatkan tim gabungan petugas taman nasional, pemadam kebakaran, kepolisian, hingga masyarakat sekitar.

Penting juga untuk menggunakan pendekatan berbasis ekosistem. Pemadaman tidak boleh merusak tanah dan tanaman yang masih hidup. Setelah api padam, harus ada upaya pemulihan lahan dan penanaman kembali agar hutan bisa pulih kembali.

Mengapa Selalu Berulang? Apakah Kita Tidak Pernah Belajar?

Ini pertanyaan paling menyakitkan namun harus kita tujukan pada diri sendiri: Mengapa kebakaran Way Kambas selalu berulang? Apakah kita tidak pernah belajar dari kejadian sebelumnya?

Setiap tahun kerugian ditimbulkan satwa mati, habitat rusak, paru-paru Lampung terganggu, biaya pemadaman yang tak sedikit dikeluarkan, namun pola yang sama terus terulang. Ini menandakan bahwa akar masalah belum tuntas. Pendekatan yang dilakukan masih bersifat darurat, bukan solusi jangka panjang. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan belum tegas dan menyeluruh. Kesadaran masyarakat di sekitar kawasan juga belum sepenuhnya tumbuh bahwa Way Kambas bukan musuh, melainkan penopang kehidupan bersama.

Jika setiap tahun kita hanya sibuk memadamkan api tanpa menghentikan penyebabnya di hulu, maka Way Kambas akan terus membakar, dan kita akan terus menyesalinya tanpa akhir.

Mari Kita Jaga Bersama, Sebelum Semua Habis Menjadi Abu

Way Kambas bukan milik satu pihak saja. Ia milik seluruh rakyat Lampung, milik Indonesia, milik bumi ini. Di dalamnya hidup gajah sumatera, harimau sumatera, badak bercula satu, dan ribuan spesies lain yang tidak punya tempat lain untuk pulang jika hutan ini habis.

Kepada pemerintah: pertegas pengawasan, tegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan berikan solusi ekonomi bagi warga sekitar agar tidak bergantung pada pembakaran lahan.

Kepada seluruh masyarakat: sadari bahwa asap yang kita hirup adalah hasil dari kelalaian kita. Jangan pernah membakar lahan, jangan merambah kawasan hutan, dan laporkan setiap aktivitas yang mencurigakan di kawasan taman nasional.

Way Kambasku sayang, jangan biarkan ia terus membara. Mari kita jadikan ia tempat yang lestari, tempat di mana hutan tetap hijau, satwa hidup bebas, dan udara bersih bisa kita hirup bersama. Menjaga Way Kambas bukan sekadar tugas petugas itu adalah tanggung jawab kita semua, demi masa depan anak cucu kita.