Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA (Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada sebuah peristiwa yang viral di media sosial. Sebuah kericuhan terjadi di dalam rangkaian KRL ketika seorang penumpang diduga menolak menurunkan payung yang digantung pada handgrip gerbong. Awalnya persoalan tampak sederhana. Namun setelah mendapat teguran dari petugas keamanan, situasi berkembang menjadi adu mulut hingga dugaan pemukulan terhadap petugas. Peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik besar tidak selalu bermula dari masalah besar. Dalam perspektif psikologi, sering kali konflik sosial justru dipicu oleh hal-hal kecil yang menyentuh harga diri, ego, dan kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi. Pertanyaan yang menarik untuk dikaji adalah mengapa sebuah teguran sederhana dapat berkembang menjadi pertengkaran bahkan kekerasan?
Ketika Ego Lebih Besar daripada Masalahnya
Dalam psikologi sosial dikenal konsep ego defensif. Menurut Baumeister (1996), sebagian individu memandang kritik atau teguran sebagai ancaman terhadap harga dirinya. Akibatnya, mereka bereaksi bukan terhadap isi teguran, tetapi terhadap perasaan “direndahkan” yang muncul akibat teguran tersebut. Pada kasus KRL ini, persoalan sebenarnya bukanlah payung yang digantung. Masalah muncul ketika individu merasa bahwa otoritas petugas dianggap mengganggu kebebasan pribadinya. Akibatnya terjadi perlawanan yang semakin meningkat. Fenomena ini sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yaitu pengendara yang marah saat ditilang polisi, penumpang yang menolak antre, pelanggan yang memarahi petugas layanan dan pengguna media sosial yang menyerang pihak lain saat dikoreksi. Dalam banyak kasus, sumber konflik bukan aturan itu sendiri, melainkan ego yang terluka.
Teori Frustrasi-Agresi
Dollard dan Miller (1939) melalui Teori “Frustrasi-Agresi” menjelaskan bahwa hambatan terhadap keinginan seseorang dapat memunculkan kemarahan yang kemudian diekspresikan dalam bentuk agresi. Penumpang mungkin memiliki keinginan untuk tetap mempertahankan tindakannya. Ketika keinginan tersebut dihambat oleh petugas, timbul frustrasi yang kemudian berubah menjadi perilaku agresif. Semakin rendah kemampuan seseorang mengelola frustrasi, semakin besar kemungkinan muncul perilaku menyerang, baik secara verbal maupun fisik.
Rendahnya Self-Control dalam Situasi Sosial
Gottfredson dan Hirschi (1990) menjelaskan bahwa individu dengan kontrol diri rendah cenderung sulit menerima aturan, mudah marah, bertindak impulsive, mengutamakan kepuasan sesaat, mengabaikan konsekuensi jangka panjang. Dalam kondisi gerbong yang padat, panas, dan penuh tekanan, kemampuan pengendalian diri menjadi sangat penting. Ketika kontrol diri melemah, emosi dapat mengambil alih logika. Padahal satu tindakan emosional yang berlangsung beberapa detik dapat menimbulkan konsekuensi hukum, sosial, dan psikologis yang berlangsung bertahun-tahun.
Efek Kerumunan dan Tekanan Sosial
Psikologi sosial juga mengenal konsep “crowd effect” atau efek kerumunan. Kehadiran banyak orang dapat meningkatkan tekanan psikologis pada individu. Ketika konflik terjadi di hadapan banyak penumpang, seseorang dapat merasa harga dirinya dipertaruhkan. Dalam kondisi demikian, sebagian orang justru menjadi semakin keras untuk mempertahankan posisinya meskipun sebenarnya menyadari dirinya keliru. Fenomena ini disebut escalation of commitment, yaitu kecenderungan mempertahankan tindakan yang salah karena tidak ingin terlihat kalah atau malu di depan orang lain.
Mengapa Banyak Orang Sulit Menerima Teguran?
Menurut teori “Emotional Intelligence” dari Daniel Goleman (1995), kemampuan menerima kritik merupakan bagian dari kematangan emosi. Orang yang matang secara emosional mampu untuk memisahkan kritik terhadap perilaku dari kritik terhadap dirinya sebagai pribadi, mendengarkan sebelum bereaksi, mengendalikan kemarahan, dan mempertimbangkan konsekuensi tindakannya. Sebaliknya, individu yang kurang matang secara emosional cenderung menganggap setiap teguran sebagai penghinaan sehingga merespons secara defensif.
Perspektif Islam: Taat Aturan dan Menahan Amarah
Islam mengajarkan pentingnya mematuhi aturan yang bertujuan menciptakan kemaslahatan bersama. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri (pemegang otoritas) di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 59). Dalam konteks transportasi umum, aturan yang dibuat petugas bertujuan menjaga keselamatan dan kenyamanan seluruh pengguna layanan. Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan melawan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri ketika emosi memuncak.
Pelajaran Psikologis dari Sebuah Payung
Kasus ini memberikan pelajaran penting bahwa perilaku manusia sering kali ditentukan bukan oleh besar kecilnya masalah, melainkan oleh cara individu merespons masalah tersebut. Payung yang digantung di handgrip sebenarnya hanyalah pemicu. Akar persoalan yang lebih dalam adalah ego yang defensive, rendahnya kontrol diri, ketidakmampuan menerima koreksi, kesulitan mengelola frustrasi, dan rendahnya kesadaran bahwa ruang publik membutuhkan kepatuhan terhadap aturan bersama.
Upaya Preventif
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain, Pada Tingkat Individu hendaknya melatih pengendalian emosi, mengembangkan kemampuan menerima kritik, dan membiasakan berpikir sebelum bereaksi, Pada Tingkat Keluarga hendaknya menanamkan disiplin sejak kecil dan mengajarkan penghormatan terhadap aturan dan petugas. Pada Tingkat Masyarakat hendaknya membudayakan etika ruang public, mengedukasi pentingnya keselamatan bersama dan mengurangi budaya merasa selalu benar.
Akhirnya penting dipahami bahwa kericuhan di dalam KRL yang dipicu oleh persoalan sederhana menunjukkan bahwa masalah terbesar dalam kehidupan sering kali bukan berasal dari situasi eksternal, melainkan dari ketidakmampuan manusia dalam pengendalikan dirinya sendiri. Dalam perspektif psikologi, kematangan seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia mempertahankan keinginannya, tetapi dari kemampuannya menerima aturan, mengelola emosi, dan menghormati hak orang lain. Ketika kesadaran tersebut tumbuh, ruang publik akan menjadi lebih aman, nyaman, dan beradab bagi semua.



