RADAR24.co.id — Upaya menekan angka interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus digencarkan melalui pendekatan berbasis alam.
Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK kini mengembangkan program strategis berupa pembangunan pagar sarang lebah di batas kawasan konservasi yang tidak hanya berfungsi menghalau gajah, tetapi juga mendongkrak ekonomi warga melalui potensi budidaya lebah Apis cerana.
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, menjelaskan pembangunan pagar di batas kawasan ini merupakan langkah taktis untuk mengatasi persoalan klasik konflik manusia dan gajah yang telah berlangsung sejak dekade 1980-an.
Menurut Sriyanto, konflik tersebut merupakan masalah kompleks yang dipicu oleh krisis keanekaragaman hayati serta dinamika kepentingan pembangunan, sehingga membutuhkan solusi terpadu.
“Untuk mengatasi hal ini diperlukan solusi terpadu, seperti menciptakan kawasan satwa liar, memanfaatkan teknologi, dan mendorong upaya konservasi berbasis komunitas,” ungkap Brigjen TNI Sriyanto.
Sebagai bagian dari solusi tersebut, metode pagar sarang lebah yang mengadopsi praktik dari Afrika diterapkan untuk memanfaatkan insting alami satwa agar menjauh tanpa risiko cedera.
“Pagar sarang lebah adalah salah satu solusi berbasis alam yang telah diujicoba di Afrika untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi. Suara dengungan dan sengatan lebah akan membuat gajah merasa takut dan menjauh namun tidak membahayakan gajah,” jelas Sriyanto.
Selain aspek konservasi, program ini menitikberatkan pada nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat sekitar zona penyangga melalui budidaya lebah madu asli Indonesia jenis Apis cerana yang sangat cocok dengan iklim tropis. Potensi ekonomi ini didorong mengingat kebutuhan madu nasional terus meningkat setiap tahunnya.
“Kebutuhan madu di Indonesia terus naik 10-15% per tahun. Data Kemenkes 2024: konsumsi madu kita baru 220 gram/kapita/tahun, padahal impor madu masih >60% dari total kebutuhan,” papar data acuan program tersebut.
Dari sisi produktivitas, satu koloni Apis cerana mampu menghasilkan 5 hingga 8 kilogram madu per tahun. Dengan asumsi harga jual mencapai Rp150.000 per kilogram, pemeliharaan 10 koloni lebah berpotensi memberikan tambahan penghasilan keluarga yang signifikan.
“1 koloni Apis cerana bisa hasilkan 5-8 kg madu/tahun. Dengan harga Rp150.000/kg, 10 koloni bisa jadi tambahan penghasilan Rp7,5 juta – Rp15 juta/tahun. Ini potensi besar untuk UMKM dan ekonomi keluarga di Bandar Lampung,” lanjut keterangan dalam program tersebut.
Selain mendatangkan pendapatan finansial bagi UMKM lokal, program ini juga memperkuat sektor ekologi dan pertanian warga. Berdasarkan data FAO 2023, sebanyak 75% tanaman pangan sangat bergantung pada proses penyerbukan oleh lebah.
“Keberadaan lebah membantu menjaga ekosistem, membantu proses penyerbukan tanaman di sekitar perkebunan warga,” pungkas Brigjen TNI Sriyanto.



