RADAR24.co.id — Nilai tukar rupiah terus tertekan dan melemah tajam terhadap Dolar Amerika Serikat, hingga pada Sabtu (16/5/2026) menyentuh angka di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.614 per satu dolar. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik soal dampaknya terhadap ekonomi nasional dan daya beli masyarakat. Menanggapi hal itu, Presiden Prabowo Subianto memberi tanggapan santai dan meyakinkan rakyat tidak perlu cemas berlebihan, terutama bagi warga di pedesaan .

Dalam sambutannya saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Museum Ibu Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Prabowo menegaskan bahwa gejolak nilai tukar itu tidak serta-merta mengganggu kehidupan masyarakat luas, khususnya yang tinggal di desa.

“Mau dolar berapa ribu pun, kalian yang di desa-desa enggak pakai dolar kok. Orang rakyat di desa itu transaksinya pakai rupiah, tukar barang, memenuhi kebutuhan sendiri. Yang pusing dan khawatir itu biasanya yang suka ke luar negeri atau yang berbisnis pakai valas,” ujar Prabowo disambut gelak tawa hadirin .

Ia menilai, banyak pihak yang berlebihan menyikapi pelemahan rupiah, bahkan ada yang menyebut ekonomi Indonesia bakal ambruk atau kacau balau. Menurut dia, pandangan itu tidak tepat karena kondisi ekonomi dalam negeri sebenarnya masih kokoh, ditandai ketersediaan pangan dan energi yang aman serta terjaga .

“Sering sekali saya dengar: ‘Waduh rupiah begini, dolar begini, Indonesia bakal kolaps, bakal kacau’. Saya heran, dari mana datanya? Pangan kita aman, energi kita aman, stok barang cukup. Banyak negara lain justru sedang panik, tapi kita masih oke,” tegasnya .

Kepala Negara juga menyinggung kesiapan jajarannya mengelola situasi ini. Ia menunjuk Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang turut hadir di lokasi.

“Purbaya sekarang populer sekali. Tapi selama Pak Menteri masih bisa senyum, tenang saja, tidak usah khawatir. Artinya semua masih terkendali dan dipegang kuat,” ucap Prabowo berkelakar .

Prabowo meyakinkan, fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat dan pemerintah terus menjaga kestabilan. Menurutnya, tekanan nilai tukar lebih banyak dipengaruhi kondisi ekonomi global, bukan semata masalah dalam negeri.

“Ekonomi kita kuat, pondasi kita kuat. Mau orang luar ngomong apa saja, Indonesia tetap tegak dan mampu menjaga dirinya sendiri,” tambahnya.

Meski begitu, pengamat ekonomi mengingatkan bahwa meski warga desa tidak bertransaksi pakai dolar, pelemahan rupiah tetap punya dampak berantai, seperti kenaikan harga pupuk, bahan bakar, dan barang kebutuhan pokok yang sebagian bahan bakunya masih impor.

Sementara itu, publik menanti langkah lanjut Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan untuk menstabilkan kembali nilai tukar agar tidak semakin memberatkan biaya hidup masyarakat.