RADAR24.co.id — Ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang seharusnya menjadi panggung prestasi pelajar, kini justru terseret pusaran polemik serius.

Bukan soal siapa yang menang, melainkan bagaimana pemenang itu ditentukan bahkan sebelum lomba digelar.

Sorotan tajam mengemuka setelah beredarnya Surat Keputusan (SK) bernomor 094/T.2/113/2026 yang menetapkan pemenang lomba. SK tersebut disebut-sebut telah beredar lebih awal, mendahului pelaksanaan kompetisi yang semestinya menjadi dasar penilaian.

Kondisi ini memantik kecurigaan publik dan menimbulkan pertanyaan mendasar tentang transparansi serta integritas penyelenggaraan.

Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Aceh Barat Daya (HIPELMABDYA), Syahrol Ramadhan, tidak tinggal diam. Ia secara tegas mendesak Dinas Pendidikan Aceh untuk mengambil langkah drastis dengan mencopot Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Abdya dari jabatannya.

Menurut Syahrol, jika dugaan tersebut terbukti, maka yang terjadi bukan sekadar kekeliruan administratif, melainkan bentuk pelanggaran terhadap nilai keadilan dalam dunia pendidikan.

Ia menilai, praktik semacam ini berpotensi merusak marwah kompetisi sekaligus mematahkan semangat siswa yang telah berlatih dan berjuang secara jujur.

“Kalau pemenang sudah ditentukan sebelum lomba dimulai, lalu untuk apa siswa bersusah payah mempersiapkan diri? Ini bukan hanya mencederai sportivitas, tapi juga membunuh kepercayaan mereka terhadap sistem,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Lebih jauh, Syahrol menekankan bahwa FLS3N bukan sekadar ajang seremonial tahunan. Di dalamnya, terdapat proses pembentukan karakter kejujuran, kerja keras, dan mental kompetitif yang seharusnya dijunjung tinggi.

Ketika proses itu diduga dikompromikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil lomba, melainkan masa depan nilai-nilai pendidikan itu sendiri.

Desakan evaluasi menyeluruh pun dilayangkan.

HIPELMABDYA meminta Dinas Pendidikan Aceh untuk mengusut tuntas dugaan maladministrasi dalam proses penetapan pemenang serta membuka secara transparan mekanisme yang digunakan.

Langkah tegas dinilai penting agar kepercayaan publik tidak semakin tergerus.

Di tengah polemik ini, publik kini menanti jawaban yang lebih dari sekadar klarifikasi.

Apakah FLS3N Abdya masih layak disebut sebagai ruang adil bagi pelajar untuk berkompetisi, atau justru telah berubah menjadi panggung formalitas dengan hasil yang telah ditentukan di balik layar?