RADAR24.co.id – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina menggelar sosialisasi konsep Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT). Langkah ini merupakan strategi untuk mengoptimalkan pengelolaan struktur dan area migas guna meningkatkan produksi nasional serta menjaga ketahanan energi Indonesia. Kegiatan yang berlangsung di Jakarta, Jumat (24/4/2026), juga menegaskan komitmen perusahaan terhadap penerapan aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment).
KSOT dirancang untuk mengoptimalkan potensi struktur idle dan undeveloped discovery melalui kolaborasi dengan mitra strategis dan penyedia teknologi. Inisiatif ini berlandaskan pada Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 serta PTK SKK Migas No. 23 Tahun 2025.
Sebagai implementasi awal, PHE telah membuka kerja sama pengelolaan sumur idle. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Idle Wells Batch 1 serta Confidentiality Agreement (CA) untuk Batch 1 dan Batch 2 dengan calon mitra.
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan SKK Migas atas dukungan regulasi yang membuka peluang kolaborasi lebih luas. Menurutnya, KSOT menjadi instrumen penting dalam mendorong peningkatan produksi migas nasional.
“KSOT merupakan bagian dari strategi kita untuk mendukung kemandirian energi. Kami mengundang para mitra dan penyedia teknologi untuk berpartisipasi aktif,” ujar Awang.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses bisnis harus mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan menjadikan HSSE sebagai prioritas utama. “Tidak ada kepentingan bisnis yang begitu penting sehingga kita harus mengorbankan aspek HSSE,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, menyatakan bahwa kerja sama ini sejalan dengan inisiatif strategis perusahaan. “Setiap barel itu sangat berarti buat Pertamina sekarang, every single barrel is very meaningful untuk memperkuat ketahanan energi nasional, apalagi melihat situasi geopolitik saat ini,” kata Emma.
Komisaris Utama Pertamina, Mochammad Iriawan, menambahkan bahwa tantangan utama bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengkonversi potensi tersebut menjadi produksi nyata dengan tetap menjaga keselamatan dan lingkungan. Hal senada juga disampaikan oleh Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, serta Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, yang sepakat menekankan bahwa keselamatan adalah fondasi utama industri hulu migas.
Dalam kesempatan ini, PHE juga mengumumkan rencana penawaran kerja sama untuk 31 struktur yang tersebar di Regional 1 hingga Regional 4, yang akan dibagi dalam dua tahap penawaran (batch).
Melalui kolaborasi ini, PHE berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap target produksi nasional. Perusahaan juga menegaskan komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta menerapkan Zero Tolerance on Bribery melalui Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang berstandar ISO 37001:2016.



