RADAR24.co.id — Konsumsi minyak bumi dan gas bumi (migas) masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan langkah masif berupa peningkatan investasi eksplorasi dan eksploitasi migas, sekaligus pengoptimalan produksi di lapangan-lapangan yang sudah beroperasi.
Berdasarkan data SKK Migas, potensi cadangan minyak bumi Indonesia mencapai 2,10 miliar barel minyak (BBO), sedangkan potensi cadangan gas bumi mencapai 21,07 triliun kaki kubik (TCF).
Kepala Departemen Komunikasi SKK Migas, Hadariat Kuncara Zakty, menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan sosialisasi peningkatan pemahaman insan pers tentang industri migas yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi OSES di Namu Hejo, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/9/2026).
“Indonesia memiliki potensi migas yang sangat besar, membentang dari Sabang, Aceh, hingga Merauke, Papua Selatan. Bentang darat dan laut Nusantara menyimpan ratusan cekungan geologis yang mengandung hidrokarbon,” ujarnya.
Hadariat menjelaskan bahwa terdapat 128 cekungan geologis yang mengandung migas di Indonesia. Rinciannya:
– 20 cekungan sudah berproduksi (Producing Basin)
– 65 cekungan belum dieksplorasi (Unexplored Basin)
– 27 cekungan telah ditemukan indikasi cadangan (Discovery Basin)
– 5 cekungan memiliki prospek dengan bukti sumber daya minyak
– 3 cekungan menunjukkan indikasi kandungan hidrokarbon
– 8 cekungan telah memiliki data geologi dan geofisika
“Potensi migas di Indonesia menawarkan peluang investasi hulu terbesar di kawasan Asia Pasifik. Cekungan kita masih sangat banyak. Jika eksplorasi dilakukan secara masif, potensi energi fosil di dalamnya dapat dimaksimalkan,” tegas Hadariat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa migas termasuk energi tak terbarukan, sehingga diversifikasi sumber energi tetap perlu dilakukan.
PHE OSES: Produksi 18.000 Barel Minyak Per Hari
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore Southeast Sumatera (OSES) — anak usaha PT Pertamina Hulu Energi — mengelola wilayah kerja seluas 6.115,95 km² dengan 31 sumur migas, yang meliputi perairan Kepulauan Seribu, Lampung Timur, Banten, hingga Bangka Belitung. Perusahaan terus melakukan optimalisasi produksi, antara lain melalui program injeksi untuk mendorong minyak ke permukaan.
Head Comrel & CID PHE OSES, Danya Dewanti, menjelaskan bahwa pada kuartal I–2026, PHE OSES mencatatkan produksi:
– Minyak: 18.000 barel per hari (MBOPD)
– Gas: 42,57 juta kaki kubik per hari (MMSCFD)
Proyek-Proyek Hulu Migas Baru Beroperasi
Pemerintah telah meresmikan sejumlah proyek hulu migas strategis guna memperkuat pasokan energi nasional, antara lain:
1. Proyek Terubuk & Forel
Diresmikan Presiden Prabowo Subianto, 16 Mei 2025
– Lokasi: Lepas pantai Natuna, WK South Natuna Sea Block B
– Operator: Medco E&P (Natuna Sea) B.V.
– Investasi: ±US$600 juta
– Target produksi: 20.000 BOPD minyak + 60 MMSCFD gas
2. Lapangan Banyu Urip (BUIC)
Diresmikan Presiden Prabowo Subianto, 26 Juni 2025
– Lokasi: WK Cepu (Jawa Timur–Jawa Tengah)
– Operator: ExxonMobil Cepu Ltd. (bekerja sama dengan Pertamina EP)
– Investasi: ±US$203,5 juta
– Target produksi: 30.000 BOPD minyak
3. Proyek Hidayah
Diresmikan Wamen ESDM Yuliot Tanjung, 9 Januari 2025
– Lokasi: Lepas pantai Madura, WK North Madura II
– Operator: Petronas Carigali North Madura II Ltd.
– Investasi: ±US$926 juta
– Cadangan yang akan diproduksi: 88,55 juta barel minyak (MMSTB) hingga 2041
4. Proyek Akatara
Diresmikan Wamen ESDM Yuliot Tanjung, 14 April 2025
– Lokasi: Jambi, WK Lemang
– Operator: Jadestone Energy (Lemang) Pte. Ltd.
– Investasi: ±US$130 juta
– Target produksi: 25,5 MMSCFD gas, 185 ton metrik/hari LNG, dan 1.098 barel/hari kondensat
Investasi, Kunci Ketahanan Energi
Konsumsi energi migas diproyeksikan terus meningkat. Oleh karena itu, memperkuat produksi dalam negeri menjadi prioritas utama. Dengan menarik lebih banyak investasi, Indonesia berpeluang mengurangi defisit pasokan BBM sekaligus menambah pendapatan negara — yang pada akhirnya diperuntukkan bagi kemakmuran rakyat.
Kunci utama untuk menarik investasi migas yang lebih besar adalah menawarkan peluang yang jelas serta memperbaiki dan menyederhanakan prosedur perizinan investasi.



