Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A. (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Setiap Agustus, Indonesia merayakan kemerdekaan dengan merah putih, upacara, perlombaan, dan berbagai ekspresi kebangsaan. HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus melihat kembali wajah perjuangan masyarakat hari ini. Di balik kemeriahan tersebut terdapat jutaan orang yang setiap hari berjuang melalui pekerjaan sederhana antara lain buruh pengupas bawang, buruh tani, nelayan, pekerja pabrik, pekerja konstruksi, pedagang kaki lima, pekerja rumah tangga, pengemudi, kurir, dan berbagai pekerja informal lainnya. Mereka adalah para pejuang ekonomi di balik sepiring nasi. Buruh pengupas bawang, misalnya, mungkin tidak dikenal publik. Mereka bekerja dengan tangan, melakukan pekerjaan berulang, menerima upah berdasarkan waktu atau hasil pekerjaan, kemudian membawa penghasilan tersebut pulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di balik pekerjaan sederhana itu terdapat manusia yang memiliki harga diri, cita-cita, tanggung jawab, dan harapan. Karena itu, buruh tidak semestinya dipandang hanya sebagai penerima upah. Mereka adalah subjek sosial dan ekonomi yang memiliki kontribusi terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Data BPS Februari 2026 memperlihatkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, mencapai 42,49 juta orang atau 28,78% penduduk bekerja. Pada periode yang sama, jumlah pekerja informal mencapai 87,74 juta orang, lebih besar daripada pekerja formal yang berjumlah 59,93 juta orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kemerdekaan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan para pekerja yang menopang aktivitas ekonomi sehari-hari. Menurut perspektif psikologi terapan, persoalan mereka dapat dianalisis melalui keadilan distributif, relative deprivation, identitas sosial, solidaritas, collective efficacy, dan kesejahteraan psikologis. Dengan perspektif ini, persoalan buruh tidak hanya dilihat sebagai persoalan pendapatan, tetapi juga sebagai persoalan tentang rasa dihargai, rasa adil, identitas, hubungan sosial, harapan, dan kualitas kehidupan.
Pekerja Keras Berhadapan dengan Keadilan Sosial
Salah satu konsep penting dalam psikologi sosial adalah keadilan distributif, yaitu persepsi mengenai apakah hasil yang diterima seseorang dianggap adil dibandingkan dengan kontribusi dan kondisi yang dihadapinya. Dalam dunia kerja, persepsi keadilan tidak hanya berkaitan dengan besarnya upah, tetapi juga dengan penghargaan, kesempatan, perlakuan, dan pembagian manfaat. Penelitian Kumasey, Delle, dan Hossain (2021) menunjukkan bahwa persepsi terhadap keadilan distributif dan prosedural berkaitan positif dengan keterlibatan dan komitmen pekerja. Studi lain juga menunjukkan bahwa persepsi keadilan organisasi berkaitan dengan kesejahteraan, kepuasan hidup, dan kebahagiaan pekerja.
Pada konteks buruh pengupas bawang, persoalannya menjadi menarik. Mereka mungkin menerima upah yang sesuai dengan mekanisme pekerjaan yang berlaku, tetapi tetap merasakan bahwa pendapatan tersebut belum sebanding dengan kebutuhan hidup. Di sinilah konsep “relative deprivation” menjadi relevan. Relative deprivation menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa mengalami kekurangan setelah membandingkan kehidupannya dengan standar atau kelompok lain yang dianggap lebih baik. Power, Madsen, dan Morton (2020) menunjukkan bahwa perasaan kekurangan relatif tidak hanya berasal dari kondisi objektif, tetapi juga dari proses perbandingan sosial dan penilaian mengenai apa yang seharusnya diperoleh seseorang.
