Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau mendorong Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah antisipatif dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi pembelajaran daring dari rumah pada 7–8 September 2026. Kebijakan tersebut ditujukan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik serta tenaga pendidik, sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berlangsung. Dalam kebijakan tersebut, orang tua atau wali juga diminta memberikan pengawasan dan pendampingan selama pembelajaran daring. Perubahan belajar dari sekolah ke rumah secara mendadak bukan hanya persoalan tersedianya gawai, jaringan internet, dan ruang belajar. Orang tua juga dituntut memiliki kesiapan psikologis dalam menghadapi perubahan rutinitas pendidikan anak. Pada saat yang sama, orang tua mungkin memiliki kekhawatiran terhadap kondisi abu vulkanik, kesehatan keluarga, pekerjaan rumah tangga, serta tanggung jawab lainnya. Dalam perspektif psikologi terapan, kesiapan orang tua dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menyediakan dukungan emosional, struktur belajar, pengawasan, serta komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Dengan demikian, pendampingan belajar tidak berarti orang tua harus mengambil alih peran guru, tetapi menjadi pendamping, fasilitator, motivator, dan pemberi rasa aman bagi anak.
Kesiapan Psikologis Orang Tua dalam Pendampingan Belajar
Kesiapan orang tua menjadi penting karena suasana emosional orang tua dapat memengaruhi suasana belajar anak. Orang tua yang terlalu cemas, mudah marah, atau memberikan tekanan berlebihan berpotensi membuat kegiatan belajar di rumah menjadi sumber stres baru bagi anak. Kajian Shao dkk. (2022) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pembelajaran daring mencakup pendampingan belajar sekaligus dukungan psikologis. Sementara itu, penelitian Lam, Lam, dan Chung (2022) menemukan bahwa keterlibatan ibu dalam pembelajaran daring berkaitan dengan penyesuaian anak, dan peran mindfulness orang tua menjadi faktor yang penting dalam hubungan tersebut.
Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa kualitas pendampingan lebih penting daripada sekadar lamanya orang tua berada di samping anak. Orang tua perlu hadir dengan tenang, mampu mendengarkan, dan memahami bahwa anak memiliki kemampuan konsentrasi serta kemandirian yang berbeda. Penelitian mengenai pola pendampingan orang tua di Indonesia juga menunjukkan bahwa peran orang tua dalam pembelajaran daring meliputi fasilitator, motivator, pengawas, dan pembimbing. Pola pendampingan perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak serta didukung komunikasi yang baik antara guru dan orang tua.
Karena itu, kesiapan psikologis orang tua setidaknya mencakup empat hal. Pertama, kesiapan emosional, yaitu kemampuan mengelola kecemasan dan emosi ketika menghadapi situasi darurat. Kedua, kesiapan pengasuhan, yaitu kemampuan memberikan batasan dan rutinitas tanpa tekanan berlebihan. Ketiga, kesiapan komunikasi, yaitu kemampuan membangun komunikasi positif dengan anak dan guru. Keempat, kesiapan adaptasi, yaitu kemampuan menyesuaikan pola pendampingan dengan kondisi dan kebutuhan anak.
Strategi Pendampingan Belajar yang Sehat secara Psikologis
Pendampingan belajar di rumah sebaiknya dimulai dengan menciptakan rasa aman. Orang tua dapat menjelaskan kepada anak bahwa pembelajaran daring merupakan langkah sementara untuk menjaga keselamatan akibat kondisi abu vulkanik. Informasi mengenai bencana juga sebaiknya disampaikan dengan bahasa sederhana, berdasarkan sumber resmi, dan tidak menimbulkan kepanikan. Orang tua kemudian dapat membantu anak membuat rutinitas sederhana. Jadwal bangun, belajar, istirahat, makan, bermain, dan tidur tetap perlu dijaga agar anak memiliki struktur kegiatan. Rutinitas tersebut dapat membantu anak merasa bahwa situasi masih dapat dikendalikan meskipun kegiatan sekolah berubah.
Pendampingan juga tidak berarti orang tua harus terus-menerus berada di samping anak. Pada anak yang lebih besar, orang tua dapat memberikan kesempatan untuk belajar mandiri dan hanya melakukan pemantauan secara berkala. Sebaliknya, anak usia dini atau anak yang belum memiliki kemampuan belajar mandiri mungkin membutuhkan pendampingan lebih intensif. Orang tua juga perlu menghindari membandingkan kemampuan anak dengan saudara atau teman. Dalam kondisi darurat, keberhasilan belajar tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya tugas yang selesai. Kemampuan anak menjaga konsentrasi, mengikuti pembelajaran, mengelola emosi, dan tetap memiliki motivasi merupakan bagian penting dari keberhasilan adaptasi.
Penelitian Sujarwo dkk. (2022) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berkaitan dengan proses pendampingan belajar anak dari rumah, termasuk penggunaan strategi dan media yang dapat mendukung motivasi belajar. Hal yang tidak kalah penting adalah komunikasi antara orang tua dan guru. Jika anak mengalami kesulitan memahami tugas, kehilangan motivasi, atau menunjukkan perubahan perilaku, orang tua sebaiknya menyampaikannya kepada guru. Dengan demikian, pendampingan tidak menjadi tanggung jawab orang tua seorang diri, tetapi menjadi kerja sama antara keluarga dan sekolah.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa pembelajaran daring akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menempatkan orang tua pada posisi penting dalam mendampingi proses belajar anak di rumah. Namun, kesiapan orang tua tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga oleh kesiapan emosional, kemampuan berkomunikasi, keterampilan mengatur rutinitas, dan kemampuan menciptakan suasana belajar yang aman. Orang tua tidak perlu menjadi “guru pengganti” di rumah. Peran yang lebih penting adalah menjadi pendamping yang memberikan rasa aman, motivasi, struktur, dan dukungan ketika anak menghadapi perubahan situasi belajar. Dalam kondisi darurat, prinsip utama pendampingan adalah tenang, fleksibel, komunikatif, dan tidak menambah tekanan. Orang tua yang mampu mengelola kecemasannya akan lebih mudah membantu anak mengelola kecemasan pula. Dengan dukungan keluarga dan sekolah yang baik, pembelajaran daring dapat menjadi bentuk adaptasi yang tetap menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus kesehatan psikologis anak.
Pada akhirnya, kesiapan orang tua dalam situasi bencana bukan berarti mampu membuat pembelajaran berlangsung sempurna, tetapi mampu memastikan anak tetap merasa aman, didampingi, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk belajar sesuai dengan kondisinya.



