Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)

Musim penerimaan siswa dan mahasiswa baru sering menjadi masa yang penuh harapan sekaligus kecemasan bagi banyak keluarga Indonesia. Di satu sisi, orang tua bangga melihat anaknya diterima sekolah atau di perguruan tinggi yang diinginkan, namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak mudah dijawab yaitu dari mana biaya sekolah dan kuliah akan dipenuhi?. Kondisi ini banyak dirasakan oleh keluarga Aparatur Sipil Negara (ASN). Secara matematis, pendapatan bulanan sering kali tampak tidak sebanding dengan berbagai kebutuhan pendidikan yang harus ditanggung, mulai dari uang sekolah dan uang kuliah tunggal (UKT), biaya kos, transportasi, buku, perangkat teknologi, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. UKT anak PNS biasanya pada ketegori tertinggi. Ketika semua komponen itu dijumlahkan, kalkulator sering kali menunjukkan hasil yang membuat dahi berkerut. Menariknya, tidak sedikit keluarga ASN yang pada akhirnya tetap mampu menyelesaikan pendidikan anak-anaknya hingga sarjana, berlanjut ke pascasarjana bahkan sampai ke program Doktor. Fenomena ini menarik untuk dikaji melalui perspektif psikologi keluarga dan psikologi Islam, khususnya konsep ikhtiar dan tawakkal.

SK Digadaikan demi Pendidikan Anak

Tidak sedikit PNS yang menggadaikan SK pengangkatannya ke bank untuk memperoleh pinjaman guna memenuhi kebutuhan keluarga, terutama biaya pendidikan anak. Kenaikan UKT, biaya kos, transportasi, dan berbagai kebutuhan akademik membuat pengeluaran pendidikan terus meningkat, sementara pendapatan ASN sering kali tidak bertambah secara sebanding. Dari sudut pandang psikologi keluarga, langkah ini menunjukkan besarnya komitmen orang tua dalam memperjuangkan masa depan anak. Namun, beban cicilan yang menyertai pinjaman tersebut juga dapat menimbulkan stres finansial dan tekanan psikologis dalam keluarga. Fenomena ini memperlihatkan bahwa bagi banyak ASN, pendidikan anak bukan sekadar investasi masa depan, tetapi juga pengorbanan yang sering kali harus dibayar dengan menggadaikan sebagian kepastian ekonomi yang mereka miliki.

Ketahanan Keluarga dalam Perspektif Psikologi

Dalam psikologi keluarga, terdapat konsep “family resilience” atau ketahanan keluarga yang dikembangkan oleh psikolog Amerika, Froma Walsh. Walsh menjelaskan bahwa keluarga yang tangguh bukanlah keluarga yang bebas dari masalah, melainkan keluarga yang mampu bertahan, beradaptasi, dan menemukan makna di tengah kesulitan. Menurut Walsh (2003), terdapat tiga komponen utama ketahanan keluarga, yaitu sistem keyakinan yang positif, pola organisasi keluarga yang fleksibel, dan komunikasi yang efektif. Ketika menghadapi biaya pendidikan yang tinggi, keluarga yang tangguh tidak hanya berfokus pada keterbatasan ekonomi, tetapi juga membangun optimisme bahwa setiap masalah memiliki jalan keluar. Dalam konteks masyarakat Indonesia, terutama keluarga Muslim, keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang berusaha menjadi sumber kekuatan psikologis yang sangat penting. Keyakinan ini membantu keluarga mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan menghadapi tekanan hidup.

