Radar24.co.id- Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax memicu kritik dari Ketua BEM UGM 2025, Tio Ardianto. Ia menilai kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah tengah menghadapi tekanan fiskal yang tidak lagi bisa ditutupi dengan narasi bahwa kondisi ekonomi nasional masih baik-baik saja.
“Realitas jelas lebih berbicara ketimbang kata-kata. Tidak bisa lagi Pak Purbaya terus mengucapkan sesuatu. yang palsu seolah bahwa kita baik-baik saja,” kata Tio dalam diskusi yang disiarkan Youtube Kompas TV, Rabu (11/6).
Menurut Tio, keputusan menaikkan harga Pertamax mencerminkan semakin terbatasnya kemampuan anggaran negara untuk menahan dampak kenaikan harga energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Ia meminta pemerintah bersikap terbuka kepada publik mengenai kondisi ekonomi yang sedang dihadapi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang protes mahasiswa di sejumlah daerah menyusul kenaikan harga BBM non-subsidi. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa yang sempat diwarnai ketegangan dengan aparat kepolisian. Sementara di Jakarta, demonstrasi penolakan kenaikan Pertamax berlangsung di kawasan Cikini, Menteng.
Tio menilai pemerintah memiliki sejumlah opsi kebijakan untuk mengatasi tekanan fiskal selain menaikkan harga BBM. Menurutnya, langkah efisiensi belanja negara, termasuk evaluasi terhadap program-program yang menyerap anggaran besar, seharusnya dipertimbangkan sebelum membebankan biaya tambahan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi diperkirakan terbatas karena BBM tersebut tidak digunakan secara dominan oleh sektor angkutan barang maupun transportasi umum. Pemerintah juga memastikan pasokan dan distribusi BBM nasional tetap aman.
Meski demikian, kenaikan harga Pertamax telah memicu kekhawatiran mengenai penurunan daya beli masyarakat dan potensi peralihan konsumsi ke BBM bersubsidi, yang dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran subsidi energi pemerintah.



