RADAR24.co.id — Ribuan warga Iran turun ke jalanan di Teheran pada Minggu (19/4/2026) untuk menyuarakan dukungan terhadap pemerintah yang menolak melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat.
Aksi demonstrasi besar ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara, terutama setelah langkah militer dan kebijakan terbaru Washington.
Para demonstran secara terbuka menyatakan ketidakpercayaan total mereka terhadap komitmen Amerika Serikat dalam memenuhi kesepakatan.
Mereka menilai berbagai perjanjian sebelumnya tidak pernah benar-benar dipenuhi oleh Washington, sehingga negosiasi lanjutan dianggap tidak lagi relevan.
Aksi tersebut juga terjadi hanya beberapa hari sebelum masa gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS berakhir pada Rabu (22/4/2026).
Pemerintah Iran telah memberi sinyal tegas tidak akan menghadiri perundingan lanjutan yang dijadwalkan berlangsung Senin (20/4/2026).
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran dan melaporkan insiden penembakan kapal Iran di Selat Hormuz.
Insiden penembakan oleh kapal perusak AS ini memperkuat sentimen publik Iran yang cenderung menolak jalur diplomasi dengan Washington.
Dalam aksi tersebut, sejumlah warga secara terang-terangan mengungkapkan kekecewaan mendalam mereka terhadap Amerika Serikat.
“Amerika Serikat sejauh ini belum menepati satu pun janji yang dibuatnya kepada kami dan satu pun perjanjian yang ditandatanganinya dengan kami,” kata salah satu pengunjuk rasa, Masoumeh Alimohammadi, dikutip dari The Straits Times.
Ia menegaskan bahwa meskipun jalur diplomasi tidak sepenuhnya ditutup, pendekatan terhadap Amerika Serikat harus dilandasi kewaspadaan penuh.
“Akibatnya, kami berharap meskipun jalur diplomatik harus tetap berjalan, kami harus melanjutkan dengan ketidakpercayaan total terhadap Amerika yang sejauh ini belum memenuhi satu pun komitmennya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan sentimen luas di kalangan masyarakat Iran yang menganggap negosiasi sebelumnya tidak memberikan hasil konkret.
Di tengah kondisi tersebut, tekanan publik terhadap pemerintah Iran untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap AS semakin menguat.
Selain menolak negosiasi, sebagian demonstran juga menyuarakan dukungan terhadap sikap keras pemerintah Iran terhadap Amerika Serikat.
Mereka bahkan menyatakan kesiapan penuh untuk menghadapi konflik bersenjata jika memang diperlukan.
“Kami tidak takut perang. Bahkan jika bukan hanya satu serangan, tetapi serangan terus-menerus dilakukan terhadap negara kami, kami pasti akan maju dengan kekuatan dan otoritas yang lebih besar,” ujar seorang warga, Hamidreza Heidari.
Ia juga menilai dalam situasi saat ini, tekanan justru harus diberikan kepada Amerika Serikat dan sekutunya.
“Tetapi menurut saya, mengingat situasi yang berkembang, Amerika Serikat dan Israel tidak punya pilihan selain menyerah pada tuntutan Iran,” tambahnya.
Pernyataan serupa datang dari warga lain, Negin Gholizade, yang menyerukan agar pemerintah Iran tetap konsisten menentang tekanan dari Washington.
“Kita hanya bisa mencapai perdamaian dengan orang ini (Trump) jika dia menerima pukulan telak sehingga dia dipaksa untuk tunduk, seperti yang terjadi dua minggu lalu,” kata Gholizade.
Ia juga merujuk pada dinamika konflik sebelumnya di mana Trump disebut mundur dari ancamannya.
“Pada malam yang sama ketika dia ingin mengembalikan Iran ke zaman batu, dia mundur, menerima semua yang kita katakan, dan menyetujuinya,” sambungnya.
Aksi demonstrasi ini berlangsung di tengah mandeknya upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Pemerintah Iran memutuskan tidak melanjutkan perundingan setelah berbagai tuntutan dianggap tidak sejalan dengan kepentingan nasional mereka.
Salah satu pemicu utama adalah kebijakan blokade yang diterapkan AS terhadap pelabuhan Iran.
Selain itu, insiden militer di Selat Hormuz turut memperburuk situasi dan mempersempit ruang kompromi antara kedua negara.
Dengan berakhirnya gencatan senjata yang semakin dekat, ketidakpastian mengenai arah hubungan Iran-AS pun meningkat secara signifikan.
Publik Iran, melalui aksi turun ke jalan, menunjukkan bahwa dukungan terhadap pendekatan keras terhadap Washington cukup kuat dan mengakar.
Di sisi lain, belum ada kepastian apakah kedua negara akan kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.
Namun, pernyataan dari berbagai pihak menunjukkan bahwa perbedaan mendasar masih menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan.



