RADAR24.co.id — Ketegangan terkait baliho penyambutan Joko Widodo yang hendak berkunjung ke Lampung Timur akhirnya mereda setelah dilakukan pertemuan antara pihak Bela Budaya dan Bandakh Sekappung Limo Migo di Rumah Bela Budaya. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
“Terkait berita mempermasalahkan baliho, akhirnya dicari jalan tengah. Pihak Bela Budaya mengajak bertemu untuk meminta maaf dan mengklarifikasi adanya baliho yang terlanjur terpasang,” ujar Bandakh Yus kepada wartawan di areal taman Purbakala, Jumat sore (26/6)
Ditanya terkait kunjungan Jokowi apakah berkaitan dengan agenda Festival Sekampung Limo Mego, Ia menegaskan memang berbeda. Namun, kedua agenda itu hanya berlangsung dalam waktu yang berdekatan.
“Ini hanya kebetulan. Festival Sekappung Limo Migo dan safari politik Presiden ke-7 RI berlangsung bersamaan,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Baliho penyambutan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di pintu masuk kawasan Taman Wisata Purbakala Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, mendadak hilang.
Informasi yang beredar baliho yang sebelumnya terpampang di pintu masuk kawasan situs Taman Purbakala tersebut diturunkan, Setelah menuai protes dari tokoh adat dan zuriat Kebandaran Sekappung Limo Migo.
Pantauan dilokasi Jumat (26/6/2026) pukul 18:26 Wib baliho diturunkan dan dibersihkan dari pintu masuk.
“Iya dicopot, katanya diprotes sama tokoh adat” ujar seorang warga di lokasi.
Diketahui baliho yang terpampang sebelumnya bertuliskan “Selamat Datang Presiden RI ke-7 Bapak H. Joko Widodo di Pugung Raharjo Sekampung Udik Lampung Timur dalam Rangka Pelestarian Budaya Sekappung Limo Migo ke-2.”
Tulisan tersebut menuai protes masyarakat adat Lampung Sebatin, menurut mereka persoalannya jauh lebih dalam.
Yang dipersoalkan bukan kehadiran Presiden ke-7 RI, melainkan penggunaan nama Sekappung Limo Migo, sebuah kebandaran adat yang memiliki sejarah, struktur kepemimpinan, wilayah adat, dan garis keturunan yang masih dijaga hingga kini.
Polemik memuncak setelah Bandakh atau Kebandaran Sekappung Limo Migo, Yus Darmawansyah, memprotes baliho tersebut.
Melalui pesan whatsApp yang beredar dan selaku Bandakh Marga tidak menerima dan meminta agar diturunkan
Pernyataan tersebut menjadi penanda bahwa persoalan telah menyentuh soal penghormatan terhadap legitimasi adat, bukan lagi sekadar persoalan desain baliho.



