RADAR24.co.id — Salahsatu orangtua korban terduga keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mengaku kesulitan memenuhi biaya perawatan anaknya.
Icuk Sugiarto Purba, ayah dari Febiola Br Purba, mengatakan bahwa anaknya saat ini masih menjalani perawatan intensif dan mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen.
“Kami sejujurnya agak kesulitan dengan biaya, karena tidak mungkin hanya makan saja. Kadang-kadang harus membeli kebutuhan anak kami,” kata Icuk, dikutip dari IDN Times Minggu (6/9/2026).
Sejak 13 Agustus 2026, Febiola sudah dirawat di lima rumah sakit. Diawali dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, dan saat ini dirawat di RS Amanda, Karo.
Direncanakan Senin (7/9/2026), Febiola akan dirujuk kembali ke RSUP Adam Malik, Medan.
“Anak saya menurut dokter itu perawatannya tidak sebentar. Dokter bilang harus dirawat selama setahun penuh, setiap seminggu sekali,” ujarnya.
Icuk menuturkan, kondisi Febiola saat ini seperti anak usia 3 tahun. Korban tidak mengenali teman sekelas, guru, bahkan adik dan barang-barang miliknya sendiri.
“Ya semuanya dia lupa. Contohnya, teman-teman sekelasnya dia lupa. Waktu kami pulang dari rumah sakit Haji, dia bertemu sama adiknya, dan saya bapaknya dia sudah tidak kenal. Padahal mereka itu duduk sama-sama,” tuturnya.
Febiola merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Untuk memenuhi kebutuhan pengobatan, keluarga harus membeli susu khusus dua kali seminggu dengan harga Rp180.000 per sekali beli. Selain itu, makanan dan vitaminnya juga harus dijaga sesuai anjuran dokter.
“Kalau tidak ada pemasukan, tapi pengeluaran terus sampai kapan kalau begini terus. Saya tidak sanggup kalau melihat kondisi anak saya itu,” kata Icuk.
Ia mengaku, sejauh ini bantuan yang diterima hanya dari forum, sekolah, dan sumbangan. Sementara bantuan langsung dari pemerintah belum ada.
Icuk berharap pihak penyelenggara program MBG dan aparat hukum bertanggung jawab atas kejadian ini.
“Pesan saya, semoga pihak-pihak tersebut bisa bertanggung jawab atas masalah ini. Agar memberikan perawatan dan pengobatan terbaik kepada anak saya, dan mengarahkan kepada dokter-dokter yang terbaik,” harapnya.
Ia juga meminta program MBG dievaluasi agar tidak ada lagi korban.
“Ya, harapan saya sebetulnya program MBG itu sangat bagus. Tapi karena sudah ada korban-korban seperti ini, anak-anak SMA, SMP, ini tidak diinginkan mereka menjadi korbannya. Jadi itu sudah kelalaian,” tegasnya.
Berdasarkan keterangan dokter, kata Icuk, ada dua kemungkinan penyebab sakit yang diderita Febiola, yaitu bakteri atau racun jamur. Hasil pasti akan diketahui dalam 10 hari hingga 2 minggu ke depan.
“Sekarang kondisi anak saya ini, kalau tidak racun, ada bakteri beracun. Untuk saat ini sudah Rp3,5 juta yang keluar itu pun hasil tabungan kami selama ini,” ucapnya.
Hingga saat ini pihak keluarga mengaku belum membuat laporan resmi ke pihak berwajib. Icuk mengaku saat ini fokus pada perawatan anaknya. Sementara itu, istri dan dirinya terpaksa tidak bekerja untuk mendampingi Febiola berobat.
“Kami sudah tidak kerja, kami mau makan dari mana kalau menjaga anak kami terus. Saya kerja buruh tukang kebun orang. Mamaknya jualan kerupuk-kerupukan dekat sekolah,” pungkasnya.
Baca selengkapnya disini