Seorang buruh pengupas bawang mungkin tidak merasa rendah ketika melihat sesama buruh. Namun, ketika ia membandingkan penghasilannya dengan biaya pendidikan anak, harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan, atau pendapatan kelompok pekerja lain, dapat muncul pertanyaan psikologis: “Mengapa saya sudah bekerja keras, tetapi kehidupan saya belum banyak berubah?”. Pertanyaan tersebut bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia dapat memengaruhi harga diri, kepuasan hidup, motivasi, bahkan harapan terhadap masa depan. Karena itu, keadilan sosial perlu dipahami bukan hanya sebagai pemerataan hasil, tetapi juga sebagai penciptaan kesempatan yang lebih adil untuk berkembang.
Solidaritas dan Kekuatan Kolektif
Psikologi sosial mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sebagai individu yang terpisah. Identitas seseorang juga terbentuk melalui kelompok sosial tempat ia berada. Dalam konteks pekerja, identitas sebagai buruh, petani, nelayan, pedagang, pengemudi, atau pekerja informal dapat menjadi sumber rasa memiliki sekaligus solidaritas. Konsep “social identity” menjelaskan bahwa keanggotaan dalam kelompok dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya dan orang lain. Identitas pekerja yang positif dapat menjadi sumber kebanggaan. Perspektif tersebut penting untuk menghindari stigma terhadap pekerjaan sederhana. Buruh pengupas bawang tidak perlu merasa lebih rendah daripada pekerja kantor. Buruh tani tidak perlu merasa kurang bermartabat dibandingkan pekerja pabrik. Pedagang kaki lima, pekerja rumah tangga, pengemudi, dan kurir juga memiliki kontribusi sosial yang nyata. Dari identitas sosial tersebut dapat tumbuh solidaritas.
Solidaritas berarti menyadari bahwa perjuangan ekonomi seseorang memiliki keterhubungan dengan perjuangan orang lain. Penelitian mengenai pekerja garis depan menunjukkan bahwa persepsi terhadap solidaritas berkaitan dengan kesejahteraan psikologis dan rasa bermakna dalam kehidupan. Ketika pekerja merasa didukung oleh rekan, organisasi, pemerintah, dan masyarakat, kondisi psikologisnya cenderung lebih baik. Solidaritas selanjutnya dapat berkembang menjadi collective efficacy, yaitu keyakinan bersama bahwa suatu kelompok mampu bekerja secara kolektif untuk mencapai tujuan. Bagi buruh pengupas bawang, collective efficacy dapat diwujudkan melalui kelompok usaha, koperasi, tabungan bersama, pelatihan bersama, pengadaan bahan baku, pemasaran kolektif, atau pengembangan produk olahan bawang.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan momentum untuk melihat kembali wajah kemerdekaan dari sisi para pekerja yang setiap hari menghidupi keluarga dan menggerakkan perekonomian bangsa. Buruh pengupas bawang adalah salah satu wajah Indonesia yang bekerja dalam kesunyian. Mereka mungkin tidak tampil di panggung pembangunan, tetapi pekerjaan mereka hadir dalam setiap dapur, pasar, rumah makan, dan meja makan masyarakat. Psikologi terapan mengajarkan bahwa persoalan mereka tidak cukup dijelaskan melalui pendapatan. Ada dimensi keadilan, perbandingan sosial, identitas, solidaritas, collective efficacy, dan kesejahteraan psikologis yang harus diperhatikan. Karena itu, buruh kecil tidak boleh ditempatkan sebagai objek belas kasihan. Mereka adalah subjek pembangunan, pejuang ekonomi, dan bagian dari identitas sosial bangsa. Tugas kita bukan sekadar membantu mereka bertahan hidup, tetapi menciptakan kondisi agar mereka dapat bertumbuh, berdaya, dan memiliki masa depan. Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika kerja keras tidak berhenti pada kemampuan membeli makan hari ini, tetapi membuka peluang untuk memberikan pendidikan yang lebih baik kepada anak, memperoleh kehidupan yang lebih layak, memiliki rasa aman, dan membangun masa depan yang bermartabat.



