RADAR24.co.id –– Pengamat politik Ray Rangkuti memberikan tanggapan tajam namun bernada satir terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyuruh pihak yang tidak setuju atau ingin “kabur” untuk pergi ke Yaman.

Dalam kesempatan yang sama, Ray juga menyinggung masa lalu Prabowo yang pernah mengasingkan diri ke luar negeri saat situasi politik sedang panas.

“Yang sudah terbukti, kabur ke Yordania bisa jadi Presiden lho. Jadi lebih baik ke Yordania atau ke Yaman?” ujar Ray Rangkuti dengan nada menggoda, dikutip dari berbagai media, Kamis (30/4/2026) .

Pernyataan ini jelas merujuk pada sejarah Prabowo yang memilih tinggal di Amman, Yordania, pada pertengahan tahun 1998 untuk menghindari gejolak politik dan tuduhan yang menjeratnya saat itu .

Sebut Prabowo Akhir-akhir Ini Agak “Sensi”

Selain menyindir soal negara tujuan, Ray juga menilai Presiden seolah-olah masih mengungkit isu yang sebenarnya sudah mulai dilupakan masyarakat, seperti jargon “Indonesia Gelap” dan “Kabur Aja Dulu” yang sempat viral beberapa bulan lalu .

“Ya, saya juga kurang tahu ya kenapa Pak Prabowo mengungkit apa yang sebenarnya sudah lama atau bahkan mungkin pada tingkat tertentu sudah mulai ditinggalkan orang. Itu kan awal Januari munculnya, sekarang sudah berapa bulan? Orang sudah agak lupa, tapi Pak Prabowo ternyata masih ingat,” kata Ray dalam program Sapa Indonesia Malam di Kompas TV .

Menurutnya, ucapan tersebut menunjukkan bahwa belakangan ini Prabowo terlihat lebih sensitif atau “sensi” terhadap kritik yang datang .

“Kelihatannya akhir-akhir ini agak sensi ya, setelah mungkin peristiwa halal bihalal dan lain-lain,” tambahnya .

Pernyataan Prabowo soal “kabur ke Yaman” sendiri disampaikan saat menghadiri acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Kalimat itu pun langsung menuai beragam reaksi, mulai dari kritik hingga sindiran dari berbagai kalangan.