Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, Sag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam situasi bencana, seperti erupsi Gunung Anak Krakatau, menuntut guru melakukan berbagai penyesuaian. Guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan materi, tetapi juga memantau kehadiran, berkomunikasi dengan siswa dan orang tua, menerima serta mengoreksi tugas, dan memberikan umpan balik. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tuntutan pekerjaan dan berpotensi mengurangi waktu pemulihan guru. Dalam perspektif psikologi terapan, kesejahteraan guru perlu menjadi bagian dari keberhasilan pembelajaran. Hascher dan Waber (2021) menjelaskan bahwa teacher well-being dipengaruhi oleh kondisi pekerjaan, hubungan sosial, serta lingkungan tempat guru menjalankan tugas. Oleh karena itu, keberhasilan PJJ tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya tugas yang diberikan dan dikoreksi, tetapi juga dari kemampuan sekolah menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi guru.

Keseimbangan Beban Kerja dan Pemulihan

Konsep Job Demands-Resources (JD-R) Model menjelaskan bahwa tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat menguras energi dan meningkatkan risiko kelelahan, sedangkan sumber daya seperti dukungan pimpinan, kerja sama rekan, otonomi, dan waktu pemulihan dapat membantu menjaga kesejahteraan pekerja.

Dalam PJJ, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah munculnya pekerjaan di luar jam kerja. Ketika guru terus memeriksa tugas pada waktu istirahat, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur. Aulén et al. (2022) menunjukkan pentingnya psychological detachment, yaitu kemampuan seseorang untuk melepaskan pikiran dari pekerjaan selama waktu di luar pekerjaan. Kemampuan tersebut berperan dalam menjaga kondisi psikologis dan mengurangi dampak stres kerja. Karena itu, waktu istirahat guru perlu dipandang sebagai kebutuhan pemulihan, bukan sebagai waktu kosong yang dapat terus-menerus digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Strategi Psikologi Terapan bagi Sekolah

Sekolah dapat menerapkan beberapa strategi sederhana untuk mengurangi beban psikologis guru dalam PJJ. Pertama, mengatur batas komunikasi. Guru tidak harus selalu merespons pesan siswa atau orang tua sepanjang hari. Sekolah dapat menetapkan waktu komunikasi yang jelas sehingga guru memiliki kesempatan untuk beristirahat. Kedua, menyederhanakan tugas dan penilaian. Dalam kondisi bencana, kualitas pembelajaran lebih penting daripada banyaknya tugas. Guru dapat menggunakan penilaian berbasis prioritas dan memberikan umpan balik yang singkat tetapi bermakna. Ketiga, membangun dukungan sosial. Rekan guru dapat berbagi strategi pembelajaran, berdiskusi mengenai kesulitan siswa, dan saling memberikan dukungan emosional. Dukungan sosial merupakan salah satu sumber daya penting dalam menghadapi tuntutan pekerjaan. Keempat, memberikan ruang pemulihan. Sekolah perlu memastikan adanya waktu istirahat yang benar-benar bebas dari kewajiban koreksi tugas. Prinsip ini penting agar guru dapat kembali bekerja dalam kondisi fisik dan psikologis yang lebih baik.

Perspektif Islam tentang Keseimbangan dan Amanah

Islam mengajarkan bahwa menjalankan pekerjaan merupakan bentuk amanah, tetapi menjaga diri juga merupakan tanggung jawab. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qasas: 77). Ayat tersebut dapat menjadi dasar refleksi bahwa pengabdian kepada pendidikan perlu dilakukan secara seimbang. Guru memiliki amanah untuk mendidik siswa, tetapi juga memiliki hak untuk menjaga kesehatan, beristirahat, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu.” (HR. Bukhari No. 5199). Hadis ini relevan dengan konsep recovery dalam psikologi kerja. Istirahat bukan tanda kurangnya dedikasi, melainkan salah satu cara menjaga kemampuan seseorang agar dapat menjalankan amanah secara berkelanjutan.

Dalam situasi bencana, prinsip utama pendidikan seharusnya bukan sekadar menyelesaikan seluruh target kurikulum, tetapi memastikan proses pendidikan tetap aman, manusiawi, fleksibel, dan berkelanjutan. Guru dan siswa sama-sama merupakan manusia yang menghadapi situasi krisis. Karena itu, beban tugas siswa perlu disesuaikan dengan kondisi mereka, sementara beban administrasi dan koreksi guru juga perlu dikelola secara proporsional. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip Psychological First Aid yang menekankan pentingnya rasa aman, ketenangan, keterhubungan sosial, serta kemampuan menghadapi situasi krisis. Dalam konteks sekolah, prinsip tersebut dapat diterapkan tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada guru.

Akhirnya pentng untuk dipahami bawaKesejahteraan psikologis guru merupakan bagian penting dari keberhasilan PJJ, terutama ketika pembelajaran berlangsung dalam situasi bencana. Beban kerja yang terus masuk ke waktu istirahat dapat mengurangi kesempatan guru untuk melakukan pemulihan dan meningkatkan risiko kelelahan. Karena itu, sekolah perlu membangun budaya kerja yang menghargai batas waktu, waktu istirahat, dukungan sosial, dan keseimbangan kehidupan kerja. Pengelolaan tugas yang lebih sederhana, jadwal komunikasi yang jelas, pembagian beban kerja, dan waktu pemulihan yang terlindungi merupakan langkah sederhana tetapi penting. Dalam perspektif Islam, menjaga keseimbangan antara amanah pekerjaan dan hak tubuh merupakan bagian dari tanggung jawab. Guru yang diberi ruang untuk beristirahat bukanlah guru yang kurang berdedikasi. Sebaliknya, guru yang sehat secara fisik dan psikologis memiliki modal yang lebih kuat untuk mendidik dengan sabar, ikhlas, kreatif, dan penuh kepedulian.