Psikologi Harapan dan Kekuatan Ikhtiar

Psikolog positif Charles Richard Snyder melalui “Teori Harapan” (Hope Theory) menjelaskan bahwa manusia mampu bertahan menghadapi kesulitan apabila memiliki tujuan yang jelas, strategi untuk mencapainya, dan keyakinan bahwa dirinya mampu melangkah menuju tujuan tersebut. Bagi orang tua, pendidikan anak merupakan tujuan yang sangat bernilai. Karena itu, mereka terus mencari berbagai cara untuk mewujudkannya. Ada yang menambah penghasilan melalui usaha sampingan, memanfaatkan beasiswa, menabung bertahun-tahun, menjual aset, hingga mengurangi kebutuhan pribadi demi masa depan anak. Dalam perspektif psikologi, tindakan-tindakan tersebut merupakan bentuk problem focused coping, yaitu upaya aktif untuk mengatasi sumber masalah. Artinya, ikhtiar bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan proses psikologis yang menunjukkan optimisme, tanggung jawab, dan komitmen terhadap masa depan keluarga.

Tawakkal Bukan Menyerah

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap tawakkal sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal dalam psikologi Islam, tawakkal justru merupakan puncak dari ikhtiar yang maksimal. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa usaha dan tawakkal tidak dapat dipisahkan. Ikhtiar adalah kewajiban manusia, sedangkan hasil akhir merupakan wilayah ketentuan Allah SWT. Al-Qur’an juga menegaskan: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Thalaq: 2-3). Ayat ini memiliki dampak psikologis yang besar. Ketika seseorang percaya bahwa pertolongan Allah dapat datang melalui berbagai cara yang tidak terduga, tingkat stres dan kecemasan akan berkurang. Sebaliknya, harapan dan optimisme akan meningkat. Dalam psikologi modern, kondisi ini dikenal sebagai “positive expectancy”, yaitu keyakinan bahwa masa depan masih menyimpan peluang-peluang baik yang belum terlihat saat ini.

Matematika Rezeki dan Makna Keberkahan

Secara ekonomi, seseorang hidup dengan pendapatan tertentu. Namun dalam kehidupan nyata, banyak faktor yang tidak dapat diukur hanya dengan angka. Ada kesehatan yang terjaga, anak yang memperoleh beasiswa, bantuan dari kerabat, kesempatan tambahan penghasilan, kemudahan dalam pekerjaan, hingga keberkahan waktu dan rezeki. Inilah yang dalam tradisi Islam disebut sebagai barakah. Keberkahan tidak selalu berarti jumlah yang lebih besar, tetapi manfaat yang lebih luas dari apa yang dimiliki. Secara psikologis, keberkahan melahirkan rasa syukur. Penelitian psikologi positif yang dipelopori oleh Martin Seligman menunjukkan bahwa rasa syukur berhubungan erat dengan peningkatan kesejahteraan psikologis, optimisme, dan kesehatan mental. Karena itu, banyak keluarga yang secara matematis terlihat sulit membiayai pendidikan anak, tetapi dalam praktiknya mampu melewati berbagai tantangan. Bukan karena mereka mengabaikan perhitungan, melainkan karena mereka memadukan perencanaan rasional dengan keyakinan spiritual.

Pelajaran bagi Keluarga Indonesia

Di tengah meningkatnya biaya pendidikan dan tekanan ekonomi yang semakin kompleks, keluarga Indonesia perlu mengembangkan tiga modal utama. Pertama, modal ikhtiar, yaitu kemampuan merencanakan keuangan secara bijak dan mencari solusi atas berbagai tantangan. Kedua, modal psikologis berupa optimisme, harapan, dan ketahanan mental dalam menghadapi kesulitan. Ketiga, modal spiritual berupa tawakkal kepada Allah SWT setelah usaha dilakukan secara maksimal. Ketiga modal tersebut akan membentuk keluarga yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan. Sebab dalam banyak pengalaman kehidupan, apa yang tampak mustahil menurut kalkulator sering kali menjadi mungkin karena perpaduan antara kerja keras, doa, dan pertolongan Allah SWT. Pada akhirnya, pendidikan anak bukan hanya soal angka dalam tabel anggaran, tetapi juga tentang cinta, pengorbanan, harapan, dan keyakinan. Sebab jika hanya mengandalkan hitungan matematika, mungkin banyak anak Indonesia tidak akan pernah sampai ke bangku kuliah. Namun ketika ikhtiar bertemu tawakkal, sering kali Allah membuka jalan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Wallahu a’lam bishawab.