Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Lampung terus berkembang sebagai daerah yang memiliki potensi besar melalui bonus demografi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan teknologi. Namun, di balik berbagai capaian tersebut, masyarakat juga menghadapi tantangan psikologis dan sosial berupa menguatnya individualisme, budaya instan, rendahnya keteladanan publik, serta derasnya pengaruh media sosial yang membentuk cara berpikir generasi muda. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga memerlukan pembangunan karakter. Salahsatunya dengan menginspirasi tokoh kharismatik pahlawan nasional Lampung KH. Ahmad Hanafiah.

KH. Ahmad Hanafiah (1905–1947) merupakan ulama, pendidik, pejuang kemerdekaan, dan tokoh masyarakat asal Sukadana, Lampung Timur, yang dikenal karena keteguhan iman, kecintaan terhadap ilmu, serta pengabdiannya kepada bangsa. Sejak kecil beliau memperoleh pendidikan agama dari ayahnya, KH. Muhammad Nur, sebelum melanjutkan studi ke Jakarta, Kelantan (Malaysia), dan Makkah hingga tahun 1936. Sekembalinya ke Tanah Air, beliau mengabdikan diri melalui dakwah, pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan dengan memimpin Pondok Pesantren Al-Ikhlas serta aktif di Syarekat Dagang Islam, Partai Masyumi, dan Laskar Hizbullah. Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH. Ahmad Hanafiah gugur pada 17 Agustus 1947 dalam pertempuran di Kemerung, Baturaja. Atas jasa-jasanya sebagai ulama, pendidik, dan pejuang, pemerintah menganugerahkan beliau gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2023. Hingga kini, KH. Ahmad Hanafiah dikenang sebagai teladan yang memadukan ilmu, iman, kepemimpinan, dan pengabdian demi kemajuan agama, bangsa, dan masyarakat Lampung.

Sosok KH. Ahmad Hanafiah, ulama, pendidik, pejuang, dan Pahlawan Nasional, layak dijadikan inspirasi. Beliau bukan hanya meninggalkan sejarah perjuangan, tetapi juga mewariskan nilai-nilai psikologis berupa integritas, keberanian, kepemimpinan, serta semangat pengabdian yang tetap relevan bagi masyarakat Lampung masa kini. Dari perspektif “Social Learning Theory” Albert Bandura, karakter terbentuk melalui proses keteladanan. Kehidupan KH. Ahmad Hanafiah yang tumbuh dalam keluarga ulama membuktikan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembentukan kepribadian. Di tengah berkurangnya interaksi antara orang tua dan anak akibat dominasi gawai, keluarga perlu kembali menjadi ruang utama pendidikan karakter. Nilai-nilai budaya Lampung seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, Nengah Nyappur, dan Juluk Adek juga perlu dihidupkan kembali sebagai benteng psikologis dalam menghadapi berbagai penyimpangan sosial.

Perjalanan pendidikan KH. Ahmad Hanafiah hingga ke Makkah menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar jalan memperoleh pekerjaan, tetapi investasi untuk membangun kepribadian dan kapasitas pengabdian. Dalam teori Jean Piaget, pengalaman belajar memperluas cara berpikir dan membentuk kedewasaan intelektual. Oleh karena itu, sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi di Lampung harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, berempati, dan memiliki kepedulian sosial.

Spiritualitas yang dimiliki KH. Ahmad Hanafiah melahirkan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan, bukan kekuasaan. Sejalan dengan teori “Logotherapy “ oleh Viktor Frankl bahwa makna hidup yang kuat melahirkan optimisme, ketangguhan, dan keberanian. Sementara itu, teori “Transformational Leadership” oleh Bernard Bass menjelaskan bahwa pemimpin sejati membangun perubahan melalui keteladanan moral. Nilai tersebut sangat dibutuhkan di tengah tantangan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sebagian figur publik.

Lampung yang sedang menikmati bonus demografi memerlukan lebih dari sekadar sumber daya manusia dalam jumlah besar. Yang dibutuhkan adalah bonus karakter. Berbagai persoalan seperti penyalahgunaan narkoba, kekerasan, budaya konsumtif, judi daring, hingga hoaks menunjukkan pentingnya penguatan psychological capital sebagaimana dikemukakan Fred Luthans, yaitu harapan (hope), keyakinan diri (self-efficacy), ketangguhan (resilience), dan optimisme (optimism). Keempat aspek tersebut tercermin dalam perjalanan hidup KH. Ahmad Hanafiah.

Generasi muda Lampung juga menghadapi tantangan baru akibat budaya digital yang mendorong pencarian popularitas secara instan. Dalam situasi seperti ini, KH. Ahmad Hanafiah menghadirkan teladan bahwa keberhasilan dibangun melalui proses panjang, kedisiplinan, ilmu, integritas, dan pengabdian kepada masyarakat. Nilai tersebut sejalan dengan psikologi positif Martin Seligman yang menempatkan makna hidup, hubungan sosial, keterlibatan, dan pencapaian sebagai unsur utama kehidupan yang bermakna.

Keberanian KH. Ahmad Hanafiah yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan menunjukkan bahwa keberanian moral adalah kemampuan mempertahankan nilai yang diyakini benar. Dalam kehidupan saat ini, keberanian tersebut diwujudkan melalui kejujuran, penolakan terhadap korupsi, komitmen menjaga persatuan, serta kesediaan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Sebagai ulama dan intelektual, beliau juga meninggalkan karya-karya ilmiah yang menunjukkan bahwa membangun peradaban dapat dilakukan melalui ilmu dan pendidikan. Nilai-nilai tersebut perlu diinternalisasikan melalui keluarga, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, serta pemerintah daerah. Pendidikan karakter berbasis tokoh lokal dan kearifan budaya Lampung perlu diperkuat agar generasi muda memiliki identitas yang kokoh sekaligus mampu menghadapi tantangan global.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa KH. Ahmad Hanafiah bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan representasi manusia yang berhasil memadukan ilmu, iman, integritas, dan pengabdian. Dari perspektif psikologi terapan, beliau memperlihatkan implementasi nyata Social Learning Theory (Bandura), Logotherapy (Frankl), Transformational Leadership (Bass), Psychological Capital (Luthans), Character Strengths (Peterson & Seligman), dan Generativity (Erik Erikson). Keteladanan beliau merupakan modal psikologis kolektif yang perlu terus dihidupkan agar Lampung tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga tumbuh sebagai masyarakat yang berkarakter, berbudaya, berintegritas, dan bermartabat.