RADAR24.co.id — Presiden Prabowo Subianto kembali membela keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan tegas menyatakan bahwa ketersediaan dana terjamin, meski data terbaru menunjukkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2026 mencatatkan defisit yang cukup besar, mencapai Rp240,1 triliun .
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam berbagai kesempatan, menanggapi kekhawatiran publik mengenai beban anggaran akibat program yang menyerap alokasi mencapai Rp335 triliun pada tahun 2026 ini .
“Uang kita ada. Tinggal kita organisir, kita kurangi kebocoran. Jangan sampai uang negara itu hilang sia-sia atau dikorupsi,” ujar Prabowo, seperti dikutip dari pernyataannya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pembiayaan MBG tidak bersumber dari utang baru, melainkan hasil dari efisiensi anggaran dan pemangkasan belanja yang dianggap tidak prioritas, termasuk penghematan di sektor lain yang dinilai masih memiliki ruang untuk dikurangi .
Defisit Membengkak Akibat Belanja Agresif
Sementara itu, data resmi yang dirilis Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa hingga 31 Maret 2026, realisasi pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun, namun belanja negara sudah terserap hingga Rp815 triliun . Selisih inilah yang membuat defisit tembus angka Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) .
Kenaikan defisit ini dinilai wajar oleh pemerintah karena adanya percepatan realisasi belanja untuk program-program strategis nasional, termasuk MBG, agar dampaknya bisa dirasakan masyarakat lebih cepat sepanjang tahun.
MBG Disebut Investasi, Bukan Pemborosan
Prabowo menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia dan penggerak ekonomi di akar rumput . Ia menyebut program ini telah menciptakan jutaan lapangan kerja dan memberdayakan ribuan pelaku UMKM serta petani di seluruh Indonesia .
“Setiap uang yang kita keluarkan untuk MBG akan kembali berlipat ganda ke ekonomi rakyat. Jadi ini bukan pengeluaran, tapi investasi,” tegasnya .
Presiden juga memastikan bahwa meski terjadi defisit, kondisi fiskal negara masih berada dalam koridor aman dan terkendali, serta tidak melebihi batas maksimal yang ditetapkan undang-undang sebesar 3 persen dari PDB .
“Defisit itu alat untuk mendisiplinkan diri. Kita tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian, tapi kita juga berani bergerak maju untuk kesejahteraan rakyat,” pungkasnya .



